
Lagi-lagi Bara kesal saat melihat Daniel dan Nathan yang sedang menertawainya, "Sialan, berani sekali kalian menertawaiku."
Nathan melangkahkan kakinya menuju Bara dan di ikuti oleh Daniel, "aku pernah menawarkan diriku sebagai guru untukmu, tapi apa? kamu tidak ingin mendengar saran dari orang yang berpengalaman sepertiku."
"Aku tidak membutuhkan saran sesat mu, pergilah! aku butuh waktu untuk menjernihkan otakku," ketus Bara yang malas untuk berdebat.
"Tenangkan pikiranmu, bagaimana jika kita duduk dan berbincang di ruang tengah?" usul Daniel.
"Hem baiklah," sahut Bara yang menyetujui.
Ketiga pria itu menuju ruang tengah, dengan perasaan yang mereka simpan sebagai pria. Daniel melirik Nathan dan Bara secara bergantian, "bagaimana hubungan kalian dengan pasangan masing-masing? hukuman apa yang mereka berikan?" ucap Daniel yang membuka suara.
"Apa yang harus aku katakan, ketiga bocah nakal itu menjadi akar dalam permasalahan kita," keluh Bara yang melirik Nathan dengan sinis.
"Apa mata itu ingin aku congkel? aku juga korban di sini, walaupun mereka adalah anakku. Tapi, tetap saja mengerjaiku juga," cetus Nathan.
"Karena perbuatan mereka, aku sampai di pukuli oleh Nurma," celetuk Daniel yang memperlihatkan bekas di wajahnya.
"Itu tidaklah buruk dari yang aku alami, Naina tidak membolehkan ku untuk tidur dengannya selama 3 hari, coba bayangkan!" ujar Bara.
"Ck, itu hanya 3 hari. Dita menghukumku selama seminggu? hukuman itu sangat lah berat, di tambah dengan dua anak kecebong yang selalu menggagalkan keromantisanku," keluh Nathan.
"Ingin sekali aku menggantung ketiga bocah sialan itu," cerocos Bara yang mengepalkan kedua tangannya.
"Bagaimana jika kita mengerjai ketiga kutu itu, buat mereka jera dan tidak menganggu kesenang kita," ucap Daniel dengan antusias.
"Baiklah, siapa yang memiliki ide?" tanya Nathan menatap kedua temannnya.
"Biarkan aku yang memikirkan idenya." Bara tersenyum smirk dan membayangkan wajah ketiga anak nakal itu memohon ampun kepadanya. Sepasang mata telah mendengar sebagian pembicaraan yang membuatnya kesal. Suasana aman, damai, dan tenang membuat ketiga pria itu tidur di sofa. Baru saja mereka tertidur, tapi di kejutkan dengan suara petasan yang membuat ketiga pria dewasa itu terbangun dengan setengah kesadarannya.
Untungnya, di setiap kamar sudah di pasang peredam suara, tidak ada yang terganggu dari bunyi bising itu. Hanya ketiga pria dewasa itu yang mendengarnya, mereka dengan cepat menutup telinganya akibat suara yang memekakkan.
Pandangan Nathan menyusuri ruangan itu dengan sangat teliti, ternyata itu perbuatan El yang sudah lari cukup jauh, "ck, sudah ku duga," batin Nathan.
"Aku yakin, ini kerjaan dari salah satu kutu itu. Jika dia bukan anak angkatku, sudah lama aku melemparkan ke jurang."
"Sebaiknya aku pergi dari mansion ini, apartemen ku lebih aman daripada di sini. Ku sarankan kepada mu untuk membersihkan mansion ini dengan ritual ghaib. Aku sangat yakin, jika mansion ini telah di kutuk," seruan Daniel yang beranjak pergi meninggalkan mansion Wijaya.
"Dia berkata benar, lebih baik aku dan Naina pergi dari mansion yang terkutuk ini." Bara juga meninggalkan ruangan itu, meninggalkan Nathan sendiri.
"Apa kesalahanku di masa lalu? hingga aku memiliki 2 anak kecebong yang sangat nakal bin ajaib."
****
Di saat sarapan pagi, Bara dan Nathan menatap tajam ke arah El akibat insiden tadi malam. Sedangkan yang di tatap hanya acuh tak acuh, dia lebih tertarik mengisi perutnya yang keroncongan.
"Kenapa kamu menatap El begitu?" ucap Novi yang memperhatikan.
"Aku sangat kesal dengan mereka yang selalu mengerjaiku, terutama El yang melemparkan petasan."
"Sayang? apa benar kamu melakukannya?" tanya Novi yang mengelus pucuk kepala El.
"Cup....cup.... cup, sudahlah! jangan menangis lagi ya?" bujuk Novi. Bara dan Nathan saling menatap dan melirik El yang sangat pintar berakting.
"Tuyul itu sangat pintar berakting ya," gumam Bara dalam hati.
"Kalian itu sudah dewasa, harusnya kalian memberinya contoh yang baik." Wijaya menatap Putranya dan juga menantunya.
"Mereka sangat nakal, aku akan memasukkan mereka ke asrama," tegas Nathan membuat twins L dan Abian sangat cemas. Mereka menatap Wijaya dengan puppy eyes andalan, yang akan meluluhkan hati Wijaya. Dan benar saja, Wijaya menolak keras akan ketegasan Nathan yang menurutnya sangat berlebihan.
Novi menatap tajam Nathan, "jangan salahkan sikap mereka yang sangat nakal, bahkan kamu lebih nakal dari mereka yang selalu membuat Papa dan Mama pusing tujuh keliling," jujur Novi.
Nathan akhirnya diam setelah mendengar penuturan Novi. Sedangkan Bara terkekeh, "buah jatuh tak jauh dari pohonnya," cetus Bara.
Setelah selesai sarapan, mereka duduk di ruang tengah sambil bercengkrama. Bara menatap anggota keluarga satu persatu, "kami ingin honeymood Ma, Pa." Mereka semua mengalihkan pandangannya menatap Bara, "apa kami boleh ikut?" celetuk El yang di angguki kepala oleh Al dan juga Abian.
"TIDAK, ini acara honeymoon dan bukan acara liburan," tolak Bara.
"Ayolah Papa, ajak kami kesana juga," bujuk Al yang memohon dengan mata yang berbinar.
Seketika Bara tersenyum saat mendapatkan ide cemerlang, "apa kalian ingin adik kedua?"
"Benarkah? kami sangat ingin memiliki adik kedua," sahut El bersemangat.
"Papa akan menjemputnya nanti dan memberikannya kepada kalian. Tapi itu agak sedikit sulit," ucap Bara dengan raut wajah sedih.
"Katakan kepada kami, bagaimana caranya?" jawab Al, sementara yang lainnya hanya menatap mereka dengan memijat pelipisnya.
"Kalian tidak boleh mengerjai Papa lagi dan patuhi semua yang apa yang Papa katakan, bagaimana?" ucap Bara yang mengangkat kedua alisnya.
"Kenapa begitu? kami juga mengerjai Ayah dan tetap saja Ibu bisa hamil," tutur Al.
"Ini akan menganggu kerja dan stikma dalam proses pembuatannya. Pikirkanlah dengan ucapan dari Papa, jika kalian ingin adik dengan cepat."
"Deal," jawab twins L dengan serempak.
"Eh, semudah itu? aku akan mancoba trik ini nanti," batin Nathan yang tersenyum tipis.
"Tunggu dulu! jika aku hamil, bagaimana dengan kuliahku? aku masih ingin kuliah," protes Naina.
"Tidak akan ada yang berubah, kamu tetap melanjutkan pendidikan. Jika hamil, maka ambillah cuti," ucap Bara dengan antusias.
"Ya, kamu benar."
Setelah perencanaan honeymoon, Bara dan Naina bersiap untuk pergi ke paris. Naina sangat bahagia, bisa berkunjung ke negara itu setelah sekian tahun lamanya.
Twins L sangat senang dengan ucapan Bara yang akan membawa adik untuk mereka, dia menghampiri Ibunya dan bertanya, "Ibu, kapan adik kami datang?"
"Sabar Sayang. Tidak lama lagi, kamu doakan Ibu dan adik selamat yah," ucap Dita dengan sendu.
"Hem."