
El dan Kenzi menghampiri Al dan mengucapkan selamat, "aku tak menyangka jika kamu menikah dengan cara sepert ini, aku ucapkan selamat untukmu," ucap El yang tersenyum dengan wajah tanpa dosa, membuat Al geram dan mengepit kepala El di ketiaknya.
El berusaha memberontak dan akhirnya terlepas dari Al, "hei ayolah, apa kesalahanku kali ini?" ucap El.
"Karena suara mu yang sangat keras itu membuat kesalahpahaman ini berakibat fatal," sahut Al dengan raut wajah dingin.
"Karena di saat itu aku sangat terkejut, aku hampir tidak percaya."
"Sudahlah kak, terima saja nasibmu sekarang," celetuk Kenzi yang mendapatkan jitakan hangat di kepalanya.
"Aku tidak ingin melihat kalian, menjauhlah dariku!" usir Al.
Daniel tersenyum menatap putrinya karena berhasil menikahi pria yang sangat kaya, "akhirnya aku menjadi besan nya Nathan, walau caranya sedikit membuat emosi tapi aku bahagia saat melihat putriku bersanding dengan pria kaya," batin Daniel.
Vivian dan Lea mendekati Shena dan memeluknya yang telah resmi menjadi kakak iparnya, "aku tidak menyangka jika jodohmu adalah kak Al, tapi aku turut bersuka cita dengan semua itu," tutur Vivian yang memeluk Shena.
"Selamat atas pernikahan mendadakmu," ucap Lea yang juga bergantian memeluk Shena yang hanya cemberut tanpa berniat untuk berbicara.
Tidak ada perselisihan dan perdebatan di antara kedua keluarga, yang ada hanyalah kebahagiaan yang mendoakan kedua mempelai menikah secara mendadak.
Acara selesai, Al pergi menuju kamarnya sedangkan Shena juga menuju kamarnya membuat Dita dan Nurma menepuk kening, "kalian sudah resmi menikah sekarang, tidurlah dalam satu kamar dan satu ranjang," titah Dita tanpa penolakan.
"Heh gadis kecil, tidurlah di kamarku."
"Tidak, aku hanya ingin tidur di kamarku saja," tolaknya.
"Kamarmu membuat mataku sakit saat melihat warna pink yang sangat terang itu."
"Aku tidak bisa tidur di kamarmu yang sangat gelap itu," sahut Shena. Hingga Dita dan Nurma memutuskan untuk Al yang mengalah, Al sangat kesal dengan keputusan Dita dan Nurma.
Al dan Shena masuk ke kamar, "oh....ya ampun, mata ku benar-benar sakit melihat warna pink ini," batin Al. Dia melihat Shena mengatur bantal di atas tempat tidurnya.
"Apa yang kamu lakukan?" ucap Al yang memiringkan kepalanya.
"Aku sedang membuat batas, di sisi sebelah kanan itu tempat mu dan di sisi kiri adalah bagian ku. Jangan pernah melewati batas ini," ucap Shena yang menatap Al dengan tajam sembari menolak pinggang.
Al yang malas berdebat dengan cepat merentangkan tangannya dan melompat ke atas kasur, membuat Shena kesal, "bukankah baru saja aku katakan, jangan melewati batasan bantal ini," keluh Shena.
"Terserah padamu! aku sangat mengantuk," cetus Al yang mematikan lampu tidur.
"Hidupkan lampunya, aku tidak bisa tidur saat lampunya di padamkan," protes Shena.
"Dan aku tidak bisa hidup di saat lampunya menyala," jawab Al.
"Tunggu saja aku tertidur dan kamu boleh mematikan lampunya," seloroh Shena yang menarik selimut dan memejamkan mata.
Al tidak bisa tertidur dengan suasana yang sangat terang, dia menatap wajah Shena yang sudah tertidur pulas. Al tersenyum mematikan lampu, tidur yang sangat nyenyak terganggu karena tubuhnya mencium lantai. "Sial, kenapa aku bisa terjatuh?" gumam Al yang mengusap hidung mancungnya, dia berdiri dengan mata yang melotot tak percaya dengan apa yang dia lewati.
"Aku sangat yakin jika dia yang menendangku hingga terjatuh dari atas tempat tidur, dia bahkan melewati batas yang dia buat sendiri?" lirih pelan Al yang menggeser tubuh Shena dan kembali tidur
Seluruh anggota keluarga menyantap sarapan pagi dengan khidmat dan juga tenang, tidak ada obrolan yang terdengar hanyalah suara dentingan sendok dan garpu yang saling berdenting.
Setelah waktu sarapan telah selesai, Nathan mulai membuka suara. "Untuk Al dan juga Shena, Ayah harap kalian bisa menerima pernikahan ini. Ayah ingin jika Shena melanjutkan pendidikannya," ucap Nathan yang menatap sepasang suami istri yang baru resmi menikah.
"Baik Paman," sahut Shena.
"Jangan panggil Paman, kamu sekarang putriku. Sama seperti Vivian dan juga Lea, panggil aku dengan sebutan Ayah dan dia dengan Ibu," ucap Nathan yang tersenyum sembari menunjuk Dita.
"Iya, A-ayah."
"Bagus."
"Ayah, El harus pergi ke Swiss sekarang. Ada beberapa masalah di perusahaan anak cabang dan juga urusan dunia bawah," celetuk El yang menatap sang Ayah yang mengalihkan perhatiannya ke asal suara.
"Bukankah masih ada beberapa hari lagi? kenapa sangat mendadak sekali?" tanya Nathan yang mengerutkan keningnya.
"Karena anak cabang di Swiss mendapat masalah, dan aku akan mengurusnya."
"Minta saja orang lain yang mengurusnya," tukas Dita yang tidak ingin berjauhan dengan putranya.
"Tidak bisa Bu, ini masalah yang serius. Al baru saja menikahkan, bagaimana jika mereka menghabiskan waktu dan aku akan melakukan pekerjaannya dari
jauh," usul El.
"Wah itu ide yang sangat bagus, bagaimana menurutmu?" ucap Dita yang menoleh ke Nurma.
"Aku setuju."
"Tidak Mom, aku tidak ingin honeymoon dengan pria itu," tolak Shena yang menunjuk Al.
"Sayang, tidak boleh mengatakan itu. Sekarang pria itu telah menjadi suamimu yang sah." Shena hanya pasrah dan menghela nafas dengan kasar.
****
El menyiapkan beberapa baju dan juga kebutuhannya selama 1 bulan ke depan, mengemasi pakaiannya dan memasukkannya ke dalam koper. Sebenarnya El tidak ingin pergi selama sebulan penuh tanpa komunikasi dengan keluarga, karena tidak ingin lokasinya di ketahui oleh musuh dan membuatnya terpaksa melakukannya.
Dia mengambil ponsel dari atas nakas yang tak jauh darinya, menghubungi nomor kontak di ponsel yang membuatnya tidak sanggup mengabari Anna. Hingga dia hanya mengirimkan pesan singkat.
"**Jaga dirimu baik-baik, maaf aku tidak bisa menghubungimu jika aku pergi hari ini. Perusahaan ku yang di sana sedang dalam masalah, aku akan pulang sebulan lagi. Aku mohon untuk memberikan jawaban YA atau TIDAK** di saat aku pulang nanti."
El mematikan ponselnya dan menuruni tangga dengan tangan membawa koper, dia berpamitan dengan seluruh anggota keluarga dan berangkat menggunakan helikopter milik keluarga Wijaya.
Perjalanan yang cukup memakan waktu hingga dia memilih untuk tertidur, tak lama kemudia dia terbangun setelah sampai ke tujuannya ke kota Bern.
Menginap di sebuah hotel berbintang yang terkenal di kota itu, El tidak bisa tertidur karena pekerjaannya kali ini sedikit sulit. Dia mengutak-atik laptop untuk mencari informasi yang ingin dia dapatkan, dia ingin mengetahui penyebab dari cabang perusahaannya yang terkena masalah dan hampir bangkrut.
El juga memeriksa persenjataan yang akan di impor dan juga program milik Al untuk di perjual belikan di perbatasan, lebih tepatnya dia akan mengimpor semua persenjataan ke Jerman untuk mengelabui musuh yang akan menghalangi jalannya. El membaringkan tubuhnya dan mulai memejamkan mata karena sangat capek dengan perjalanan yang sangat jauh.