
Haidar telah menempatkan grup inti di segala penjuru hutan, agar tidak ada musuh yang berani mendekati kawasannya. Di setiap sisi hutan sudah di pasang beberapa ranjau dan juga jebakan jika ada yang berani menerobos masuk. Pagar besi yang sangat tinggi menjadi rintangan kedua setelah lolos dari ranjau dan juga jebakan, di gubuk juga terpasang sinar X untuk mengetahui siapa yang keluar masuk gubuk.
Mereka turun dari mobil yang telah di sembunyikan terlebih dahulu untuk menutupi jejak, ke empat pria itu saling melirik dan menganggukkan kepala. Mereka berjalan menyusuri hutan yang sangat lebat itu, banyak pohon-pohon berkayu besar yang tubuh subur di sana. El yang mengenal tempat itu berjalan sebagai pemimpin, mereka mengikuti arahan dari El.
"Kalian hati-hati dan jangan bertindak gegabah atau nyawa kalian yang menjadi taruhannya," ucap El yang mengingatkan.
"Apa tempatnya masih jauh?" tanya Abian.
"Lumayan, cukup sulit untuk sampai kesana."
Perjalanan mereka di hadang oleh 5 orang yang baru saja melompat turun dari pohon, mereka membawa senjata tajam seperti pisau dan juga belati. El, Al, Abian, dan Kenzi membuat lingkaran untuk saling melindungi satu sama lain.
"Berani sekali kalian memasuki daerah kekuasaan Black Diamond," ucap salah satu dari kelima pria yang berpakaian ninja berwarna putih.
"Memangnya kenapa?" sahut El dengan polos.
"Sudah aku bilang jika ini kawasan Black Diamond, apa kalian juga tidak tau dengan aliansi itu?"
"Hem, entahlah. Aku rasa aliansi mafia itu jarang terdengar," tukas El membuat Al tersenyum miring dengan tingkah saudara kembarnya.
"Cari mati kalian," ucap salah satu ninja berpakaian putih berlari menghampiri El dengan belati di tangan kanannya dan terhenti saat perutnya tertancap shuriken.
El menatap Al dengan wajah bodohnya, "untuk mempersingkat waktu," kata Al yang kembali membidik ke empat ninja putih dengan sekali lempar.
"Itu bagus, setidaknya tenagaku di simpan di saat situasi benar-benar terdesak," celetuk Kenzi yang mendapat toyoran kepala dari Abian.
"Jangan membuang waktu, Lea membutuhkan bantuan dari kita," ucap El.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan, jalanan yang cukup terjal dan juga di sampingnya terdapat jurang. "mundur," perintah El yang di ikuti yang lain, tiba-tiba sebuah jaring besar hampir saja mengenai mereka.
"Hampir saja," celetuk Kenzi yang menghela nafas dengan kasar.
"Jalanan ini tidak aman, kalian tunggu di sini. Aku akan mencari jalan pintas untuk sampai ke tengah hutan," tutur El.
"Bagaimana jika kita pergi mencari jalan pintas itu bersama-sama?" jawab Abian.
"Apa kamu lupa jika aku yang tau daerah ini, jangan sok mengajariku," cetus El.
"Bukankah Kakak sudah mengenalnya tempat ini, kita hanya perlu berjalan sedikit saja, " sahut Kenzi.
"Itu masalahnya, aku melupakan jalan pintas itu. Kalian tunggu di sini, jalan pintas itu sangatlah berbahaya."
"Ya cepatlah," cetus Al yang menatap El dengan jengah.
El berjalan menuju sisi kanan dengan sangat hati-hati, berjalan dengan penuh perhitungan sebelum melangkah. Baru saja dia menyusuri jalan itu, ada sebuah panah yang hampir saja mengenai.
"Tidak salah lagi jika aku hampir sampai di jalan pintas itu," gumam El yang melihat sekelilingnya, dia melihat sebuah dinding yang tertutupi oleh tumbuhan rambat.
"Akhirnya aku menemukan jalan itu," gumam El yang kembali menyusul ketiga pria yang menunggu dengan bosan. El yang berlari ke arah mereka serta memanggil Al, Abian, dan Kenzi dengan menggerakkan jarinya untuk kembali melanjutkan perjalanan.
"Ayo."
Mereka kembali melanjutkan perjalanan dan sampai lah di pagar besi yang menjulang tinggi, "ya ampun....pagarnya sangat tinggi sekali, ini sedikit membutuhkan waktu untuk sampai kesana," tutur Abian yang mendongakkan kepalanya menatap ujung pagar.
"Kamu benar, cukup menguras tenaga jika kita memanjatnya," sahut El yang menatap Abian.
"Apa kalian punya rencana cadangan?" celetuk Kenzi yang menatap ketiga pria itu dengan seksama.
"Sepertinya aku membawa solusinya." Al mengambil sesuatu di saku celananya dan memegang sebuah benda kecil yang seukuran telapak tangannya. Abian dan Kenzi menatap alat aneh itu, "apa itu menolong dan bagaimana cara kerjanya?" tutur Abian yang menautkan kedua alisnya.
"Akan aku perlihatkan. " Al menggunakan alat yang dapat memotong besi dalam hitungan detik. Alat yang dia ciptakan sendiri dengan kekuatan laser api dengan kekuatan yang sangat tinggi.
"Bagus! sebaiknya kita berpencar untuk memudahkan kita melumpuhkan musuh," ujar Al dengan serius.
"Baik, aku dan Al akan melumpuhkan bagian kiri dan masuk ke dalam. Sementara El dan Kenzi ke arah bagian kanan." Abian membagi sebuah tim dan mulai melakukan tugas masing-masing.
Di sisi lain, Lea yang terus kepanasan itu membuka bajunya dan menyisakan pakaian menutup bagian sensitif sambil mengipasi tubuhnya, sementara Haidar tersenyum miring dan meneguk alkohol beberapa gelas kecil. Dia melempar gelas itu dengan sangat kasar, membuka baju dan terlihatlah bentuk tubuh atletis miliknya, dia berjalan mendekati Lea.
Lea berusaha untuk tetap sadar dengan menggingit tangannya dengan kuat, Haidar memeluknya dari arah belakang membuat Lea tidak bisa mengendalikan dirinya yang di kuasai oleh obat itu.
"Menjauh dariku," pekik Lea yang bertolak belakang dari tindakannya.
"Benarkah? dasar munafik, pikiran dan juga bahasa tubuhmu sangat bertolak belakang," ucap Haidar yang membalikkan tubuh Lea dan menamparnya dengan keras.
"Itu akibatnya jika kamu mengusik adikku." Haidar kembali menampar Lea yang tidak bisa mengendalikan dirinya untuk menggoda Haidar.
"Ku mohon sentuh aku.." rengek Lea yang memeluk tubuh Haidar.
"Tidak," tolak Haidar yang mendorong tubuh Lea sambil tersenyum meremehkan.
"Aku sudah tidak tahan lagi, bantu aku!" Lea kembali merengek, pengaruh obat itu sangatlah kuat.
"Baiklah, aku akan membantumu dengan senang hati."
Haidar memeluk tubuh Lea dan membaringkannya di atas tempat tidur. Suara pintu yang di tendang dari luar menghentikan aktivitas Haidar yang juga bergairah saat melihat tubuh Lea yang belum sempat di nikmati.
"Sial," umpat Haidar yang menoleh ke asal suara, terlihat dengan jelas seorang pria dengan kedua tangan yang terkepal sempurna, mata yang memerah, dan rahang yang mengeras.
"Berani sekali kamu menganggu kegiatanku," ucap Haidar yang menatap Abian dengan dingin.
"Berani sekali kamu menyentuh Lea," ucap Abian dengan tatapan elangnya dan berlari mendekati Haidar dengan memukul wajah, pergerakan yang sangat cepat itu tidak bisa di elakkan oleh Haidar. Kemarahan Abian sangat memuncak di kala melihat Lea yang sedang di pengaruhi obat perangsang.
"Brengsek....berani sekali kamu menyentuhnya," pekik Abian yang menendang perut Haidar.
Mereka saling memukul dan menyerang, kemarahan dari Abian membuatnya gelap mata saat menyerang Haidar tanpa ampun.