
Nurma yang melihat Daniel sedang berdansa ria dengan wanita seksi, membuat nya geram. "Oho, kena kamu," gumam Nurma yang berjalan mendekar ke arah tujuannya.
"Berani sekali kamu menipuku," pekik Nurma yang menjewer telinga Daniel dan menuju keluar Bar.
"Sayang, lepaskan telingaku. Aku malu jadi tontonan publik," lirih Daniel yang mengikuti Nurma.
"Kamu sudah berani membohongiku." Nurma melepaskan jeweran dari telinga Daniel.
"Aku hanya di ajak oleh Nathan dan mana mungkin aku menolak atasanku itu," kilah Daniel berbohong.
Nurma yang kesal dengan keras memukul wajah tampan Daniel, "itu akibatnya jika berani membohongiku, jangan menghubungiku untuk beberapa saat." Nurma pergi dari tempat itu meninggalkan Daniel yang memegang pipinya.
"Apa yang terjadi, jika aku membohonginya lagi?" gumam Daniel yang menatap kepergian sang kekasih.
****
Bara mengampiri sang kekasih dengan cemburu yang membara, hingga menyeret lengan Naina menjauh dari pria yang menjadi lawan dansa Naina.
"Hei, kenapa kamu menyeret ku?" protes Naina.
"Kamu tau apa kesalahan mu?" ucap Bara dengan tatapan tajam.
"Entahlah, minggir! jangan menghalangi jalanku," ketus Naina. Bara tak habis pikir dengan calon istrinya, hingga dia menaruh Naina di pundak layaknya sekarung beras, Naina terus saja memberontak dan memukul punggung Bara yang membawanya keluar dari Bar.
"Turunkan aku."
"Tidak," tolak Bara yang menuju mobilnya yang di parkir, memasukkan Naina ke dalam mobil dan mengemudikam mobilnya kejalanan sunyi.
"Kenapa kamu membawa ku kesini?" celetuk Naina yang was-was. Bara menghentikan mobilnya di tempat sunyi, tidak ada seorang pun yang lewat di jalanan itu, menatap dalam mata Naina.
"Kenapa kamu bisa sampai di sana? dan lebih parahnya lagi, berdansa dengan pria jelek itu."
"Ish, jelek darimana? pria itu tampan, itu sebabnya aku menyetujuinya menjadi teman dansa," ucap Naina dengan santai, tanpa melihat raut wajah Bara yang kesal setelah mendengar pujian pria lain oleh Naina di hadapannya.
"Heh, bahkan dia lebih terlihat seperti seekor monyet dengan bulu-bulu yang tumbuh di wajahnya," cetus Bara.
"Terserah mu saja, apa alasanmu membawaku kemari?"
Naina melipat tangan di depan dadanya sembari menatap Bara dengan malas.
"Siapa yang mengijinkanmu untuk pergi ke Bar, di tambah dengan penampilan mu yang sangat-sangat cantik ini," ujar Bara yang meninggikan suaranya.
"Hei hello! tidak perlu berteriak seperti itu, pikirkan pita suaramu yang bisa putus kapan saja. Dan jangan lupa, di sini akulah yang marah kepadamu. Aku sudah berdandan setengah jam hanya untuk pergi berkencan denganmu, dan tiba-tiba saja kamu membatalkan dengan alasan tugas," ketus Naina yang menatap Bara dengan kesal.
Penuturan dari Naina membuat Bara bungkam, karena apa yang di katakan oleh calon istrinya itu benar, Bara sedikit malu dengan sikapnya yang tidak bisa mengendalikan rasa cemburunya.
"I-itu benar, hanya saja tugas ku sudah selasai dan pergi ke Bar atas kesepakatan bersama," jawab Bara yang menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Jangan mengelak lagi, aku di beritahukan oleh kakak ipar. Informasi yang akurat dikatakan oleh twins L dan juga Abian."
"Al dan El selalu membuat aku sial, dan apa ini? bahkan sekarang ada 3 bocah. Awas kalian, aku akan membuat perhitungan kepada 3 bocah sialan itu," batin Bara yang geram.
"Hehe....Sayang ku, itu hanya sebuah perayaan kecil untukku yang sebentar lagi akan menikahi gadis secantik dirimu," sahut Bara yang menoel dagu Naina.
"Akhirnya kamu mengaku juga, aku akan menghukum mu untuk ini."
"Itu berbeda, setelah menikah aku tidak ingin tidur denganmu selama 3 hari. Jangan membantah atau protes, jika tak ingin aku perpanjang," titah Naina.
"APA?"
****
Twins L berniat untuk mengunjungi Nathan di kantornya, karena mereka sangat jenuh tidak adanya semua orang di mansion terutama Abian yang sedang mengurus urusannya.
"Pak Udin, cepatlah sedikit," ucap Al yang tidak sabar.
"Baik tuan." Mereka melewati jalanan yang sedikit macet, membuat El selalu mengeluh. Al yang memerhatikan adiknya hanya menggelengkan kepala, "sabarlah sedikit, ini tidak akan lama."
"Hanya itu yang bisa di lakukan sekarang."
Mobil berhenti tak jauh dari gedung pencakar langit, membuat twins L sangat senang, mereka turun ke mobil untuk menghampiri sang Ayah.
Wajah yang begitu senang, seketika berubah penasaaran. Saat melihat Celin yang hendak masuk ke dalam kantor, "apa kamu tau apa yang aku pikirkan?" ucap El yang melirik Al dengan seringaian di wajah keduanya.
"Dasar bodoh! sebelum kamu memikirkannya, aku lebih dulu mengetahuinya," sahut Al.
Celin berjalan begitu angkuh dan juga sombong, senyum yang meremehkan selalu dia tunjukkan di hadapan semua orang. Menuju sebuah ruangan khusus presdir, dengan senyum manisnya.
Nathan mengalihkan perhatiannya saat pintu itu terbuka, "kenapa kamu datang kesini, aku sudah memperingatkan mu," ucap Nathan tanpa ekspresi.
"Bukankah kamu sudah memaafkan ku, aku kesini untuk menjalin pertemanan saja dan tidak lebih."
"Terserahmu saja." Nathan kembali dengan layar pipihnya tanpa menghiraukan keberadaan Celin yang diam-diam memasukkan obat ke dalam minuman Nathan. Tak lupa, Celin meminta minuman yang sama agar tidak di curigai.
Pintu kembali terbuka dan terlihat Al yang sedang tersenyum ke arah Nathan. "Eh, kamu di sini? dimana El?" ucap Nathan yang celingukan.
"Dia sedang ke toilet. Wah Tante di sini juga?" ucap Al yang mulai berakting. Mereka tidak sadar, jika El mengganti minuman yang berisi obat dan mengganti dengan minuman baru.
El menaburi sedikit bubuk kecubung ke dalam minuman Celin. Kecubung merupakan salah satu tanaman yang tumbuh liar di sejumlah wilayah Indonesia. Bentuk seperti rambutan berduri, buah yang berbahaya jika di konsumsi, akan berakibat halusinasi selama 3 hari.
Setelah melakukan pekerjaannya, El mengkode Al dengan sebuah acungan jempol. Celin tidak menghiraukan keberadaan Al, dia hanya berfokus dengan Nathan.
"Ayo di minumlah, kamu pasti sangat haus," tawar Celin yang menyodorkan minuman ke arah Nathan. Mereka meminum minuman itu, Celin tersenyum kemenangan.
Tak lama kemudian, reaksi kecubung itu mulai terlihat. Celin tiba-tiba duduk di pinggir pintu dan membuat Nathan kebingungan. Dia menghampiri Celin untuk menanyakan apa yang terjadi, "Celin, kenapa kamu duduk di lantai dan di depan pintu? berdirilah, kenapa kamu menjadi aneh."
"Ssttt....diamlah, aku sedang menyamar," tutur Celin membuat twins L menahan tawa.
"Menyamar?" ucap Nathan yang menautkan kedua alisnya.
"Sudah aku bilang untuk diam, aku ini sedang menyamar menjadi rak sepatu," jawab Celin yang membentak Nathan.
"Apa maksudmu?"
"Horee, sekarang aku berubah lagi menjadi cicak," sorak Celin yang berlari dan menempel di dinding.
Nathan yang kebingungan itu segera menelfon rumah sakit jiwa dan membawa Celin keluar dari ruangannya.