
Sesampainya di rumah sakit Wijaya, Nathan menggendong putrinya dan berteriak memanggil dokter maupun suster. Lea di letakkan di atas brankar yang telah di siapkan oleh suster, membawa Lea untuk segera di tangani oleh dokter. Abian mengabari twins L mengenai kabar Lea, dia tidak sanggup mengabari Dita.
Tak lama, twins L datang dan membawa Ibu mereka yang sedang menangis. Dita menghampiri suaminya untuk menanyakan kondisi Lea, Nathan terdiam karena dia sendiri tidak tau kondisi putrinya yang terkena racun dari pisau Max.
"Kenapa kamu diam, cepat katakan bagaimana kondisi putriku," desak Dita, Nathan tak kuasa melihat air mata istrinya, dia memeluknya berharap mengurangi kesedihan istri tercintanya.
Daniel, Bara, dan keluarga mereka datang untuk melihat kondisi Lea. Sementara twins L menghampiri Abian, "cepat katakan kepadaku, kenapa Lea bisa masuk ke rumah sakit?" ucap Al dengan tatapan tajam.
"Aku tidak mengetahui kejadian awalnya, hanya saja aku melihat Lucifer menggendong Lea setelah mereka bertarung. Tapi yang aku herankan, kenapa sekujur tubuh Lea perlahan-lahan mulai berwarna biru," jelas Abian yang kembali mengingat kejadian itu.
Twins L sontak terkejut sekaligus marah saat mendengar penuturan dari Abian, "aku sangat yakin jika Lea terkena racun," ucap El yang melirik Al.
"Kamu benar, aku tidak akan mengampuni anak itu. Berani sekali dia melukai adik kesayanganku," ucap Al yang memukul dinding di belakangnya dengan sangat kuat, hingga tangannya berdarah.
"Tenangkan dirimu, kamu tau sendirikan jika Lucifer itu memiliki kepribadian ganda," ucap El yang menenangkan Al.
Al yang tidak bisa menahan amarahnya ingin mencari Lucifer, pintu terbuka membuat Al menghentikan langkahnya. Terlihat seorang dokter keluar dari ruangan tempat di mana Lea di rawat, Dita dengan cepat menghampiri sang dokter.
"Bagaimana kondisi putriku, ayo katakan!" desak Dita.
"Sayang, tenanglah!" ujar Nathan.
"Begini, luka yang berada di punggung pasien terkena racun yang sangat berbahaya, sangat sulit untuk mengobatinya, kami sudah berusaha keras. Kondisi pasien akan di pantau 5 menit sekali, jika pasien tidak sadar dalam waktu 30 menit, kami tidak bisa berbuat apa pun lagi," kata sang dokter yang menghela nafas dengan kasar sembari menatap ke bawah.
"Bagaimana kamu bisa mengatakan hal seperti itu, hah. Bukankah kamu dokter yang sangat hebat di kota ini, maka kerahkan seluruh kemampuanmu untuk menyembuhkan putriku," ucap Nathan yang meninggikan suaranya, sembari menarik kerah leher Antoni dengan kuat.
"Maafkan aku Nathan, sangat sulit untuk menemukan penawar racun itu."
"Aku memohon kepadamu untuk menyembuhkan putriku." Dita menyatukan kedua tangannya sambil memohon, air mata yang sangat deras mengalir di pipinya, hatinya rapuh saat mengetahui nasib putrinya yang di ambang kematian.
Ini kali keduanya twins L menangis, setelah dokter menyatakan jika Dita tiada dan sekarang Lea yang sekarat. Bukan hanya mereka saja yang sedih, tetapi semua keluarga.
"Maafkan aku, ini di luar kemampuanku," sahut dokter Antoni yang menghela nafas dengan kasar.
Nurma mencoba menenangkan Dita, sementara Daniel dan Bara mencoba menenangkan Nathan yang bersedih.
Nathan tertawa miring, "bahkan semua hartaku tidak bisa menyembuhkan putriku, lalu untuk apa semua kekayaanku yang tidak ada artinya," lirih pelan Nathan dengan tatapan sendu.
"Ini semua salahku," lirih Dita yang menatap lurus.
"Ini bukan salah siapa pun, ini takdir. Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri Dita," ucap Nurma.
Al tidak bisa menahan amarahnya lebih lama lagi, dia pergi meninggalkan semua orang mencari pelaku yang membuat adiknya terkapar tak berdaya di rumah sakit. El yang khawatir dengan kemarahan Al, segera menyusul saudara kembarnya.
Al mengendarai mobil dengan sangat cepat menuju mansion Zean, karena dia sangat yakin jika Lucifer berada di sana. Tak butuh lama baginya untuk sampai di mansion itu, karena dia mengendarai mobil tanpa memerhatikan lampu lalu lintas.
Al memaksa untuk masuk ke dalam mansion yang di jaga dengan sangat ketat itu, tapi dia tidak peduli dan menyerang siapa saja yang menjadi penghalang langkah nya.
"Lucifer....Lucifer keluar kamu, cepat keluar!" teriak Al.
Lucifer terbangun dari tidurnya, berjalan tertatih-tatih menuju asal suara yang memanggil namanya. Namun, kondisi nya membuat Lucifer kesulitan untuk berjalan.
Suara pintu di tendang dari luar kamar nya, terlihat Al dengan tatapan mata kebencian yang sangat dalam kepadanya. Al berjalan dengan cepat menghampiri Lucifer yang berbaring di atas lantai dan memberi bogeman mentah di wajah Lucifer hingga meninggalkan bekas yang memerah.
"Itu tidak setimpal dengan perbuatan mu terhadap adikku," ucap Al yang kembali memukul Lucifer, El yang merasa kasihan dan prihatin dengan Lucifer mencoba menghalangi Al untuk tidak melayangkan pukulan.
"Lepas, aku ingin menghabisinya," ucap Al yang mendorong tubuh El hingga terpental.
Zean yang berada di laboratorium miliknya mendengar suara yang sangat keras di kamar putranya, perasaan cemas sebagai seorang Ayah membuatnya menyusul Lucifer ke kamarnya.
Zean sangat terkejut dengan keadaan Lucifer yang babak belur oleh Al, dengan cepat dia melerai pertikaian dan keributan itu.
"Minggir Paman, jangan menghalangi niatku untuk membunuh nya," seloroh Al.
"Sudah cukup untukmu menyakiti nya, sudah hentikan ini," tegas Zean yang memeluk putranya yang terkapar di lantai.
"Karena ulah anakmu yang membuat keadaan adikku sekarat di rumah sakit, jika adikku tidak sadar maka dia akan meninggalkan kami semua. Ayo katakan Paman, apa yang harus aku lakukan?" pekik Al yang terduduk tak berdaya sembari meneteskan air matanya.
"Aku tau ini semua ulah altar jahat anakku, aku sudah mempelajari racun yang telah di buat oleh Lucifer. Dan aku sudah membuat penawarnya, ini ambillah. Tapi aku mohon jangan sakiti putraku, hanya dia yang aku miliki di dunia ini," ucap Zean yang memberikan sebuah ramuan penawar racun yang baru saja dia buat.
Twins L mengambil ramuan itu dan segera pergi dari mansion Zean menuju rumah sakit Wijaya. Sementara Zean menelfon dokter pribadi miliknya untuk mengatasi keadaan Lucifer yang terkapar lemah.
Al melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, El melirik jam di tangannya. "Al cepatlah sedikit, kita hanya mempunyai waktu 5 menit lagi," ucap El.
Rumah sakit Wijaya tinggal sedikit lagi, tapi mobil mereka terjebak di kemacetan parah.
"Sial," gumam Al yang memukul setir mobilnya.
El menelfon Abian untuk menyusulnya yang hanya memiliki waktu sedikit lagi, dengan cepat Abian menghampiri twins L menggunakan motor.
Abian menghampiri twins L, dengan cepat El duduk di atas motor yang di kendarai oleh Abian. Mereka dengan cepat menuju rumah sakit dengan waktu yang tersisa 2 menit lagi.