Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 76


Antoni menatap bingung dengan keluarga yang menurutnya sangat aneh, "kenapa kamu masih berdiri di situ, cepat pergilah. Dasar perusak suasana," ucap Nathan yang mengusir.


"Tanpa di minta, aku juga akan pergi," gerutu Antoni yang keluar dari ruangan itu.


"Baguslah, akhirnya kamu sadar diri." Ucapan Nathan membuat Antoni terus saja mengumpat di sepanjang jalan.


Nathan tak henti-hentinya memeluk Dita dengan sangat erat, "terima kasih Sayang, telah memberi kebahagian yang berlipat ganda untukku."


Dita membalas pelukan dari suaminya dan tersenyum, akhir dari kesabaran nya berbuah manis. Twins L menghampiri Ayah dan Ibunya, memeluk mereka sebagai pelengkap.


"Mulai sekarang kamu tidak boleh melakukan hal apa pun yang dapat membuatmu lelah, terutama pergi ke butik," ucap Nathan yang melepaskan pelukannya.


"Jangan berlebihan, Sayang. Aku tetap menjalankan aktivitasku seperti biasa," tolak Dita.


"Tidak bisa, kamu sedang hamil. Aku tidak ingin kamu kelelahan, yang berakibat buruk pada calon anak kita," Nathan memberi pengertian kepada Dita dan mengelus perutnya.


"Mana adik kami?" penuturan Al membuat Dita dan Nathan saling menatap sembari tertawa.


"Tunggu 9 bulan 10 hari lagi ya, Sayang!" jawab Dita yang mengelus pucuk kepala Al.


"Selama itu? bisakah kami melihatnya sekarang?" tutur El yang tersenyum pepsodent.


"Bersabarlah hingga waktu nya tiba. Dan Ayah peringatkan kepada kalian berdua untuk selalu menjaga Ibu. Jangan sampai Ibu kalian kelelahan atau melakukan aktivitas yang melelahkan, " pinta Nathan dengan tegas.


"Baik ayah," jawab mereka dengan kompak. Semenjak saat itu, Nathan dan twins L menjadi overprotektif dan posesif kepada Dita.


Nathan memberikan kabar kepada semua orang, mereka sangat bahagia yang sebentar lagi anggota keluarga Wijaya bertambah.


Trimester pertama membuat Nathan sangat tersiksa dengan keadaan Dita yang hamil, bagaimana tidak? Dita selalu menolak keberadaannya yang tidur di sebelah sang istri, membuat Nathan berpuasa dan mengungsi di kamar yang lain.


"Ck, lagi dan lagi aku harus tidur di kamar lain. Mau sampai kapan aku jauh dengan istriku! ini sudah masuk ketiga minggunya si perkutut tidak masuk ke dalam sangkarnya," gerutu Nathan yang mengungsi di kamar tamu.


Nathan tidak bisa tidur akibat lamanya berpuasa, hingga dia merencanakan sesuatu untuk membuat si perkutut merasakan sensasi yang sudah lama tidak dia rasakan. Ide yang sangat sempurna dengan senyum yang menyeringai, tapi di balik itu sudah berdiri Al dan El yang bersembunyi dari balik pintu.


"Eh, kenapa Ayah tersenyum begitu? apa Ayah merencanakan sesuatu?" ujar El yang melirik kakaknya.


"Aku rasa begitu, ini sangat mencurigakan." Al menyipitkan kedua matanya.


"Apa kamu tau apa yang ada di otakku," tutur El yang tersenyum jahil.


"Sebelum kamu memikirkannya, aku sudah tau apa yang kamu pikirkan dan mengetahui niat mu itu," jawab Al yang menatap El dengan jengah.


"Itu bagus, misi ini ku beri nama MISI KESIALAN AYAH," celetuk El yang sangat antusias.


Nathan mengintip dari sela-sela pintu kamarnya, membuka pintu secara perlahan setelah melihat situasi yang sekiranya aman. Jalan mengendap-endap menghampiri Dita yang sudah tertidur, tidak menghilangkan kesempatan itu.


Nathan tidak sabar untuk mencium bibir Dita dengan bersemangat, memajukan bibirnya dan menutup mata. Bukan benda kenyal yang dia peroleh, melainkan pukulan mendarat di wajahnya yang tampan.


"Mengambil kesempatan dalam kesempitan, tubuhmu sangat bau. Bukan kah aku sudah melarangmu untuk kesini?" ucap Dita yang menutupi hidungnya.


Dita tidak menjawab kebingungan suaminya, dengan cepat Dita berdiri dan menyeret Nathan untuk keluar dari kamar itu, "keluarlah dari sini, bau mu membuat aku sangat mual," keluh Dita.


"Sayang, jangan begitu. Bagaimana dengan nasib si perkututku ini? ini sudah 3 minggu, dan sebentar lagi akan lumutan. Ayolah, sekali saja!" bujuk Nathan yang mengetuk pintu kamar yang telah di kunci.


Twins L tertawa dengan ekspresi Nathan yang sangat memprihatinkan, Nathan menyadari jika ada yang tidak beres di sini. "Sejak kapan kalian di situ?" ketus Nathan.


"Entahlah, kami tidak mengingatnya dengan jelas, ada apa dengan mu, Ayah?" tanya Al.


"Ya sudah, kembalilah ke kamar kalian." Nathan sangat mengenal kedua putranya dengan baik, ini pasti ada kaitannya dengan Dita yang bangun.


"Ck, seperti biasa aku harus menidurkan si perkutut ku yang malang ini. Bersabarlah untuk diriku sendiri," batin Nathan yang menguatkan dirinya.


Semenjak kehamilan Dita di sebar, Nathan sangat jarang masuk ke kantor. Daniel merutuki Nathan dengan sumpah serapah, "Nathan sialan, aku tidak bisa menghabiskan waktu bersama Nurma akibat ulahnya. Berkas-berkas ini membuat mata ku sakit, oh tuhan...."


Dita yang turun dari tangga, melihat pria tampan yang mengenakan seragam loreng. Mata Dita berbinar saat melihat Bara yang tersenyum, Nathan yang melihat hal itu tidak menyukainya.


"Jangan tersenyum padanya," ketus Nathan yang menuntun Dita untuk turun tangga seraya menutup mata sang istri.


"Jangan menutup mataku," gerutu Dita yang menepis tangan Nathan dengan kasar, membuat Bara tersenyum kemenangan.


"Wah....wah sepertinya pesonamu kali ini menurun, bahkan istrimu menatapku dengan kagum. Sudah jelas, jika akulah yang paling tampan di sini," ujar Bara dengan bangga. Dita selalu saja menatap Bara tanpa henti, entah mengapa dengan dirinya saat ini. Nathan sangat jengkel dengan itu, membuatnya selalu cerocos mengomeli Bara.


"Ayo kita berfoto, aku akan memajangnya di dalam kamarku," ajak Dita yang duduk di sebelah Bara.


"Aku tidak masalah dengan itu, bagaimana dengan orang itu," jawab Bara yang melirik Nathan.


"Tidak boleh, sebaiknya kita foto berdua saja. Bagaimana?" tawar Nathan.


"Tidak, aku hanya ingin bersama Bara," tolak Dita yang menggelengkan kepala dengan cepat.


"Aku ini suami mu, sedangkan dia hanya orang asing."


"Apa kalian membicarakan untuk foto? kami juga ingin di foto," sambung El yang sudah rapi dengan pakaian sekolahnya.


"Baiklah, ayo kita berfoto bersama. Dan kamu, tolong ambilkan foto kami ya," ucap Bara yang memberikan ponselnya kepada Nathan dengan raut wajah yang cemberut. Tak lama mereka selesai berfoto ria, terdengar suara Naina yang mengalihkan perhatian mereka.


"Honey, kamu datang terlalu cepat hari ini?" ujar Naina yang menghampiri kekasihnya.


"Benar, berikan kecupan pipi sebagai hadiah untukku."


"Jangan harap itu bisa terjadi," ketus Nathan yang sangat jengkel dengan Bara.


"Jangan mengurusi urusanku," sahut Bara tanpa menoleh.


Naina mencium pipi Bara, dengan cepat Bara mengubah posisinya dan tepat mengenai bibir mereka yang saling bersentuhan. Sementara Dita menutup kedua mata twins L dengan tangannya. Nathan sangat kesal dengan keromantisan Bara dan Naina, hingga bantal kecil itu melayang tepat mengenai wajah Bara.


"Oho ternyata buah jatuh tak jauh dari pohonnya, setelah anaknya yang mengacau dan sekarang Ayahnya," cibir Bara. Dan sekali lagi, lemparan bantal mengenai wajah Bara. Dan itu bukan berasal dari Nathan melainkan El yang kesal dengan ucapan Bara.