Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 184 ~ S2


Perasaaan Al sangat senang saat mendengar penuturan dari dokter Jimmy, berlari dengan cepat untuk menuju mansion Wijaya. Mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi dan menyalip beberapa kendaraan yang berjalan lamban. Senyum di wajah nya pudar saat dia terjebak kemacetan membuat Al memukul setir dengan kesal."Ck, kemacetan ini membuat aku kesal saja," umpat Al, kemacetan yang terjadi hanya 15 menit saja dan selama itu pula lah Al mengumpat.


Mobil berhenti di perkarangan mansion, dia turun dengan tergesa-gesa membuat beberapa pelayan menjadi khawatir. Al terus berlari mencari keberadaan sang istri, hingga anggota keluarga melihat Al yang tidak seperti biasanya.


"Apa Ibu melihat Istriku?" tanya Al dengan oenuh semangat.


"Dia ada di taman belakang, tumben sekali kamu pulang dengan cepat. Ada apa?" ujar Dita yang menautkan kedua alisnya.


"Nanti aku ceritakan," teriak Al yang sudah berlari menuju taman belakang tanpa menghiraukan panggilan sang Ibu.


Shena menikmati suasana taman yang di penuhi bunga yang di susun dengan indah, duduk di atas kursi sambil menikmati cake buatan Ibu mertuanya. Bukan hanya Cake, ada sekeranjang cemilan yang dia bawa untuk menghabiskan waktunya setelah homeschooling. Dia terpaksa menerima ide konyol dari Al yang tidak ingin jika sang istri berdekatan dengan pria lain di sekolah, hingga menerima keputusan mutlak dari Al.


"Wah, cake buatan Ibu mertua sangat enak. Bahkan buatan Mommy tidak seenak ini," gumam Shena yang terus memuji cake itu.


Di saat dia mengambil cemilan, tiba-tiba saja terganggu karena sepasang tangan yang memeluknya dari belakang, "aku merindukanmu," ucap Al yang mencium pundak istrinya.


"Eh, kenapa kamu cepat sekali pulang?" tanya Shena yang mengerutkan keningnya.


"Hanya ingin, sedang apa kamu di sini?" tanya Al tanpa melepaskan pelukannya.


"Hanya menikmati angin segar saja, apa aku boleh meminta sesuatu?" ucap Shena yang di anggukan kepala oleh Al.


"Hem, katakan!"


"Bolehkan aku sekolah normal? homeschooling membuat aku putus bersosialisasi, aku ingin seperti Lea dan juga Vivian yang bisa dengan bebas bersekolah," pinta Shena.


"Aku tidak akan mengijinkannya," tolak Al dengan cepat membuat Shena menekuk wajahnya. Al mengalihkan posisinya yang sekarang tengah berada di hadapan Shena.


"Pergilah dari sini dan jangan dekati aku, kamu selalu saja melarangku bersosialisasi. Walaupun mansion sangat besar dengan fasilitas mewah, tetap saja aku merasa bosan," keluh Shena seraya menghempaskan kedua tangan yang melingkar di tubuhnya dengan kasar.


"Tenangkan diri mu, aku akan membawamu jalan-jalan. Tapi sebelum itu kita ke dokter," jawab Al dengan wajah tersenyum.


"Aku lihat kamu baik-baik saja dan aku juga, untuk apa kita ke dokter?" ucap Shena yang menoleh.


"Nanti kamu juga tau, setelah itu aku akan membawamu kemanapun yang kamu inginkan," ujar Al yang membuat Shena bersemangat.


"Ayo!" ujar Shena. Al mengusap pucuk rambut Shena dengan gemas, dia memegang tangan Shena dengan erat. Al mengendarai mobil dengan sangat hati-hati, menuju ke rumah sakit Wijaya untuk memeriksa Shena. Mobil berhenti dan memarkirkan nya di antara mobil lainnya yang berjejer rapi.


Shena membuka pintu ingin turun dari mobil, "jangan bergerak," ucap Al yang di patuhi oleh Shena.


"Ada apa?" Shena menatap Al sambil menautkan kedua alisnya.


"Aku bisa sendiri," jawab Shena dengan cepat.


"Turuti saja," cetus Al yang membuat Shena menghela nafas dengan kasar, sembari menunggu di dalam mobil. Dia melihat dengan jelas apa yang di lakukan oleh suaminya, "kenapa dia membawa kursi roda?" gumamnya.


Al berjalan dengan santai sambil mendorong kursi roda mendekati mobilnya yang terparkir. "Ayo turunlah dan duduk di atas kursi roda ini," titah Al yang tersenyum pepsodent.


"Apa kamu mengira jika aku ini lumpuh?" tukas Shena yang seakan tak percaya dengan tingkah suaminya yang sangat aneh.


Al menggendong Shena dan mendudukannya di atas kursi roda tanpa menghiraukan umpatan yang terdengar, dia terus mendorong kursi roda masuk ke rumah sakit dan menuju ke ruangan Jimmy. Tanpa mengetuk pintu, Al menerobos masuk membuat Jimmy menatap sang pelaku.


"Kenapa kamu membawanya dengan kursi roda?" tanya sang dokter.


"Jangan banyak bertanya, periksa saja!" cetus Al yang tidak sabar.


"Periksa apa? memangnya aku kenapa?" sela Shena yang ingin berdiri, tapi dengan cepat Al mencekalnya.


"Sudah aku bilang untuk tetap di atas roda, dan kamu jangan membuang waktu lagi. Cepat periksa istriku, tapi aku ingin jika yang memeriksanya seorang wanita," perintah mutlak dari Al Wijaya yang membuat Jimmy lagi-lagi mengelus dadanya dan menghela nafas dengan kasar.


"Baiklah," pasrah Jimmy.


Jimmy meminta suster untuk membantunya memeriksa, sementara Jimmy hanya boleh fokus menatap monitor dan di larang keras untuk melihat perut Shena. Suster memberikan gel di atas perut Shena, dan memulai untuk USG. Suster mulai memeriksa sesuai panduan dari dokter, Shena yang merasa geli itu pun hanya bisa menahan tawanya, karena sedari tadi Al melototi mata ke arahnya. Al kembali menatap monitor tanpa mengetahui apa pun, karena dia tidak tau mengerti dengan ilmu medis.


"Apa hasilnya? kenapa sangat lama sekali?" ketus Al yang sangat tidak sabar itu. Jimmy terdiam untuk terus membaca hasil yang dia lihat, "selamat untuk kalian berdua yang sebentar lagi akan menjadi orang tua," ujar Jimmy yang tersenyum melirik Al dengan sekilas.


Al sangat tidak percaya dengan itu, air matanya lolos mengalir di pipi, air mata kebahagiaan yang sangat berkesan olehnya, sedangkan Shena terdiam karena tidak tau menanggapi kabar kehamilan nya.


"Selamat Sayang, kita akan jadi orang tua." Al memeluk Shena dengan haru, bahkan Jimmy dapat merasakan kebahagiaan itu. Al menoleh ke arah Jimmy, "bagaimana dengan calon anakku?" tanya Al dengan sangat antusias.


"Tidak ada masalah, semuanya sehat."


"Bagaimana dengan jenis kelaminnya?"


"Usia kehamilan istrimu baru 5 minggu, tunggulah usianya 4 bulan baru jenis kelamin nya terlihat. Aku melihat ada 3 kantong di sini, sepertinya anakmu kembar 3," ucap Jimmy yang membuat Al sangat bahagia.


"Apa kamu serius?" tanya Al dengan pernuh harapan.


"Tentu saja, aku membaca hasil dari yang aku lihat di monitor. Jaga istrimu, jangan sampai dia kelelahan dan jaga pola makan asupan gizinya juga di perlukan. Mulai sekarang kurangi untuk berhubungan intim, itu sangat berbahaya bagi kehamilannya."


"Ya baiklah, aku akan bekerja keras untuk kalimat terakhir mu itu," jawab Al dengan santai. Sementara Shena sangat syok dengan kehamilan kembar 3 nya, "oh ya ampun....rasanya ini seperti mimpi, aku harap ini hanyalah sebuah mimpi," gumamnya yang mengerjapkan matanya beberapa kali.