Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 139 ~ S2


Lea terkejut dan menoleh ke belakang, ternyata aksi nekat Lea di ketahui oleh Abian yang sedang berkeliling mansion karena jenuh saat menunggu. Dia tak menduga Lea keluar mansion lewat balkon, dia bahkan berpikir apakah gadis itu keturunan dari Sun Go Kong? entahlah, tapi yang dia tau kalau gadis itu merupakan pujaan hatinya.


"Kamu ada di sini?" ujar Lea yang menggaruk telinganya yang tidak gatal.


"Apa kamu monyet? bergelayutan di kain itu seperti Sun Go Kong."


"Hei, jaga ucapan mu. Mana bisa aku di samakan dengan monyet," protes Lea dengan ketus. Abian menyentil kening Lea dengan keras, karena geram dengan gadis itu.


"Jangan mencoba untuk melakukan kedua kalinya, jika kamu terjatuh bagaimana? bisa saja wajah mu yang sangat cantik itu berubah menjadi jelek karena terbentur keras."


"Kenapa semua orang sangat menyukai kening dan juga kepalaku? kalian selalu saja menjitak atau menyentilnya, apa kesalahan dari keningku kepadamu?" ketus Lea yang mengusap keningnya yang terasa perih.


Lucifer mendengar suara Lea dan menghampiri asal suara dengan sangat cepat, "aku menunggumu di sana, tapi kamu ada di sini bersama dengan pria tua itu?" ucap Lucifer yang melirik Abian dengan sinis, dia juga melihat kain yang sudah di ikat memanjang terjuntai dari balkon.


"Kamu selalu saja menganggu seperti kutu, pergilah dari sini," usir Abian.


"Lea, aku ingin mengajak mu untuk keluar," ujar Lucifer tanpa menghiraukan ucapan Abian.


"Tidak boleh, karena aku lebih dulu ke sini untuk mengajaknya keluar bersama ku," sela Abian.


"Mereka selalu saja bertengkar, lebih baik aku pergi," batin Lea yang ingin pergi dari sana secara diam-diam.


Tapi nasib Lea tidak seberuntung itu, Abian dan Lucifer menatap Lea dengan tajam, "kamu tidak bisa kabur lagi," cetus Lucifer yang di angguki kepala oleh Abian.


"Hehe....baiklah! tapi aku ingin ke Mall, sudah lama aku tidak kesana," kata Lea.


"Tidak masalah, tapi aku ingin kamu pergi bersamaku," sahut Abian.


"Tidak bisa, aku yang lebih dulu menunggunya, Lea hanya ikut dengan ku," tukas Lucifer yang tidak mau mengalah. Kedua pria itu saling menatap tajam satu sama lainnya, hingga Lea sedikit merasa tegang dengan suasana itu.


"Akan aku putuskan, kalian berdua ikut bersamaku atau tidak sama sekali," tutur Lea yang meninggalkan mereka.


Kali ini Lea memakai gaun di atas lutut berwarna baby pink, menggerai rambut panjangnya, dan memakai sedikit polesan. Tak lupa juga dengan sebuah kamera kecil ditangannya, membuat Abian dan Lucifer menjadi terpesona dengan penampilan Lea yang sangat cantik.


"Ayo," celetuk Lea.


Sesampainya di Mall, banyak yang mengagumi kecantikan Lea dan sangat beruntung. Ada juga yang iri, ketika melihat Lea di samping kiri dan kanannya ada pria tampan yang selalu mengikuti kemanapun Lea melangkah. Tapi tidak dengan Lea yang jengkel, privasinya terganggu karena itu.


"Sial, mereka selalu mengikutiku. Aku kesini hanya untuk menambah koleksiku, ini sudah siang tapi tidak satupun pria tampan untuk bisa aku foto," batin Lea yang menyeruput jusnya sembari menatap kedua pria yang di hadapannya, sembari tersenyum karena mendapatkan ide.


"Aku akan menemanimu," tawar Lucifer yang mendapat jitakan hangat dari Abian.


"Duduk dan habiskan makanan mu, dia hanya ke toilet. Apa kamu ingin masuk ke sana? biarkan aku saja yang menemani Lea," cetus Abian yang ingin berdiri, dengan cepat Lucifer menarik tangan pria di sampingnya.


"Tidak tau malu, kamu melarangku untuk kesana tapi apa ini? sangat memalukan," ucap Lucifer dengan tegas sambil menyuapi mulutnya dengan makanan di atas piring.


"Astaga....kalian masih saja ribut, lebih baik aku ke toilet. Tapi ingat, jangan ada yang berani menyusulku atau aku tidak ingin menemui kalian lagi," ancam Lea yang menunjuk wajah Lucifer dan Abian, dia mengarahkan kedua jarinya yang membentuk huruf V, seakan dia mengatakan "aku mengawasi kalian".


Lea sangat senang akhirnya dia bisa terlepas dari kedua pria yang menurutnya sangat aneh, mulai berkeliling mencari objek untuk menjadi koleksinya yang hampir penuh.


****


Al sangat fokus dalam bekerja, menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dan pulang ke mansion. Akhir-akhir ini, Al selalu pulang bekerja lebih awal setelah menyelesaikan semua urusan kantor.


Pintu terbuka dengan sangat keras membuat Al tersentak kaget, dia ingin mengumpat orang itu yang tak lain adalah El dengan wajah nya murung.


"Bisakah kamu untuk membuka pintu dengan pelan?" ucap Al dengan dingin menatap saudara kembarnya. Seakan tuli, El tidak menghiraukannya, dia lebih memilih duduk di atas sofa empuk dengan wajah yang penuh kesedihan. Al dapat merasakan apa yang di rasakan oleh El, "apa kamu sedang patah hati?"


"Eh, dari mana kamu mengetahuinya?" sahut El yang mendongakkan kepala menatap Al di meja kerjanya.


"Dasar bodoh, apa kamu lupa kalau kita saudara kembar? tentu saja aku bisa merasakannya, katakan apa apa?" ucap Al yang menghampiri adiknya.


Belum sempat El menceritakannya, Ben masuk tanpa permisi. "Tuan, kita ada masalah darurat," kata Ben yang mengatur nafasnya, di saat dia melihat ke arah atasannya membuat Ben terkejut.


"Bisakah kamu mengetuk pintu dulu," ketus Al yang menatap tajam ke arah asisten nya. Ben menelan salivanya dengan susah payah saat menghadapi bosnya yang terlihat seperti singa yang ingin menerkamnya.


"Yang mana Tuanku di antara kalian?"


"Sepertinya ada kesalahan pahaman disini, biarkan aku perjelas. Dialah atasanmu yang sesungguhnya bernama Al, dan aku adalah El yang hanya menggantikannya sementara. Kami ini kembar, apa kamu paham? jika tak paham, maka keluar lah dari ruangan ini. Aku ingin mencurahkan rasa sakit saat patah hati," jelas El.


"Tapi Tuan, ini sangat darurat. Ada beberapa klien yang membatalkan kontrak kerjasamanya dengan perusahaan kita, aku tidak tau penyebab mereka memutuskan hal itu," ucap Ben dengan raut wajah yang khawatir.


"Hei, aku sudah memintamu untuk keluarkan. Maka enyahlah dari hadapanku," cetus El yang menatap Ben dengan menusuk.


"Ck, patah hatimu tidak sebanding dengan kerugianku yang sangat besar. Sebaiknya aku menangani kasusnya dan mencari penyebab mereka membatalkan kontraknya," seloroh Al yang pergi dari ruangan itu dan di ikuti asistennya dari belakang.


El menatap kepergian Al dan Ben yang menghilang dari balik pintu, "bahkan di saat ini dia memikirkan pekerjaan, padahal rasa sakit patah hatiku lebih penting dari itu. Hah, ya sudahlah! lebih baik aku pergi dari penjara ini menuju markas, siapa tau aku menemukan perusahaan yang berbuat curang," batin El yang melangkahkan kakinya keluar ruangan.