Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 185 ~ S2


Lea menghabiskan waktunya dengan bersepeda berkeliling mansion yang sangat luas, mendengarkan musik menggunakan headset di telinga menjadi hiburan tersendiri baginya. Menganyuh sepeda dengan kecepatan sedang menikmati suasana yang indah. Tapi dia terkejut saat ada tangan yang melingkar di pinggangnya yang ramping, terpaksa sepedanya dia rem dan mencari tau penyebab nya.


"Abian?" ucap Lea yang menoleh kebelakang, terlihat pria tampan yang duduk di bagian belakang seraya tersenyum menawan.


"Suasananya sangat indah ya, bagaimana jika kita bersepeda di luar saja, pasti sangat menyenangkan."


"Ya tuhan....dosa apa yang aku lakukan di masa lalu. Bagaimana kamu bisa tiba-tiba muncul?" cetus Lea yang sangat heran dengan pria yang selalu ada di saat dia sendiri dan butuh pertolongan.


"Dirimu adalah magnet bagiku! kemana pun kamu berada, aku akan selalu selalu dekat dengan mu," ucap Abian yang terus memeluk pinggang Lea.


"Lupakan itu, turun dari sepedaku. Aku masih ingin berkeliling," ujar Lea.


"Aku ikut."


"Hah, baiklah jika kamu memaksa." Lea mengayuh sepeda dengan kecepatan sedang dan yang pasti bersusah payah.


"Ya ampun....ini sangat sulit, pria di belakang sangatlah berat dan apa ini? dia hanya duduk diam dan memeluk pinggangku dari belakang," gumam Lea yang berusaha mengayuh sepeda. Sementara Abian tersenyum menikmati suasana yang menurutnya sangatlah indah, "moment indah ini akan selalu aku kenang," batin Abian.


"Kenapa sepeda ini sangat lamban sekali, tambah kecepatannya," ucap Abian dengan sedikit protes.


Lea menghentikan sepedanya dan menoleh ke arah Abian, "hei, kamu pikir apa hah? aku sudah berusaha mengayuh sepedanya, tapi tubuhmu sangatlah berat."


"Usahamu belum maksimal, lakukan dengan benar. Lihatlah suasananya sangat lah indah, sebentar lagi matahari terbenam." Ucapan Abian mendapatkan reward dari Lea berupa cubitan di pinggangnya, dia sangat jengkel dengan pria tampan itu.


"Kita pindah posisi saja, biarkan aku yang mengayuh sepedanya," tawar Abian yang berdiri dan menggeser posisi Lea untuk duduk di belakang.


"Nah, ini baru namanya adil."


"Pegangan dengan erat," kata Abian yang tersenyum saat melirik saang pujaan hati. Lea berpegangan dengan erat, menikmati suasana dan angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahnya. Dia sangat bahagia begitupun Abian yang juga bahagia saat melihat Lea bahagian.


"Aku akan melamarmu Lea dan akan menjadi milikku seutuhnya, aku tidak ingin jika ada orang lain yang merebutmu dariku," batin Abian yang tersenyum.


****


Al pulang dengan wajah sumringah, membuat kedua orang tuanya menatap bingung dan penasaran. Shena hanya terdiam, karena dia sendiri tidak tau harus senang atau sedih. Di sisi lain, dia sudah menerima Al menjadi suaminya, tapi di sisi lain juga bimbang karena sebentar lagi mempunyai 3 orang anak sekaligus di usianya yang masih sangat muda.


"Kalian darimana saja?" tanya Dita.


"Kami ke dokter dan juga jalan-jalan ke beberapa tempat," sahut Al.


"Ke dokter?" ulang Dita yang mengerutkan keningnya.


"Aku akan memberikan kabar baik ini kepada Ibu dan Ayah," ucap Al dan Shena yang duduk di atas sofa.


"Katakan kabar baik apa yang ingin kamu sampaikan," sahut Nathan yang menatap putranya dengan seksama.


"Ayah, akan ada kecebong baru yang memenuhi mansion ini," ucal Al dengan bangga.


"Kecebong?" gumam Shena yang mengerutkan keningnya.


"Apa? jadi aku akan jadi seorang nenek?" sambung Dita yang sangat bahagia.


"Itu benar, yang lebih bagusnya lagi. Aku mendapatkan 3 kecebong sekaligus, selamat Ayah sebentar lagi menjadi kakek kecebong baru," tutur Al yang mendapat jitakan kepala oleh Nathan.


"Mimpi apa aku yang mempunyai tiga cucu sekaligus!"


"Itu kabar yang sangat bagus, Ibu akan mengatakan kabar baik ini kepada semua orang terutama Nurma dan Daniel," ucap Dita yang bersemangat.


Tiba-tiba Al kembali merasakan mual saat kedatangan Lea dan juga Abian yang baru pulang dari bermain sepeda. "Kalian sangat bau sekali, menjauhlah dari ku." ketus Al yang menutupi hidungnya.


"Eh, kami baru saja sampai dan kamu menyalahkan aku dan juga Lea? kamu sangat aneh sekali," tukas Abian yang duduk di samping Al, berniat untuk mengerjainya.


"Menjauhlah dari ku," cetus Al yang menendang Abian hingga terjatuh dari atas sofa, karena tidak tahan dengan aroma tubuh dari Abian membuat Al memuntahkan isi perutnya mengenai punggung Abian.


"Iiyuuuh....sangat menjijikkan," celetuk Lea yang melihat kejadian itu. Dita terkejut dengan tindakan Al, sedangkan Nathan tertawa terbahak- bahak, "nasibmu sangat sial sekali," seloroh Nathan yang menatap Abian.


"Kenapa kamu memuntahkan ku? lihat perbuatanmu," keluh Abian.


"Sudah aku bilang untuk tidak mendekatiku, terima saja akibatnya, rasakan dan nikmati sensasinya," jawab Al dengan santai. Dita memerintahkan para pelayan untuk membereskan kekacauan itu, sementara Al merasa lemas dengan kondisinya yang sangat malang.


"Kenapa kamu tiba-tiba muntah begitu? apa kamu sakit?" ucap Dita yang khawatir.


"Ini karena kehamilan Shena, aku yang merasakan semua keluhan dari wanita hamil. Aku juga tidak mengerti dengan jelas, tapi itulah yang di katakan Jimmy kepadaku."


"Benarkah? wah, sepertinya anakmu sangat menyayangimu ya," sela Bara yang baru bergabung.


"Tentu saja, aku mendapatkan tiga sekaligus," sahut Al yang mengacungkan 3 jarinya ke arah Bara dengan bangga.


"Hah, sebentar lagi mansion ini akan ramai dengan anggota keluarga. Aku akan bermain dengan cucuku dan menghabiskan masa tuaku bersama dengan anakmu."


"Dia cucuku bukan cucumu, pasti dia memilihku karena aku akan menjadi Kakeknya yang sangat tampan," sela Nathan, sedangkan yang lainnya hanya menatap kedua pria itu dengan memijit pelipis.


"Kalian ini selalu saja merebutkan hal sepele, tenang saja akan ada tiga bayi yang lahir di keluarga Wijaya," cetus Dita.


"Kamu benar, para pria ayo pergilah dari sini. Biarkan para wanita itu berbincang," ajak Bara.


"Ayo," sahut Nathan dan Al serempak.


Tinggallah Shena, Dita, dan Naina di ruangan itu. Naina dan Dita melihat dengan jelas, bagaimana Shena hanya terdiam tanpa berniat membuka suara.


"Ada apa Nak? kenapa kamu diam saja?" tanya Dita yang memegang pundak menantunya.


"Apa aku bisa jadi seorang ibu di usiaku baru 17 tahun, apalagi aku mendengar jika melahirkan itu sangat menyakitkan dan aku mempunyai bayi kembar tiga," jelas Shena yang sangat cemas dengan keadaannya.


Dita dan Naina saling melirik satu sama lainnya, mereka tersenyum dan berusaha untuk memberi pengertian kepadanya. Tak lama, Daniel dan Nurma datang untuk menghampiri putrinya. Mereka sangat senang dengan kabar kehamilan dari Shena, tapi mereka juga takut dengan kondisi Shena yang hamil di usia 17 tahun.