
Kedatangan keluarga Daniel di sambut baik oleh keluarga Wijaya, terutama Vivian dan Lea yang berkenalan dengan Shena dengan sangat antusias. Daniel yang sangat merindukan dua kutu celingukan mencari keberadaan nya.
"Aku tidak melihat keberadaan Al dan El, kemana mereka?" ucap Daniel.
"Aku di sini," sahut Al dari balik pintu, berjalan mendekati Daniel.
"Eh, tapi Ibu melihat mu pergi dengan Kenzi, kemana dia?" celetuk Dita.
"Tadinya dia bersama ku, tapi dia memisahkan diri dan pergi. Aku tidak tau dia kemana," sahut El yang tersenyum tipis, karena dia bisa berjalan berduaan dengan Anna tanpa gangguan dari Kenzi yang telah dia tinggalkan.
"Tidak tau bagaimana? kakak meninggalkan aku di jalanan, sementara dia berboncengan membawa motor dengan seorang wanita. Aku menyesal mengikutinya," sahut Kenzi dengan kesal melirik El sinis.
"Benar begitu El? kenapa kamu meninggalkan Kenzi?" tanya Naina yang sedikit jengkel dengan El.
"Biasa Nana, anak muda jaman sekarang," jawab El yang cengengesan.
"Dasar nakal," ujar Naina yang menampar pelan pipi El.
"Ehem, apa kalian melupakan keberadaan kami?" sela Daniel membuat semua orang menoleh kepada nya.
"Wah....apa ini kejutan untukku, selamat datang di mansion Wijaya," sambut El yang memeluk Daniel.
"Wah, anak kecebong tumbuh dengan sangat cepat ya? kamu sangat tampan," balas Daniel yang memeluk El yang hanya sepersekian detik.
"Tentu saja, karena ketampanannya berasal dari ku," tukas Nathan. El melirik seorang gadis yang sangat imut, dia tidak bisa menahan untuk mencubit pipi Shena, "siapa namamu? wah, kamu sangat menggemaskan," ujar El.
"Jangan menyentuh pipiku," ketus Shena.
"Oh oke, tidak masalah tapi katakan siapa namamu."
"Shena."
"Panggil aku dengan sebutan kak El, pria yang tertampan di keluarga ini," ucap El dengan narsis.
"Aku pulang." Al berjalan menuju semua orang berkumpul, Daniel memeluk Al yang rindu akan kejahilan twins L semasa kecil. "Wajah kalian sama, tapi ekspresi kalian sangat bertolak belakang. Al lebih seperti Nathan sebelum mengenal Dita," decit Daniel yang melepaskan pelukannya.
"Jangan membandingkan kami berdua Paman, jelas saja kami berbeda karena wajahnya seperti tembok yang sangat datar," celetuk El yang tidak di tanggapi oleh Al.
Shena menatap Al dengan tatapan tidak suka, "jangan menatapku begitu atau mata itu tidak bisa melihat," ucap Al dengan dingin. Dita menengahi itu dan memperkenalkan Shena kepada semua orang.
Awalnya Shena tidak menyukai tinggal di mansion, namun pemikirannya berubah saat Vivian dan Lea yang mengakrabkan diri dengannya. Tapi dia tidak menyukai El yang mencubit pipi nya, dan Al yang menurutnya terlihat galak.
Lea dan Vivian mengajak Shena untuk berkeliling mansion, mengenalkan setiap ruangan dan sudut di mansion yang sangat besar itu.
"Oh iya Shena, bagaimana pendapatmu mengenai mansion ini? semoga kamu betah tinggal di sini," celetuk Vivian.
"Mansion ini sangat besar, lebih besar dari rumahku yang ada di malaysia. Sepertinya aku akan betah tinggal di sini," sahut Shena dengan antusias.
"Memangnya kenapa?"
"Aku akui jika mereka sangat tampan, kamu akan mengetahuinya nanti," jawab Lea dengan santai.
"Akan ku perjelas maksud dari kak Lea, para pria di sini sangatlah aneh. Kak Kenzi dan Kak Al mempunyai kepribadian yang hampir sama, sama-sama dingin. Kak El yang tadi mencubit pipimu, sifatnya sangat berbanding terbalik dengan kembarannya, dia sangat gresek dan sedikit gila. Sedangkan Lucifer, seperti namanya yang memiliki sifat iblis karena dia mempunyai kepribadian ganda, jangan pernah kamu menyinggung anak itu. Dan Kak Abian, sayang sekali dia tidak ada di sini! sifatnya keras di luar lembut di dalam, dan sedikit gila, hampir sama dengan Kak El," ucap Vivian yang panjang lebar, membuat Lea menguap.
"Aku sangat lelah, ayo kita ke kamar. Aku sudah memerintakan pelayan untuk menyediakan tempat tidur ukuran jumbo untuk kita bertiga," ajak Lea yang di iyakan oleh Vivian dan juga Shena.
****
Abian membantu Caroline agar terhindar dari keluarga Wijaya, tapi dia tidak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan Ibu angkatnya.
Caroline sangat kesal yang menjadi buronan polisi, hidup menjadi buronan membuatnya sangat tidak nyaman dan tidak bebas. Saat dia memasuki bus kota, berniat untuk keluar kota dan kembali menata hidupnya yang penuh dendam.
Tapi di persimpangan perempatan jalan terjadi pemeriksaan penumpang, Caroline sangat gugup dengan itu. Namun ada seorang laki-laki yang duduk di kursi kosong di sampingnya, pria itu melepaskan kacamata hitam miliknya dan memasangkan untuk Caroline dan menyenderkan kepala Caroline di bahunya. Dia hanya mengikuti tindakan dari pria itu, hingga akhirnya dia lolos dari pemeriksaan polisi yang tengah mencarinya.
Di saat pemberhentian bus, pria itu berjalan mendekati pintu bus dan turun di sebuah halte. Caroline ingin mengejar pria itu, dan ikut turun sembari mencekal tangan pria yang sudah menolongnya.
"Tunggu, terima kasih telah menolong ku," ucap Caroline dengan tulus.
"Tidak masalah," sahutnya yang singkat padat dan jelas.
"Boleh aku tau siapa nama mu?" ujar Caroline yang menatap pria penyelamat nya.
"Zean." Dia melangkah pergi meninggalkan wanita yang menatapnya bingung.
"Apa kamu tidak ingin mengetahui namaku?" ucap Caroline yang sedikit berteriak, langkah Zean terhenti. Dia tersenyum tipis tanpa menoleh ke arah wanita yang sangat malang.
"Aku mengetahuinya dari surat kabar, tutupi wajahmu sebelum ada yang melihatnya," sahut Zean yang melempar sebuah selendang merah yang selalu di bawanya, selendang milik istrinya yang telah meninggal. Dia kembali berjalan dengan sangat elegan, sedangkan Caroline menutupi wajahnya dengan cepat.
Caroline menatap kepergian Zean yang menghilang di hadapannya, seketika hatinya luluh dengan sikap Zean yang sangat baik kepadanya.
****
Lea bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah, dia berjalan dengan cara mengendap-endap berharap Lucifer tidak mengetahui keberadaannya. Serasa aman, Lea dengan cepat menuju garasi motor. Alangkah terkejutnya dia saat melihat Lucifer yang sudah memegang kunci motor yang ingin di kendarai oleh Lea.
Lucifer menaik turunkan alisnya dengan senyum yang mengukir di wajah tampannya, dia menatap Lea sembari memainkan kunci motor itu.
"Sial, lagi dan lagi aku terjebak dengan pria iblis itu," batin Lea yang menjerit.
"Aku sudah menunggumu dari tadi, ayo naiklah! aku akan memboncengi mu," ucap Lucifer yang mendekati Lea, sambil menarik tangan Lea dan membantunya untuk duduk di atas motor.
"Ehem." Terdengar suara deheman, Lea dan Lucifer menoleh dan melihat Abian yang sedang tersenyum manis menatap Lea, dan melirik Lucifer dengan senyum kecut.
"Oh ya ampun, apalagi ini? aku terjebak di antara kedua pria bodoh ini, seseorang tolong aku," batin Lea yang kembali menjerit.