
Dita yang sangat bosan dengan keadaan nya yang saat ini tidak boleh melakukan hal apa pun, menekan remote televisi untuk menghilangkan kejenuhannya. Di saat ingin mematikan televisi, dia melihat sebuah iklan mangga yang sedang di petik. Air liurnya hampir menetes dengan mata yang sangat berbinar, berusaha mengendalikannya. Nathan yang baru menuruni tangga, tak sengaja menatap raut wajah Dita dan menghampirinya.
"Ada apa, Sayang?" tutur Nathan yang memeluk tubuh sang istri dari belakang.
"Aku ingin mangga muda itu," tunjuk Dita ke arah televisi.
"Kebetulan sekali, di samping mansion ada pohon mangga yang sedang berbuah sangat lebat. Aku akan meminta pelayan untuk mengambilkannya untukmu," jawab Nathan.
"Tidak, aku ingin kamu sendiri yang memanjat pohon mangga dan mengambilkan aku buah nya yang masih muda." Ucapan dari Dita membuat Nathan tak habis fikir, jika ada pelayan kenapa harus dia yang melakukannya.
"Sayang, di mansion ini banyak sekali pelayan. Kita minta bantuan dari mereka saja ya," bujuk Nathan yang duduk di samping Dita.
"TIDAK, aku hanya ingin suamiku yang mengambilnya. Apa para pelayan itu suamiku? cepatlah, aku sangat ingin memakannya sekarang," bujuk Dita tanpa penolakan.
Nathan menghela nafas dengan kasar, "kamu tunggu di sini, sementara aku akan memanjat pohon mangga itu."
"Tidak, aku ingin melihat secara langsung bagaimana perjuangan suamiku ini," ucap Dita yang menoel dagu Nathan.
Dengan terpaksa Nathan membawa Dita dan menuju samping mansion. Twins L dan Abian yang sedang bermain, tak sengaja melihat mereka pergi dan mengikutinya. Nathan menatap pohon mangga yang sangat tinggi itu, menelan saliva dengan susah payah.
"Sayang, pohon itu sangatlah tinggi. Bagaimana jika aku mengambilnya menggunakan galah?" bujuk Nathan dengan tataan penuh harap.
"Itu ide yang sangat buruk, aku hanya ingin kamu memanjat pohon mangga itu dan mengambilkan buah nya yang masih muda untukku."
"Tapi itu sangat tinggi, bagaimana jika aku terjatuh nantinya?"
"Aku akan memijatmu," jawab Dita yang mengangkat kedua alisnya.
"Itu tidak cukup untukku," bisik Nathan dengan tatapan menggoda.
"Baiklah, apapun itu aku menyetujuinya. Sekarang manjatlah dan ambilkan 3 buah mangga yang masih muda. INGAT! 3 buah," cetus Dita yang menunjukkan tiga jarinya di hadapan wajah Nathan.
Nathan sangat bersemangat, karena sebentar lagi dia bisa tidur satu kamar dengan istrinya. "Ini kesempatanku, tapi pohon ini sangat lah tinggi dan juga licin, akibat hujan tadi malam," gumam Nathan yang bersiap untuk memanjat.
"Sedang apa kalian di sini?" ucap seseorang yang mengejutkan ketiga anak laki-laki yang sedang mengintip.
"Hehe....tidak ada. Kami hanya melihat Ayah yang sedang memanjat pohon mangga," sahut El yang cengengesan sembari menggaruk telinganya yang tidak gatal.
"Tidak baik mengintip, ayo kita lihat secara langsung. Ini pasti sangat seru," ucap orang itu yang tak lain adalah Bara.
Mereka menghampiri Dita yang sedang menatap buah mangga muda dengan mata yang berbinar. Apa yang terjadi, Bu? kenapa Ayah memanjat?" ucap Al membuat Dita menoleh.
"Kalian disini? Ibu sangat ingin memakan 3 buah mangga muda dan juga fresh."
"Kamu sangat payah dalam memanjat, cepatlah naik ke dahan itu sebagai pijakan mu," teriak Bara yang di ikuti oleh twins L dan Abian.
"Diamlah, aku sedang berkonsentrasi," pekik Nathan yang baru memanjat 5 meter.
"Ck, diamlah. A-aku sedang berusaha." Pencarian Nathan sukses saat melihat mangga muda yang tak jauh darinya berada di dahan atas. Karena dia sangat senang mendapatkan imbalannya, membuat dia kurang hati-hati dan terjatuh. Mereka yang melihat itu menutup mata beberapa detik dan menghampiri Nathan yang sangat kesakitan di bagian pinggangnya.
"Auhh....pinggang ku rasanya mau patah," seloroh Nathan yang berusaha bangkit tetapi tidak bisa.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" ucap Dita yang sangat khawatir dengan Nathan.
Sementara Bara tertawa terbahak-bahak melihat nasib Nathan yang malang, "begitu saja kamu tidak bisa, dasar payah. Mantan seorang Mafia terjatuh dari pohon mangga?"
"Pinggangku sepertinya patah, bagaimana jika aku tidak bisa berjalan lagi? lihat lah aku yang kesakitan ini. Bahkan, aku tidak kuat untuk berdiri," keluh Nathan dengan manja tanpa menghiraukan ucapan Bara. Twins L dan Abian saling melirik, mereka mengetahui jika Nathan hanya berpura-pura.
El dan Al memegang kaki Nathan dan menyeretnya beberapa meter, "eh, kenapa kalian menyeret Ayah. Cepat lepaskan!" perintah Nathan yang menautkan kedua alisnya.
"Karena Ayah berbohong kepada Ibu, mengambil kesempatan di dalam...." ucapan El terhenti sambil memikirkan kata yang dia lupakan.
"Dalam kesempitan," sambung Bara. Dita menyipitkan kedua matanya menatap Nathan, "jadi kamu hanya mengerjaiku?" ketus Dita yang menolak pinggang.
"Tidak, bukan begitu maksudmu. Ini mangganya aku berikan sesuai permintaan mu, aku ingin menagih kesepakatan tadi," kata Nathan yang memberikan Dita buah mangga.
"Jangan harap. Karena kamu mengerjai aku, sebagai hukumannya, masa tidurmu di luar kamar di perpanjang." Dita menggambil buah mangga dari tangan Nathan dan pergi meninggalkan tempat itu. Nathan menatap punggung sang istri dengan nanar, sementara semua orang tertawa.
"El, ayah tidak akan mengampuni mu," pekik Nathan yang mengepalkan tangan dengan erat saat melihat El yang sudah mengambil langkah seribu.
****
Dengan terpaksa Nathan menuju kantor, karena meeting kali ini tidak bisa di wakilkan. Nathan tidak menghiraukan sapaan dari para karyawannya, berjalan cepat dan di ikuti oleh Daniel di belakangnya.
"Apa kamu sudah menyiapkan semuanya?" tegas Nathan yang memperlihatkan aura kepemimpinan.
"Sudah tuan, meeting sebentar lagi akan di mulai," sahut cepat Daniel dengan formal.
"Bagus."
Setelah meeting sudah selesai, membuat Nathan melonggarkan dasinya. Daniel masih setia mengikuti atasannya dari belakang, untuk menuju ruangan miliknya.
Hingga seseorang memeluknya dengan sangat erat, membuat Nathan dan Daniel menghentikan langkahnya. Nathan terkejut dengan pelukan itu, hingga dia menatap pelakunya.
"Lepaskan aku," ucap Nathan dengan raut wajah yang dingin.
"Tidak, Nathan. Aku mohon, maaf kan kesalahanku yang lalu," tolak wanita yang mengeratkan pelukannya. Hingga Nathan melirik Daniel, dengan cepat Daniel mengangguk dan berusaha melepaskan pelukan dari wanita itu. Nathan membuka jasnya dan membuangnya dengan jijik, menyemprot hand sanitizer ke tangannya yang telah di sentuh oleh wanita itu.
"Kita tidak ada urusan lagi, pergi dari sini sebelum aku memanggil security," tegas Nathan.
Wanita itu tetap kekeuh ingin menghampiri Nathan, tapi terhalang oleh Daniel. "Nathan, aku hanya di jebak oleh orang lain. Beri aku kesempatan sekali lagi," tutur Wanita itu dengan tatapan memohon.
"Aku sudah tidak peduli," jawab Nathan yang pergi meninggalkan tempat itu. Wanita itu berteriak memanggil nama Nathan, dan memarahi Daniel yang menghalangi nya.