
Di malam hari, Nathan berdiri di balkon dan mengeratkan genggaman nya, pandangan lurus dengan pikiran yang kacau. "Kenapa dia harus kembali setelah aku sudah bahagia dengan Dita, apa yang dia inginkan lagi dariku," gumam Nathan dengan rahang yang mengeras.
Seketika suasana hatinya menjadi hangat, saat Dita memeluknya dari belakang dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya yang cantik. "Apa yang kamu pikirkan? ayo masuk, di sini sangat dingin." Dita melepaskan pelukan itu dan membalikkan badan Nathan hingga mereka berhadapan.
"Kamu masuklah dulu, aku akan menyusul nanti," tolak Nathan yang tak berani menatap mata istrinya.
"Jangan menyembunyikan sesuatu dariku, katakan saja. Itu bisa membuat bebanmu sedikit berkurang." Dita sangat mengenal suaminya dengan baik, dia mengetahui ada kegelisahan di benak Nathan.
Nathan menghirup udara yang dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, "ini menyangkut masa lalu ku."
"Ceritakan saja, apa kamu tidak mempercayaiku?" tutur Dita yang mengenggam tangan Nathan dengan erat.
"Aku menderita mysophobia dan merasa jijik bersentuhan dengan wanita karena orang masa lalu ku. Dia bernama Celin, cinta pertama ku. Aku sangat mencintainya, memberikan dan menuruti kemauannya yang hobi berbelanja. Hingga dia mengkhianatiku dan membuat aku jijik jika bersentuhan dengan wanita lain selain diri mu."
Dita tersenyum lembut menatap wajah suaminya, "apa yang di katakan oleh hati mu?"
"Aku hanya merasa jijik dengannya dan juga membenci wanita itu," geram Nathan.
"Berdamailah dengan masa lalu mu, aku mendukung jika hal itu terjadi."
"Apa kamu tidak cemburu? bagaimana jika dia mencoba untuk merebutku dari mu?" ucap Nathan yang memeluk erat tubuh istrinya.
"Tenang saja, aku bisa menangani itu dengan sangat baik," sahut Dita yang tersenyum.
Twins L yang sedang meretas file lama milik Nathan menemukan sebuah foto wanita yang bergandengan tangan dengan Ayahnya, "eh, siapa wanita yang di dalam foto ini?" ucap El yang menyipitkan matanya.
"Lupakan saja, itu pasti teman lama Ayah. Lebih baik kita akhiri ini, sebelum Ayah mengetahui tindakan kita." Al bergegas meninggalkan ruang kerja milik Nathan di ikuti oleh El yang sudah mengcopy foto wanita itu di dalam flashdisk miliknya.
****
Di sisi lain, seorang anak kecil menangis saat mengetahui fakta yang baru saja terungkap. Cairan bening yang mengalir begitu deras di pipinya, bukti dari kesedihan dan luka yang teramat dalam di rasakan.
"Apa? jadi selama ini Mommy lah yang mengkhianati Daddy? aku sangat mempercayai Mommy dan menyalahkan Daddy atas perpisahan mereka," batin Abian yang menangis tersedu-sedu.
Abian sangat kecewa dengan ibunya yang mencintai pria lain yang tak lain adalah Ayahnya twins L. Dia terus menangis seorang diri di sebuah kamar yang gelap, merutuki nasib nya yang tidak pernah di perhatikan oleh keluarga kandungnya. Abian menghapus air mata dan berusaha tetap tegar, walaupun itu sangat lah mustahil.
Mengambil ponsel untuk menghubungi Ayahnya yang berada di Amerika. Berharap sang Ayah mau mengangkat telfon darinya, hingga telfon itu tersambung membuat Abian sangat senang.
"Hallo Daddy."
"Maaf, ini siapa?" jawab seseorang di balik telfon.
"Kamu yang siapa? di mana Daddy ku?"
"Oh maaf, siapa Daddy mu?"
"Ponsel itu milik Daddy ku, Farel. "
"Dia ada di kamar mandi, apa kamu bernama Abian?"
"Benar dan siapa kamu? kenapa ponsel Daddy bisa di tanganmu?"
"Karena Farel adalah suamiku yang baru saja menikah, jangan mengganggu kegiatan kami."
Wanita itu memutuskan sambungan telfon secara sepihak membuat Abian kembali menangis. Ternyata kedua orang tuanya sama-sama mengkhianatinya, mencoba untuk memejamkan matanya menghilangkan sedih walau sesaat.
****
"Ada apa? kenapa kamu terlihat gelisah?" ucap Dita yang memegang pundak sahabatnya.
"Tidak, aku baik-baik saja."
"Jangan bohong kepadaku! jika kamu baik-baik saja, kenapa dari tadi aku melihatmu mondar-mandir."
"Entahlah, aku sangat bingung dengan perasaanku," cetus Nurma yang duduk di sofa tak jauh dari nya di ikuti oleh Dita di belakang.
"Jangan bilang jika kamu sedang jatuh cinta. Ya ampun, aku tidak percaya dengan ini," ujar Dita yang membekap mulutnya sendiri.
"Jangan sok tau, aku tidak mencintai siapa pun," kilahnya.
"Katakan saja."
"Hem begini, sewaktu aku melihat Daniel bersenda gurau dengan wanita lain membuat aku sangat kesal, mereka seakan tidak menganggapku ada," ucap Nurma dengan perasaan yang sangat kesal mengingat kejadian itu.
"Aha, aku tau penyebabnya, jika kamu mencintai Daniel. Aku sarankan, ungkapkan perasaan mu padanya sebelum dia bersama dengan wanita lain," ujar Dita yang meninggalkan sahabatnya sambil tersenyum.
Nurma mencerna perkataan dari Dita, mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang. Tangannya sedikit gemetar dan sedikit gugup, hingga Nurma memutuskan untuk mengirim pesan online kepada Daniel.
Di sela-sela pekerjaan yang padatnya, membuat Daniel tersenyum ketika menerima pesan dari Nurma. Dia menyetujui untuk bertemu di sebuah danau setelah mengerjakan tugasnya.
Sesuai rencana, Daniel menggunakan pakaian yang sangat cocok untuknya, memakai parfum dan juga menyisir rambutnya dengan acak. Berpenampilan sangat berbeda saat di kantor, dan jangan lupakan senyum yang tidak pernah luntur dari wajahnya.
Sampainya di danau, Daniel melihat seorang wanita yang berbalik badan menoleh kepadanya. Dia berusaha mengatur ekspresi wajahnya walau sebenarnya dia sangat kagum dengan penampilan Nurma yang sangat cantik.
"Hai," sapa Nurma yang sedikit gugup.
"Hem, ada apa?"
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu,"
"Ya sudah, bicarakan saja." Daniel memperlihatkan wajah acuh tak pedulinya, tapi lain di hati yang sangat bersorak gembira.
"Se-sebenarnya....A-aku sangat menyukai mu," lirih pelan Nurma yang menundukkan kepala menahan malu.
"Apa? aku tidak mendengarnya?" sahut Daniel.
"Aku mencintai mu," ucap Nurma.
"Apa? aku masih tidak mendengarnya."
"Apa kamu tuli? aku mengatakan, jika aku mencintaimu," jawab Nurma yang sangat kesal dengan tinggkah pria di sampingnya.
"Akhirnya, tidak sia-sia aku meminta Aira untuk berakting, sudah lama aku ingin mendengarkan kalimat itu dari mulutmu. Aku juga sangat mencintaimu," tutur Daniel yang memeluk Nurma dan tersenyum.
"Jadi, siapa itu Aira?" keluh Nurma yang masih kesal.
"Aira adalah sepupuku, dia sangat mengasihani nasibku yang selalu di tolak oleh mu. Untung saja, dia mempunyai ide yang cemerlang itu."
"Kamu jahat, karena ulahmu membuat aku tidak bisa tidur dengan nyenyak," ucap Nurma yang membalas pelukan itu.
"Maaf kan aku! sungguh aku sangat senang dengan ini, mulai sekarang kamu hanyalah miliku seorang. I love you," ucap Daniel yang mengecup kening Nurma.