
Nathan yang sudah sampai ke indonesia, dengan cepat menuju markas miliknya. Sesuai dari laporan anak buahnya yang mengatakan jika kelima pria itu sudah tertangkap. Dia tidak memperbolehkan twins L untuk ikut bersamanya, Bara yang menawarkan diri untuk ikut bersama dengan Nathan.
Sesampai di markas, Bara dan Nathan menghampiri kelima pria yang sudah di ikat dan mendapatkan siksaan sesuai arahan Nathan. Nathan memperhatikan wajah kelima pria itu, menatapnya satu per satu. Tangan mengepal sempurna melayangkan pukulan di wajah kelima pria yang berani melecehkan adiknya. Bara juga melakukan hal yang sama dengan Nathan, memukuli pria-pria itu hingga pingsan.
"Ck, itu akibatnya jika berani Bermain-main dengan keluarga Wijaya," gumam Nathan yang segera pergi dari markas menuju mansion. Sedangkan Bara lebih dulu meninggalkan Nathan setelah mendapat telfon dari atasannya.
Di kediaman Wijaya, nampak dua orang anak yang sangat bosan dengan aktivitas mereka yang monoton, hingga keduanya tersenyum smirk di kala mendapatkan sebuah ide yang akan membuat kehebohan.
Nathan melangkahkan kaki nya untuk masuk ke mansion, dia belum sempat istirahat dari kepulangannya ke Swiss. Badan yang kelelahan itu membuatnya tertidur di sofa ruang tengah, tanpa mengganti pakaian nya terlebih dahulu.
Twins L yang sedang bermain kejar-kejaran, melihat sang Ayah tertidur. Hingga muncul sebuah ide di benak mereka, Al segera kembali untuk mengambil sesuatu. El memerhatikan wajah tampan Ayahnya dan tersenyum mengejek.
"Bagaimana? apa kamu membawa semuanya?" tanya El yang berbisik kepada Al membawa alat yang mereka butuhkan.
"Hem, ini ambilah," sahut Al yang menyerahkan kepada sang adik.
Mereka manahan tawa saat melihat wajah Nathan yang mereka lukis dengan karya langka nan indah, terlihat seperti boneka hantu. "Lakukan dengan benar, aku akan menambahkan sebuah keris di kening Ayah," ucap El yang asik melukis kening Nathan dengan warna hitam.
"Itu tidak seperti keris, terlihat seperti tulang ikan." Al melirik hasil karya sang adik.
"Mata mu sangat rabun ya, lihat lah dengan benar," racau El.
"Mata mu saja yang belekan, perhatikan dengan baik. Kamu membuat ganggangnya seperti kepala ikan." Mereka sangat bersemangat berlomba-lomba menghasilkan karya yang indah di wajah sang Ayah.
Sedia payung sebelum hujan, itulah kata pepatah yang sangat umum terdengar, begitupun dengan twins L yang telah menyiapkan segalanya jika Nathan terbangun dari tidurnya.
Tak lama, Nathan terbangun dari tidurnya, mengerjapkan mata dan berjalan menuju kamar. Saat menaiki tangga, El memotret Nathan untuk di jadikan album kejahilannya. "Eh, hentikan! kanapa kalian memotret Ayah?" Nathan menutupi wajah dengan kedua tangannya.
"Karena wajah Ayah sangat lucu," ujar Al yang tertawa. Sementara Nathan memperhatikan wajahnya di cermin yang tak jauh darinya, seketika wajah Nathan berubah.
"Kalian sangat nakal, hei jangan lari kalian," teriak Nathan seraya mengejar twins L yang sudah jauh berlari.
"Ayo kejar kami, wlekk!" ledek El yang menjulurkan lidahnya.
"Anak nakal, lihat saja apa yang akan Ayah lakukan untuk kalian," ancam Nathan yang menunjuk twins L. Nasib sialnya tidak sampai di situ, Nathan terpeleset akibat kelereng yang di taburkan oleh Al. Pantatnya berhasil mencium lantai dengan sangat keras, membuat sang empunya merintih kesakitan.
"Oh shitt....mereka sangat nakal sekali," Nathan berusaha berdiri dan terjatuh, membuat seseorang tertawa melihatnya.
"Aku sangat prihatin dengan mu, bagaimana rasanya? siapkan kesabaran ekstra jika menghadapi dua tuyul itu," ucap seseorang yang tak jauh darinya. Nathan menoleh dan mendongakkan kepalanya.
"Kamu di sini?" ucap Nathan yang di bantu berdiri oleh orang itu.
"Karena aku merindukan kedua bocah itu, walau bagaimana pun juga nakalnya. Mereka tetaplah anak angkatku," keluh Bara.
"Apa hanya itu niat mu?" ucap Nathan menyelidik.
"Tentu saja, apa kamu ingin sekutu?" kilah Bara dan memberikan penawaran seraya tersenyum smirk.
Mereka terkejut mendapatkan doorprize tak terduga dari twins L, sebuah tepung tepat mengenai Bara dan juga Nathan. Al dan El bertos ria sembari keluar dari ruangan dengan cepat, Bara dan Nathan menjadi geram kembali mengejar kedua anak kembar itu.
Dita dan Naina yang sedang membuat kue di dapur, terkejut melihat aksi kejar-kejaran mereka. Dan berusaha menghentikan mereka, bahkan Naina juga ikut mengejar mereka hingga ke kolom renang yang tak jauh dari kejadian.
Demi menghentikan kekacauan itu, Naina menangkap twins L dan kehilangan keseimbangan, akibat dari senggolan Al.
Dengan cepat Bara menangkap Naina, tapi sayangnya kalah cepat dengan gravitasi bumi. Naina tercebur ke dalam kolom renang, dengan sigapnya Bara menyeburkan dirinya untuk menyelamatkan Naina.
Semua orang menghentikan larinya dan menatap kejadian itu, Nathan yang sangat kesal dengan kedua putranya datang untuk menghampiri keduanya.
"Kalian sangat nakal sekali, Ayah menyita ponsel dan juga laptop kalian," ancam Nathan.
"Maaf kan kesalahan kami, Ayah." Twins L menatap Nathan dengan jurus pamungkasnya, Nathan menghela nafasnya dengan kasar.
"Untuk kali ini kalian Ayah maafkan, jangan mengulanginya lagi," seloroh Nathan yang bertolak pinggang.
"Apa begini ibu mengajari kalian?" Dita menatap twins L dengan tegas.
"Maaf Bu," sahut mereka dengan kompak.
"Yasudah, ayo kita pergi. Dan bersihkan juga diri mu, Sayang," tutur Dita yang melirik ketiga pria tampan itu.
Bara berusaha menolong Naina dengan wajah yang cemas, "bagaimana? apa akting ku sangat bagus?" ucap Naina yang tertawa.
"Kamu bisa berenang?" tanya Bara yang tak habis pikir dengan wanita itu.
"Tentu saja dia bisa berenang, kamu kira apa hah! bahkan dia memenangkan banyak mendali di setiap kompetisi berenang," sahut Nathan dari kejauhan.
"Berani sekali kamu mempermainkan ku?" geram Bara yang berenang ke arah Naina.
"Kejar saja jika kamu bisa," ledek Naina yang berenang menjauhi Bara.
"Jangan panggil nama ku Bara, jika tak bisa mengejarmu NAINA. Berenanglah yang jauh, aku bahkan bisa menangkapmu dengan sangat mudah," batin Bara sambil menyeringai.
Naina sangat senang karena bisa menghindari pria yang bernama Bara si playboy. Senyumnya luntur di saat melihat pria yang selalu membuatnya jengkel berada tepat di hadapannya saat ini.
"Hehe....masih ingin lari lagi? atau kamu menyerah?" ucap Bara yang mendekati Naina. Karena sedikit khawatir, Naina mundur hingga tidak bisa mundur lagi.
"A-apa yang ingin kamu lakukan, menjauhlah."
"Kenapa? apa kamu takut?" decit Bara yang tersenyum.
Bara mendekap tubuh Naina dan memeluknya sangat erat. Naina hanya terdiam tanpa melakukan perlawanan sama sekali, mereka menikmati moment yang sangat romantis di dalam kolom renang. Hingga moment yang indah itu di rusak oleh El yang melemparkan sandalnya mengenai Bara.
"Sial, lagi-lagi mereka merusak moment indah ku," batin Bara yang kesal.