
Mona mendekati anaknya seraya menampar Angela dengan sangat kuat, suara tamparan yang menggema mangejutkan Farel. "Dasar ******, kenapa kamu melakukan ini? cepat katakan! kamu sudah membuat Mommy dan Daddy malu atas tindakan yang sangat menjijikkan. Dan siapa pria ini?" tunjuk Mona memarahi Angela di hadapan semua orang, karena dia tidak ingin namanya terseret sebagai dalang.
Angela sangat terkejut dengan Ibu yang memarahinya, padahal semua rencana berasal darinya. Angela tak kuasa menahan air matanya, menutupi tubuh polosnya dengan selimut. Sementara Farel mendekati Angela dan mencengkram dagunya, seraya menampar putrinya di pipi kiri dan juga kanan, hingga meninggalkan bekas di salah satu sudut bibirnya.
"Bisa-bisanya kamu melakukan hal yang menjijikkan ini, Dad tidak menyangka jika kamu semurahan ini. Pergi dari apartemen ini," pekik Farel yang mengusir Angela.
Mona melirik Farel dengan tajam, mendekati Abian dan memohon pengampunan dari sikap putrinya yang memalukan, berharap Abian mengampuni Angela. "Nak, maafkan sikap dan perbuatan adikmu yang kurang ajar. Mom mohon kepadamu, untuk tidak mengusir Angela."
Abian memutar bola matanya karena bosan melihat drama di depannya, memberikan kode kepada pria asing untuk keluar dari kamar. Abian tertawa dengan sangat mengerikan, membuat Mona, Farel, dan Angela menatap bingung.
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Mona yang memiringkan kepalanya.
"Karena kalian sangat lucu, sudah hentikan sandiwara dan akting kalian yang memuakkan ini," ucap Abian yang menatap mereka dengan tajam.
"A-apa maksud mu, Nak?" tanya Mona.
"Itu akibatnya jika kalian bermain-main dengan ku, senjata makan tuan."
"Kami tidak mengerti," kilah Mona yang sangat sempurna.
"Benarkah?" ujar Abian yang tersenyum devil, mendekati Mona seraya mengeluarkan pisau lipatnya dari saku celana, membuat keringat di dahi Mona semakin mengucur dengan keras.
"Jangan bermain dengan pisau, itu sangat berbahaya," ucap Mona yang terus mundur, hingga tidak bisa mundur karena terhalang dinding.
"Sepertinya kalian masih tidak mengaku ya, aku akan membuat pisau ini menjawab semuanya," tegas Abian yang menggores sedikit leher Mona.
"Aaargh....sakitt, baik aku akan mengaku. Sebenarnya itu adalah rencana Angela yang menyukaimu, aku sudah melarangnya untuk tidak melakukan hal yang menjijikkan itu," ucapan dari Mona membuat Angela tak habis pikir dan kecewa dengan wanita yang sangat dia sayangi. Abian tersenyum tipis, dan melemparkan pisau itu tepat mengenai jantung Angela. Mona dan farel sontak terkejut dan tidak bisa melakukan apa-apa, "maafkan Mommy, ini semua untuk melindungi nyawa Mommy yang tidak ingin mati dengan cepat," batin Mona yang menatap mayat Angela.
"Itu akibatnya, jika ada yang bermain denganku."
"Apa itu artinya kami masih boleh tinggal di sini?" tanya Mona dan di angguki kepala oleh Farel dengan cepat.
"Sangat menjijikkan, sampah tetap lah sampah. Jangan kalian mengira jika aku tidak mengetahui apa yang sudah kalian rencanakan, dan kamu wanita tua!" ucap Abian yang menunjuk Mona dengan tatapan elang miliknya.
"Apa maksudmu?" jawab Mona yang sedikit gugup.
"Kamu dan anakmu telah berencana untuk menjebakku dengan obat perangsang di dalam minuman itu, untungnya aku sangat jeli melihat tindakan kalian. Semakin tua semakin licik! aku sudah tau niat kalian dari awal yang tidak tau malu itu. Bagaimana dengan permainan dariku? apa kalian menyukainya?" ucap Abian yang di iringi tertawa menyeramkan.
"T-tidak, aku tidak terlibat sama sekali," kilah Mona membuat Abian mengambil pisau yang tertancap di tubuh Angela, seraya menghirup darah yang menempel di pisau itu. Mona sangat takut, sedangkan Farel hanya diam tidak bisa berbuat apa-apa.
Abian menatap tajam Farel dan mendekatinya dengan sekujur tubuh penuh dengan darah. Farel sangat takut melihat Abian yang sangat berbeda, dan terlihat seperti pria berdarah dingin.
"Dan kamu pak tua! selama kamu tinggal di sini, telah mengambil hartaku secara diam-diam. Aku sangat tidak beruntung mempunyai keluarga sampah seperti kalian, haus akan harta," kata Abian yang menghirup aroma darah dari Ibu dan Adik tirinya.
Farel mundur dengan cepat, tapi terlambat karena Abian menusukkan pisaunya di pergelangan kaki Farel, "ini lah saatnya aku membalaskan dendamku," tutur Abian yang menusuk jantung Farel berkali-kali. Darah segar yang mengenai wajahnya membuat Abian tertawa bahagia.
****
Lea sangat kesal dengan Lucifer yang selalu berada di sisinya saat di sekolah, "berhenti mengikutiku," ketus Lea yang mendorong tubuh Lucifer.
"Tidak, aku akan melindungimu."
"Kamu bukan melindungiku, tapi menguntitku kemana pun aku pergi," pekik Lea yang menuju toilet sekolah.
Lucifer mengikuti Lea hingga ke toilet, dengan kesal Lea mengetuk kepala Lucifer menggunakan tangannya.
"Heh bodoh, ini toilet wanita. Apa kamu juga mengikutiku hingga kesini? aku sudah tidak tahan, pergilah dari sini," usir Lea.
"Jika perlu aku akan masuk ke dalam," sahutnya dengan santai. Lea yang sangat geram, menendang bokong Lucifer hingga tersungkur dan dengan cepat Lea mengunci pintu toilet.
"Hah, hidupku sekarang tidak tentram dan damai lagi. Semenjak pria aneh itu mengikutiku, aku harus bagaimana? hobi ku tertunda olehnya. Ok Lea, sekarang lupakan dia dan kembali mengoleksi foto pria tampan yang bertelanjang dada," batin Lea yang tersenyum. Dia mencari cela agar bisa terhindar dari Lucifer, untungnya Lea sangat ahli dalam menyamar membuatnya dengan mudah menipu Lucifer yang menunggu di luar toilet.
Lea bersorak gembira dan melihat pertandingan basket yang berisi pria tampan, "wah mereka sangat tampan, apalagi di saat berkeringat. Menambah nilai plus di mataku, aku sangat bersemangat dengan ini," batin Lea yang membayangkan nya.
"Hai," sapa pria tampan yang duduk di samping Lea.
"Hai," balas Lea yang melirik pria itu yang tak lain adalah Boy, pria tampan yang menyukai Lea.
"Sudah lama aku tidak melihat mu ada di sini?"
"Iya, karena aku sangat sibuk dengan rutinitasku. Tapi mau bagaimana lagi, aku sangat menyukai permainan basket," jawab Lea.
"Lebih tepatnya melihat para pria tampan yang berkeringat, terlihat sangat seksi," batin Lea yang tersenyum.
"Ehem," seseorang berdehem membuat Lea dan Boy mendongakkan kepala, dia duduk di sebelah Lea dengan menatap tajam ke arah Boy. Sementara Lea memajukan bibirnya seraya menggembungkan kedua pipinya, terlihat menggemaskan.