Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 39


Randa membawa Dita dan juga twins L untuk dinner di restoran mewah, dia sudah membooking restoran itu hingga pengunjungnya hanya mereka berempat. Twins L lebih tertarik dengan makanan yang terhidang di meja, membuat air liurnya menetes.


"Hari ini kamu terlihat sangat cantik Dita, " puji Randa.


"Uhuk, makanan ini sangat pedas Bu, " ujar El yang ingin mengacaukan moment romantis. Dengan cepat Dita memberikan El minum, Al menatap sang adik dengan senyum yang sangat tipis hingga tidak terlihat jelas, Randa menghela nafas.


"Al dan El mau makan apa, Paman akan memesannya, " ujar Randa yang berusaha dekat dengan twins L. Dengan tak tau malu, El menyebutkan semua makanan favorit nya hingga Randa kelimpungan, Dita melototi anaknya yang tidak bisa menjaga sikapnya.


"Tidak masalah, mereka hanya anak-anak, " ujar Randa yang memaklumi tingkah twins L. Dita hanya mengangguk, sebenarnya dia tidak setuju dengan perkataan Randa yang membela anaknya, dia menatap tajam twins L. Seakan mengerti dengan tatapan sang ibu, seketika mereka mengubah tingkahnya menjadi anak baik.


Randa terus saja memperhatikan Dita, twins L bisa melihatnya dengan sangat jelas, "jangan menatap Ibu ku seperti itu, " ketus El yang kesal.


"Eh, kalian melihatnya. " Randa menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


"Bukan hanya melihat nya, kami juga mengawasi paman dari tadi. " tatap Al dengan tajam.


"Sudahlah, habiskan makanan kalian, " ujar Dita yang menengahi.


****


Nathan pulang dengan wajah yang sangat gembira dan juga bahagia, senyuman di wajahnya terus terukir menambah nilai plus ketampanannya. Novi dan Wijaya yang sedang bersantai di ruang tengah, menatap sang anak yang penasaran. Kejadian langka saat melihat Nathan tersenyum, "kenapa kamu selalu tersenyum, apa kamu baru saja mendapat jackpot?" ucap Novi yang mengerutkan kening.


Nathan berjalan ke asal suara, duduk di samping Wijaya, "Mama benar, aku mendapatkan jackpot."


"Berbicaralah dengan jelas, apa yang terjadi?" ucap Wijaya yang juga penasaran.


Nathan yang ingin bercerita langsung dicelah oleh Naina yang baru saja pulang dari kampus, "Naina yang cantik dan mempesona sudah pulang, mana sambutannya," teriak Naina dari balik pintu utama.


"Ini mansion bukan hutan, " ketus Novi kesal dengan anak gadisnya yang bar-bar.


"Hehe....maaf! Naina lihat kalian tampak serius, lagi membahas apa?" ucap Naina bersemangat.


"Kakak kamu ingin membicarakan sesuatu yang penting, sebelum dia berbicara, kamu lebih dulu berteriak seperti monyet, " gerutu Novi.


Naina yang mendengar ucapan Novi hanya mengerucutkan bibirnya, serta pipi yang di gembungkan, membuatnya tampak imut dan sangat menggemaskan.


"Ayo bicaralah, Papa ingin dengar, " sela Wijaya.


"Begini, aku mempunyai dua orang anak " ucap Nathan.


"APA??" sahut mereka serempak.


"Bagaimana mungkin? kamu saja alergi jika bersentuhan dengan wanita, " cerocos Novi.


"Aku tidak percaya dengan itu, kakak pasti bercanda, " sambung Naina.


"Ini benar, kejadiannya 6 tahun yang lalu. Daniel sialan itu mencampurkan obat ke dalam minuman ku, dan juga menyewa seorang wanita. "


"Daniel tidak mungkin melakukan hal konyol itu. " bela Wijaya.


"Tapi itulah yang terjadi, Pa. Tapi untung saja, wanita yang di sewa Daniel datang terlambat. "


"Lalu, apa yang terjadi kak?"


"Menurut informasi yang aku dapatkan, wanita yang mengahabiskan malam bersamaku juga terpengaruh dengan obat perangsang itu. "


"Oh, ya ampun!" Novi membekap mulut dengan tangannya.


"Lalu? " Wijaya menatap anaknya dengan menyelidik.


"Aku merenggut kesucian wanita itu, terlihat jelas noda darah di sprai putih kamar yang aku tempati. Daniel bertanggung jawab untuk mencari wanita itu, ternyata benih ku sangat ampuh. Hingga aku mempunyai dua anak sekaligus. "


Nathan menganggukkan kepala seraya menyerahkan sebuah kertas hasil tes DNA. Wijaya, Novi, dan Naina sangat antusias dengan kertas itu. Wijaya membuka dan membaca hasil tes DNA yang membenarkan ucapan Nathan.


"Siapa wanita itu, kak?"


"Kita mengenalnya, " lirih pelan Nathan.


"Katakan dengan jelas, " tegas Wijaya.


"Wanita itu adalah Dita pemilik L boutique, dan putranya yang kembar itu adalah anak ku. " penuturan Nathan membuat waktu seakan terhenti.


Semua orang kaget dengan lamunan masing-masing, "apa Dita juga mengetahui jika kamu yang mengambil kesuciannya? " selidik Wijaya.


"Tidak, " jawab Nathan yang singkat.


"Kamu harus bertanggung jawab dengan wanita itu" ujar Wijaya.


"Tidak!! mama tidak setuju. Nathan sudah mama jodohin dengan Karina, Pa. Usul Mama, kita ambil saja hak asuh untuk Al dan juga El, " tolak Novi.


"Cobalah untuk mengerti, Ma. Jika posisi itu terjadi dengan Mama, dan ada orang yang memisahkan anak dari Ibu kandungnya. Pikirkan itu, jangan egois," ujar Wijaya yang sedikit kesal dengan jalan pikiran dari sang istri.


"Stop Ma, Nathan tidak suka di jodohkan, Nathan pusing dan ingin istirahat dulu. " Nathan pergi meninggalkan ruang tengah menuju kamar.


Di pagi hari yang cerah, sinar matahari yang menyentuh pori-pori membuat seseorang terbangun dari tidurnya, mengerjabkan mata dan sesekali mengguap.


Ponsel yang berada tidak jauh darinya berdering, dia mengangkat panggilan masuk.


"Hallo."


"Temui aku di restoran A dalam waktu 30 menit, ada yang ingin aku bicarakan dengan mu. "


"Baiklah."


Langkah kaki mulus itu memasuki restoran A yang telah di sepakati, melihat pria tampan yang sedang menunggunya.


"Katakan ada apa, " ucap Dita to the point.


"Duduk lah, " ucap pria itu.


"Aku sudah duduk, katakan ada apa memanggilku kesini "


Pria itu memberikan sebuah berkas mengenai kejadian 6 tahun lalu, ekspresi Dita tidak bisa di artikan. Tatapan kosong dan seakan dunianya terhenti, bukti kejadian 6 tahun lalu kembali membuka luka nya.


" Apa maksud dengan semua ini, tuan Nathan Wijaya, " ucap Dita yang mengepalkan tangannya.


"Kamu di jebak oleh saudari tirimu bernama Sheila, dan memberikanmu kunci kamar hotel 109. Tapi sayangnya, kamu salah memasuki kamar dan tersesat di kamarku, " ucap Nathan yang menghela nafas.


"Jadi?? "


"Pria itu adalah aku, dan juga aku sudah tes DNA dengan Al dan juga El. Hasilnya adalah mereka anak kandungku, ini buktinya. " Nathan menyodorkan hasil tes DNA kepada Dita.


Cairan bening yang keluar dari pelupuk matanya mengalir deras di pipi Dita, menerima kenyataan yang ada, pria malam itu ternyata Nathan Wijaya, seorang presdir nomor 1 di kota.


"Apa yang tuan inginkan? apa tuan ingin mengambil anakku?" ketakutan Dita semakin menjadi, di tambah dengan mimpi di malam itu seakan momok yang menakutkan.


"Aku hanya ingin jika Al dan juga El mengetahui jika aku adalah ayah kandung mereka. " Nathan menatap mata Dita sangat dalam.


"Aku tidak akan melarang hal itu, tapi aku mohon jangan pisahkan aku dengan kedua putraku, hanya karena merekalah aku bertahan hidup. "


"Aku bukanlah pria kejam seperti itu. "