
Al menatap mata Shena dengan dalam, dengan cepat merubah posisinya yang sekarang telah berada di atas Shena. Gadis itu terlihat ketakutan saat Al mulai membuka kacing kemejanya satu persatu, "hei kera mesum, apa yang kamu lakukan?" ucap Shena yang sangat gugup.
"Kenapa? apa kamu takut? nikmati saja, bukankah kamu sendiri yang masuk ke dalam kamarku?" ucap Al yang melempar kemejanya sembarang arah, terlihat dengan jelas perut sixpack milik Al yang sangat menggoda itu. Shena menelan saliva dengan susah payah, berusaha lepas dari cengkraman Al yang sangat kuat.
"Kamu benar-benar kera mesum, menyingkirlah dariku!" pekik Shena.
"Kamu menyebutku dengan kera mesum kan, maka aku perlihatkan bagaimana tingkat kemesuman ku," ucap Al yang menatap Shena dengan tajam.
"Ya tuhan, apa ini? pria ini benar-benar tidak waras," batin Shena.
"Seseorang di luar tolong bantu aku keluar dari sini," teriak Shena yang membuat Al tertawa sangat keras.
"Dasar bodoh, tidak akan ada yang mendengarkan teriakan mu. Kamar ini di fasilitasi dengan peredam suara," tutur Al yang tersenyum tipis.
Tak kehabisan akal, hanya ada satu rencana agar terlepas dari Al. Shena tersenyum seakan mendapatkan ide brilian yang dia pelajari saat menonton film kesukaan nya.
"Semoga saja ini berhasil, jika gagal maka tamatlah riwayatku," batin Shena.
Shena melingkarkan tangannya di pinggang Al, dan tersenyum menggoda serta kedipan matanya sembari melirik Al, dengan terpaksa Shena mengecup bibir Al. Aksi berani dari Shena membuat Al gugup yang melihat Shena yang menaikkan hasrat nya sebagai pria normal.
"Eh, kenapa dia tidak takut lagi saat aku mengancamnya? dia bahkan berani menggoda ku dan mengecup bibirku?" batin Al yang tidak berkedip menatap gadis yang dia tindih.
Tiba-tiba pintu terbuka, membuat Shena dan Al mengalihkan perhatian mereka menatap sang pelaku yang tak lain adalah El dan juga Kenzi yang membuka pintu kamar Al dengan menggunakan kunci cadangan.
El dengan cepat menutup mata Kenzi, "kalian sudah berbuat dosa apalagi mataku dan juga Kenzi ternodai dengan perilaku kalian," ucap El dengan keras mengundang seluruh anggota keluarga menghampiri asal suara.
Al segera berdiri dan juga Shena merapikan pakaiannya yang kusut karena ulah Al yang menindihnya. Belum sempat Al memasang wajahnya, terlihat kedua orang tuanya dan juga kedua orang tua Shena melihat kejadian itu, bahkan Bara dan Naina juga ada di sana.
Al seakan mati kutu dengan kejadian itu, dia ingin menjelaskan yang sebenarnya hanya kesalahpahaman saja. Tapi dengan cepat Nathan menghentikan Al yang ingin membuka suara.
Semua keluarga duduk di ruang tengah, menatap Shena dan Al dengan seksama. Dita terus menangis dengan perbuatan Al yang tidak memikirkannya sebagai Ibu yang juga seorang wanita.
Daniel berjalan mendekati pria malang itu dan memukulnya dengan sangat keras, "berani sekali kamu menodai putri semata wayangku," ucap Daniel yang meninggikan suaranya, Nurma menangis dengan nasib Shena.
"Kami tidak melakukan apapun," jawab Al yang membela dirinya.
"DIAM," tegas Nathan.
Dita berjalan menghampiri Nurma, dia meminta maaf karena kesalahan Al yang tidak bisa di maafkan. Al menatap Shena yang juga menangis membuatnya semakin geram dengan situasi saat ini, "jangan menangis, katakan kepada semua orang dan jelaskan kesalahpahaman ini."
"Dasar anak kurang ajar, berani sekali kamu membentak putriku, aku sendiri tidak pernah membentaknya," ucap Daniel yang menjitak kepala Al dengan keras.
Nathan menghela nafas dengan kasar sembari menatap putra sulungnya, "aku sebagai orang tua dari Al ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada Daniel dan juga keluarganya. Aku meminta maaf atas tindakan yang memalukan ini kepada kalian," kata Nathan yang menyatukan kedua tangannya menatap Daniel dengan nanar.
"Aku tidak bisa memaafkan anakmu yang telah menodai anak ku," protes Daniel yang meninggikan suaranya menatap Nathan dengan tajam.
"Tapi aku tidak melakukan apapun," celetuk Al yang ingin membela dirinya yang tersudutkan.
"Apa kamu mempunyai dendam kepada ku? kalian hanya salah paham saja, bukan itu yang terjadi."
"Apa maksudmu?" ucap Daniel yang menarik kerah leher Al.
Al kebingungan untuk menjelaskan kepada seluruh anggota keluarga, mana mungkin dia mengatakan pernah melihat tubuh polos Shena, bisa-bisa semua orang kembali salah paham dengannya.
Semua orang menatap Al sambil menunggu jawaban dan penjelasan dari Al yang hanya terdiam, membuat Daniel kembali memukul wajahnya yang meninggalkan bekas merah. Sedangkan Shena juga bingung untuk menjelaskan dan menceritakan kesalahpahaman itu yang sangat memalukan baginya, tidak ada Cctv yang bisa di jadikan bukti.
Nathan hanya melihat Daniel memukul wajah Al tanpa berniat untuk membela siapapun.
Dita mendekati Nathan dan memegang tangannya, "bagaimana ini, kasihan Al yang terus di pukuli oleh Daniel," ucap Dita yang menatap Nathan dengan nanar.
"Tidak ada bukti untuk pembelaan, aku akan menyelesaikan ini. Kamu tenanglah," jawab Nathan yang menghapus air mata Dita.
"Aku akan mengambil keputusan ini, Shena dan Al akan menikah hari ini juga. Dan Al, Ayah sangat kecewa dengan mu," ucap Nathan dengan suara lantang.
"TIDAK," jawab Shena dan Al dengan kompak menolak pernikahan.
"Mau tidak mau sudah menjadi keputusanku yang tidak bisa di ubah, apa kamu setuju dengan keputusanku Daniel?" tutur Nathan yang menatap Daniel.
"Karena kamu adalah sahabatku, aku akan memaafkan putramu yang bejat itu untuk menikah dengan putriku."
"Daddy? Shena masih sekolah dan tidak ingin menikah dengan kera ini," tolak Shena.
"Jangan memanggilku kera," cetus Al.
"Wah Al, sepertinya kamu akan melepas masa lajangmu ya," ledek El membuat bantal kecil melayang mengenai wajahnya.
"Ini semua karena mu dan juga Kenzi, kalau kalian tidak datang mungkin ini tidak terjadi," tukas Al.
Daniel yang geram pun mencubit pinggang El, "jangan menyalahkan mereka, itu bagus karena sifat buruk mu sekarang terbongkar," sahut Daniel.
"Auh, lepaskan cubitan ini Paman," lirih Al yang akhirnya Daniel melepaskan cubitan nya.
"Daddy, Shena tidak ingin menikah," tolak Shena yang seakan di abaikan oleh Daniel.
"Pria brengsek ini harus bertanggung jawab, Daddy ada bersama mu Sayang. Jika dia berani menyakitimu dan membuatmu menangis, katakan kepada Daddy."
Shena menatap Nurma, "Mom, Shena tidak ingin menikah dengan pria yang lebih tua," rengeknya sambil memeluk Nurma dengan erat.
Dita menghampiri Shena dan mengusap pelan punggung gadis itu, "Sayang, jangan khawatir dengan semua itu. Al akan bertanggungjawab, BENARKAN AL?" ucap Dita yang menekan kata itu sembari menatap Al dengan penuh kekecewaan.
Al mengusap wajahnya dengan kasar, menarik rambutnya karena keadaannya sekarang tersudutkan. Di tambah dengan kesaksian Kenzi dan El yang datang di saat dia membuka baju dan menindih Shena. Al yang pasrah hanya mengangguk pelan, Nurma melepaskan pelukan Shena.
Dita dan Nurma berpelukan, dari sahabat menjadi besan. El yang telah mengurus semuanya dengan sangat cepat, dan di hari itu juga Al dan Shena resmi menjadi pasangan suami istri yang sah. Mereka sepakat tidak ingin mengadakan resepsi hingga Shena lulus Sma, pernikahan mendadak yang membuat raut wajah Shena cemberut sedangkan Al dengan wajahnya yang dingin.