
Semua orang tampak panik dengan hilangnya Lea, mereka berusaha mencari posisi Lea saat ini. "Bagaimana? apa kamu menemukan anak ku?" tanya Dita yang mencemaskan putrinya.
"Tenangkan dirimu, Sayang. Aku akan mencari anak kita, bersabarlah."
"Apa Ibu meragukan keahlian kami? tenanglah Ibu, " ucap Al.
"Bagaimana aku bisa tenang? entah putriku sudah makan atau belum."
"Apa ini kasus penculikan?" ucap Al yang melirik El.
"Sepertinya begitu! jika itu benar, aku sangat kasihan dengan penculiknya. Kamu tau sendirikan, bagaimana sifat anak itu," sahut El.
"Apa pun itu, ayo kita cari di mana persembunyian si tikus," ujar Al.
"Baik, ayo!"
Semua orang khawatir dengan keadaan Lea, yang sebenarnya mereka tidak tau bagaimana Lea bisa tidur dengan nyenyak di sana.
Lea mengerjapkan kedua matanya, meregangkan otot-otot yang kaku sembari menguap. Dia melihat ada beberapa penjaga yang mengawasinya dari dekat, "mataku sakit melihat ini, tidak ada satupun pria tampan di sini," gumam Lea di dalam hati.
"Bagaimana dengan tidurmu? apa sudah puas?" ucap seseorang yang membuat Lea menoleh ke asal suara.
"Tidak buruk," sahutnya yang mengakat bahu.
"Aku sudah menghubungi mereka untuk penebusan itu, jika mereka berani macam-macam? maka kamu akan aku bunuh," ancam Caroline yang menatap Lea dengan menusuk.
"Ya terserah padamu saja, aku sarankan untuk mu mengganti bawahan yang wajahnya lebih tampan. Sebab mataku sangat sakit melihat para pria jelek itu," ucap Lea dengan santai sembari menunjuk para bawahan Caroline.
"Berani sekali kamu memerintahku?" teriak Caroline.
"Aku mengatakan yang sebenarnya, dan jangan berteriak atau maskermu nanti bisa retak," ucap Lea.
"Ini make up bukan masker," ketus Caroline.
"Oh benarkah? wah, aku pikir itu masker. Nyonya sebenarnya sangat cantik, tapi sayangnya tertutupi dengan make up yang menurutku agak tebal. Jika ingin aku bisa merubah penampilan mu, sembari menunggu penebusan dari keluargaku," tawar Lea yang mendekati Caroline yang tampak berpikir. Karena lengah, Lea mengunci pergerakan Caroline membuat para bawahannya ingin membantu sang majikan.
"Eit, berhenti di sana atau aku akan mematahkan leher majikan kalian ini," ancam Lea dengan wajah serius, membuat Caroline terkejut dengan aksi Lea yang tidak di duga.
"Kalian tidak dengar, cepat mundur!" perintah Caroline kepada bawahannya.
"Berani sekali nyonya menculik wanita cantik dan imut ini! tapi sayang, nyonya menculik orang yang salah," cibir Lea yang menjangkau sebuah tali yang tak jauh darinya, dia mengikat Caroline dengan simpul yang sangat kuat.
"Dasar bocah sialan, berani sekali kamu mengikatku. Cepat lepaskan aku atau aku membunuh mu," teriak Caroline. Lea mengulang ucapan itu sembari meledeknya dengan bibir yang di majukan.
Setelah Lea berhasil mengamankan Caroline, tibalah saatnya dia menatap seluruh bawahan yang berjumlah 20 orang, "hei para pria jelek, ayo serang aku!" tantang Lea.
"Dasar gadis kecil yang sombong, lihat bagaimana kami akan mengalahkanmu," sahut salah satu pria itu.
"Sepertinya ini sangat seru, jika kamu kalah maka tubuh indahmu akan kami cicipi secara bergilir," sahut ketua dari pria itu sembari tertawa yang menatap Lea dengan mesum.
Lea Menyunggingkan senyuman tipis, tanpa banyak bicara dia berlari mengarah ke tembok yang sebagai pijakannya untuk memukul wajah ketua penjahat dengan sangat keras, hingga ketua itu terduduk.
Tak terima dengan perlakuan Lea, semua penjahat itu menyerangnya secara bersamaan.
Lea tak kehabisan akal, walaupun dia kalah jumlah tak membuatnya berputus asa. Dia mengeluarkan dua kantong kecil dari saku celananya, dan melempar ke bubuk itu ke wajah penjahat. Bubuk cabai dan bubuk gatal sangat ampuh dalam mengurangi jumlah penjahat yang menyerangnya.
Kelelahan yang dia rasakan membuat Lea sedikit lengah, salah satu penjahat ingin menikam Lea dari belakang, yang cepat di cekal oleh seseorang yang tak lain adalah Abian. Caroline sangat terkejut dengan kedatangan Abian yang menolong musuhnya.
Lea menoleh dan tersenyum terpesona ke arah Abian yang datang bak pangeran, hingga dia melupakan situasi yang sangat tidak mendukung. Abian dengan cepat melindungi Lea yang hampir saja terkena pisau tajam.
"Nanti saja menatapku, fokus dengan lawanmu saat ini," ucap Abian yang menjitak kepala Lea.
"Tidak perlu menjitak kepalaku," cetus Lea. Mereka menghadapi seluruh bawahan Caroline dengan sangat mudah, hingga kondisi mereka terkapar tak berdaya.
Abian mendekati Caroline dan melepaskan ikatan tali yang melilit tubuh Ibu angkatnya. Suara tamparan terdengar sangat keras di pipi Abian, "kamu membantu musuhku? padahal tinggal selangkah lagi aku bisa mencapai tujuanku, dasar anak tidak tau balas budi," ucap Caroline dengan penuh amarah.
"Mom, maafkan aku. Aku sangat berterima kasih kepadamu yang mau merawat ku, tapi gadis yang Mom sekap adalah anak dari wanita yang tulus menyayangi aku," ujar Abian yang menatap Caroline dengan sendu.
"Oho, kamu menjalin hubungan dengan Dita? maka baiklah, kamu memilih DITA atau MOMMY?" teriak Caroline yang memberikan pilihan kepada Abian.
"Aku tidak memilih siapa pun, aku menyayangi kalian berdua. Ibu Dita dan Mommy telah membuat tempat di hatiku."
Lea hanya diam dan tidak ingin menyela pembicaraan mereka, hingga terdengar suara keributan di luar. Walaupun Caroline hanya menjadikannya sebuah pion, tapi dia tetap menyayangi wanita itu, hingga dia memutuskan untuk menyelamatkan Caroline dan membawanya keluar dari tempat itu. Dia menarik tangan Caroline dan mengikuti langkah larinya agar terhindar dari amukan keluarja Wijaya.
Akhirnya keluarga Wijaya menemukan Lea yang hanya melamun, Nathan memeluk putrinya, "apa ada yang terluka? katakan kepada Ayah," ucap Nathan yang memeriksa keadaan putrinya.
"Tenanglah Ayah, aku tidak apa-apa, lihat ini!" jawab Lea yang melompat-lompat di hadapan semua orang.
"Baiklah, anggap Ayah mempercayai itu." Twins L bergantian memeluk Lea, di ikuti oleh Bara, dan juga Kenzi. Di saat Lucifer ingin memeluk Lea dengan sangat antusias itu di halangi oleh Nathan dan twins L.
"Jangan berpikiran untuk memeluk adikku," cetus Al dengan tatapan tajam menatap Lucifer.
"Hehe....aku hanya ingin memeluk Lea sedikit saja," sahut Lucifer yang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Jika itu benar, jangan salahkan aku yang akan memotong juniormu sampai ke tandannya," ujar El dengan tatapan sinisnya.
"Jika kamu ingin aku kubur hidup-hidup," sambung Nathan. Sedangkan Bara dan Kenzi hanya mengelengkan kepala mereka, "ayo kita tinggalkan tempat ini, " ajak Bara.
Akhirnya mereka keluar dari tempat itu menuju mansion Wijaya dengan perasaan yang sangat senang karena berhasil menemukan Lea.
Saat Lucifer ingin memeluk Lea, dengan cepat di hadang oleh Nathan dan juga twins L. "