Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 207 ~ S2


Nuasa kamar berwarna abu-abu putih membuat kesannya terlihat mewah dan elegan, dengan beberapa dekorasi yang menjadi nilai plus dan memanjakan mata bagi siapa saja yang melihatnya. Vivian sangat kesepian semenjak Lea pergi ke Amerika, dia sudah mencoba beberapa permainan game yang di ponselnya, menonton televisi sambil mengemil, dan berguling-guling di balkon tetap saja rasa bosannya tidak hilang.


Ingin sekali dia menghampiri Shena dan Anna, tapi mereka tidak ada di mansion melainkan pergi ke kelas ibu hamil. "Huff....aku serasa hilang akal yang tidak mempunyai tujuan," gumamnya yang sekarang menatap para semut yang berbaris di balkonnya, saking tidak ada pekerjaan, Vivian menghitung jumlah semut yang melintas di depannya.


"Hei semut, kenapa kalian sangat tertip sekali. Aku bahkan malu dengan kalian yang sangat pintar berbaris, kalian tau? jika aku sangat-sangat bosan di mansion mewah ini," ujar Vivian yang berbicara dengan para semut.


Vivian mendengus kesal, hingga dia mempunyai ide untuk pergi ke Danau. Tempat yang sangat menyejukkan, apalagi duduk di atas pohon dan melihat pemandangan dari atas sangatlah menyenangkan.


"Lebih baik aku pergi ke Danau saja, siapa tau bisa membuat hidupku lebih terarah," monolognya yang berjalan menuju keluar kamar dan meminta pak supir untuk mengantarkan nya.


"Mau kemana?" tanya Kenzi yang menatap Vivian yang sekarang menoleh ke arahnya, Vivian menghentikan langkahnya yang ingin masuk ke dalam mobil.


"Aku sangat bosan di mansion, lebih baik jika aku pergi ke Danau untuk menenangkan pikiranku," sahut nya.


"Aku ingin ikut," seloroh Kenzi yang berjalan masuk ke dalam mobil tanpa mendengarkan tolakan Vivian yang jengkel terhadap kakak nya.


"Jangan mengangguku Kak, lebih baik jika Kakak pergi ke tempat lain saja."


"Tidak, jalankan mobilnya Paman." Kenzi memerintah pak supir, sedangkan Vivian mendengus kesal saat menatap kakak yang menurutnya sangat menyebalkan.


Mobil berhenti di sebuah Danau yang sangat indah, air yang tenang dan beberapa suara burung yang menghiasi keindahan itu.


Vivian dan Kenzi turun dari mobil dan berjalan ke pinggir Danau, mereka melihat seorang pria yang sedang duduk di pinggir Danau.


"Siapa itu? aku seperti mengenalnya," ucap Kenzi yang berusaha mengingat pria itu.


"Itu Sad boy," sahut Vivian yang membuat Kenzi mengerutkan keningnya.


"Siapa Sad boy?"


"Siapa lagi jika bukan Rayyan atau Lucifer itu."


"Bagaimana kamu bisa yakin?" ujar Kenzi yang melihat pria itu berada jauh dari mereka dan menatapnya dengan seksama.


"Tentu saja aku sangat yakin, dia menjadi salah satu penghuni di Danau ini. Hampir setiap hari dia berkunjung ke sini."


"Bagaimana kamu bisa tau?"


"Karena aku juga selalu datang kesini," sahut Vivian yang tersenyum sekilas.


"Rayyan....kemarilah dan bergabung dengan kami," pekik Kenzi membuat Vivian menutup kedua telinganya dengan spontan.


"Hentikan, apa kakak ingin gendang telinga ku pecah hah?" gerutu Vivian.


Rayyan menoleh dan tersenyum saat melihat Kenzi yang telah resmi menjadi sahabatnya beberapa hari yang lalu. Dia berjalan mendekat dan duduk di samping Kenzi, mereka saling bertos ria sesuai gaya yang telah mereka sepakati.


"Kenapa kamu melamun sendiri di sana?" tanya Kenzi dengan sangat antusias.


"Aku hanya memikirkan perkataan Daddy untuk kuliah di Paris," ungkap Rayyan.


"Itu artinya aku akan sendiri, apalagi Mommy Caroline tengah hamil besar dan kapan saja bisa melahirkan di bulan ini," seloroh Rayyan yang menundukkan kepala dengan raut wajah yang sedih.


"Bagaimana jika aku juga kuliah bersama mu di Paris, kita akan tinggal bersama dan kamu tidak akan merasa sendiri lagi. Jika Mom mu melahirkan, kamu bisa meminta ijin dari pihak kampus. Paman Zean sangat lah kaya dan jangan takut akan hal sepele itu."


"Kamu benar! ayo kita ke paris.


" Tentu saja."


"Hai helo, kalian mengobrol bersama tanpa melihat ada orang lain yang dekat dengan kalian. Apa kalian melupakan keberadaan ku?" cetus Vivian yang pergi meninggalkan kedua pria itu dengan kesal. Dia kembali menoleh ke belakang berharap ada yang mengejarnya, namun itu hanyalah pandangan semu saja. Rayyan dan kakaknya Kenzi asik mengobrol yang membuatnya mendelik di sertai mendengus kesal.


****


Shena dan Anna menjadi sangat dekat bagai sahabat, mereka selalu bersama. Apalagi di saat sekarang yang sama-sama hamil dengan usia kandungan yang tidak begitu jauh. Sepulang dari kelas ibu hamil, mereka mendudukkan diri ke sofa yang sangat empuk.


Anna menyalakan televisi dan mereka menonton bersama.


Kali ini mereka tertarik melihat kartun upin ipin yang membuat mereka tertawa, "mereka sangat lucu dan tampak menggemaskan," ucap Shena yang menunjuk kartun itu.


"Kamu benar, aku sangat menyukainya. Apalagi dengan kepala botak itu, bagaimana rasanya ya....jika aku mengelus kepala botak di saat ingin tidur," tutur Anna membuat Shena menginginkan hal yang sama.


"Aku juga sangat menginginkannya," jawab Shena. Mereka berdua menundukkan kepala dengan sedih, hingga twins L yang baru pulang bekerja atau lebih tepatnya menyerahkan pekerjaan kepada asistennya Ben, Roger, dan Audrey.


"Kenapa kalian sedih? tanya Al dan El bersamaan. Mereka berjalan mendekati istri masing-masing dan memeluknya dengan mesra.


Shena dan Anna saling menatap dan tersenyum jahil, " kami sangat ingin mengelus kepala botak sebelum tidur," pinta Anna yang juga mewakili perasaan Shena.


Al den El saling menatap bingung maksud dan tujuan dari para istri mereka, "katakan yang sebenarnya apa yang kalian inginkan."


"Karena ini efek dari menonton kartun upin ipin, kami juga menginginkan hal yang sama," sahut Shena yang tersenyum.


"Kami menginginkan jika kepala kalian itu botak layaknya kartun yang sedang kami tonton," sambung Anna.


"APA?" ucap twins L yang sangat syok. Bagaimana tidak? jika rambut yang mereka rawat dengan sangat baik dan menjadi penunjang ketampanan harus di pangkas dengan permintaan nyeleneh para istri.


Anna dan Shena mengangguk dengan cepat dan tersenyum, "pasti kalian akan tampak menggemaskan," celetuk Shena yang mendelik.


"Apa tidak ada solusi lain?" tawar El yang mendapat gelengan kepala dari Anna.


"Tidak ada penawaran apapun, ini bukanlah permintaan kami melainkan anak-anak kalian."


"Oh astaga....ketampanan ku akan berkurang 70 persen jika aku menggundulkan kepala," batin El yang membayangkan jika kepalanya botak licin.


"Aku sudah merawatnya dengan sangat baik, bagaimana jika aku menjalani hari-harinya ke kantor?" batin Al yang juga membayangkan apa yang akan terjadi kepadanya.


"Jangan memikirkan itu terlalu lama, cepat lah!" rengek Anna yang membuat kedua pria itu tersenyum paksa.


Shena dan Anna sangat puas saat memangkas rambut suami mereka tanpa meninggalkan rambut yang telah di pangkas habis.