
El menembak mobil hitam dengan sangat lihainya, merasa kurang puas, dia memegang dua pistol di tangannya dan menembak lawan. Abian tak tinggal diam, dia juga melakukan hal yang sama seperti El. Penumpang di mobil hitam di perkirakan ada 4 orang di setiap mobilnya, dan menjadi 8 orang. Mereka membalikkan serangan dan mengubah keadaan dengan sangat cepat, Abian dan El merasa tersudutkan. Hingga tembakan dari lawan membuat mobil kehilangan keseimbangan saat ban mobil tertembak.
"Bagaimana ini?" ucap Abian yang melirik El yang fokus menembak.
"Tidak ada cara lain lagi, selain melompat dari mobil," pekik El.
"Itu tidak mungkin, bagaimana dengan Lea," sahut Al yang menatap Lea.
"Jangan khawatirkan aku, kita tidak punya pilihan lain," jawab Lea dengan tegas.
Mereka berempat melompat dari mobil yang terus berjalan masuk ke dalam jurang. Semua orang bernafas lega, dengan cepat twins L menghampiri adik perempuannya dan memeriksa. "Apa kamu baik-baik saja?" ucap Al dan El yang serempak.
"Sepertinya tangan ku terkilir," jawab Lea yang berbohong membuat twins L sangat khawatir. Suasana itu di rusak oleh suara tembakan yang mengarah kepada mereka, Al memeluk adik perempuan nya untuk melindungi dari tembakan.
2 mobil hitam berhenti dan mengepung mereka dengan menodongkan pistol, twins L sangat cemas. Mereka takut jika Lea terluka dan membahayakan keselamatan sang adik, Abian berusaha tetap tenang begitupun Al.
"Ikut dengan kami, atau kalian akan mati," ucap salah satu penjahat yang menodongkan pistol ke arah Lea.
Tidak ada cara lain selain mengikuti perintah dari musuh, hingga twins L sangat terkejut dengan aksi Lea yang merampas pistol dengan sangat mudah dan membalikkan keadaan. Lea memukul wajah pria yang menodongkan pistol ke arahnya dan di sambut dengan tendangan yang membuat orang itu jatuh tersungkur. Tak tinggal diam, twins L dan Abian melakukan perlawanan hingga mereka menumbangkan para penjahat. Twins L menatap Lea dengan tanda tanya, "jadi, selama ini kamu menutupi keahlianmu dari semua orang?" tutur Al.
"Sangat di sayangkan, kalian tidak memahami karakter dia sepenuhnya," cibir Abian.
"Diamlah, kamu merusak suasananya. Lea, katakan yang sebenarnya," sahut El yang melirik Abian dengan sinis dan menatap Lea dengan sangat dalam.
"Saat melihat kakak berlatih, aku mengikutinya diam-diam," jawab Lea dengan santai.
"Apa ada lagi yang kamu tutupi dari kakak?" ujar El.
"Kalian akan melihatnya nanti, jangan urus aku. Selesaikan masalah ini dengan cepat," cetus Lea yang menelfon seseorang. Abian sangat penasaran dan tertarik dengan kepribadian dan juga keahlian Lea yang sangat ahli dalam penyamaran. Walau terlihat polos dan manja ternyata Lea sangat ahli dalam beladiri, dia tidak ingin memperlihatkan bakat tersembunyinya. Karena dia tidak ingin terlibat dengan aliansi Ayahnya yang sekarang di ambil alih oleh kedua kakaknya dan juga Kenzi.
"Dengan siapa kalian bekerja?" ucap Al yang menodongkan pistol kearah salah satu penjahat yang masih hidup.
"Jangan bunuh saya, akan saya katakan," sahut cepat penjahat itu.
"Jangan bertele-tele, cepat katakan sebelum peluru ini menembus otakmu," ucap Al dengan tatapan marahnya sembari menarik pelatuk.
"Kami di perintahkan oleh...." ucapan penjahat itu terhenti saat tembakan berhasil menembus kepalanya, dan mati. El mencari arah penembak dan melihat mobil sport hitam baru saja pergi dari tempat itu, "ini seperti konspirasi," gumam El.
"Tapi siapa mereka?" celetuk Lea yang menatap ketiga pria tampan.
"Abian, katakan sesuatu! aku sangat yakin, jika ini berkaitan dengan mu," ujar Al dengan tatapan menyelidik.
"Mereka anggota dari Black Mamba, aliansi pembunuh bayaran," jawab Abian.
"Aku semakin mencurigaimu?" ucap El yang melirik Abian.
"Kalian tidak perlu tau, ini urusanku. Biarkan aku yang akan mengurusnya nanti, dan jangan melirikku begitu," ketus Abian kepada El.
"Terlalu banyak drama," ucap Lea dan Al bersamaan dan pergi meninggalkan tempat itu, Al mengambil ponselnya dari saku celana dan menelfon supir untuk menjemput mereka.
****
Dita selalu saja mondar-mandir dengan kedua tangan yang saling meremas, membuat Bara, Naina, dan Nathan menatapnya.
"Sayang, tenanglah. Abian sebentar lagi akan datang, sabarlah sedikit," tutur Nathan yang menenangkan Dita.
"Hem, kamu benar." Dita mendudukkan dirinya di sofa empuk.
Dita membesarkan pupil matanya, saat melihat anak-anaknya pulang. "Lea yang cantik dan mempesona pulang, mana sambutan yang meriah!" pekik Lea yang membuat ketiga pria tampan itu menutup telinga.
"Jangan berteriak, ini mansion bukan hutan," sahut Kenzi yang baru bergabung dengan kedua orang tuanya.
"Dasar pengacau," gumam Lea yang masih terdengar membuatnya mendapat reward dari Al berupa sentilan di kening Lea.
Dita berdiri dan menatap Abian dengan nanar, sudut mata yang berair adalah bukti jika dia sangat merindukan anak angkatnya. Abian berlari dan memeluk Dita, dan saling melepaskan rindu. Sementara Nathan dan twins L memisahkan pelukan itu yang membuat mereka cemburu, terutama Nathan.
"Akhirnya kamu kembali, tidak baik berpelukan terlalu lama," ketus Nathan membuat Dita mencubit lengan suaminya.
"Auuu, kenapa kamu mencubitku, Sayang. Apa sekarang kamu mencintai daun muda?" ucap Nathan dengan tatapan memelasnya.
"Dia anak kita, tidak seharusnya kamu cemburu," sahut Dita dan kembali menatap Abian.
"Bagaimana dengan keadaan mu Bu," ujar Abian yang meneteskan air matanya.
"Ibu sangat baik, kenapa baru sekarang kamu mengingat Ibumu ini? apa kamu melupakanku, dasar anak nakal," cetus Dita yang meneteskan air matanya seraya menjewer telinga Abian.
"Lepaskan jeweran ini Bu," rengek Abian.
"Putar 180 derajat Bu, berikan hukuman untuk anak nakal itu," jawab El dengan provokasi. Abian tak tinggal diam, dia ikut andil dalam menjewer telingan El.
Semua orang tertawa dengan perilaku mereka, "siapa pria itu?" tanya Kenzi yang sedari tadi memperhatikan kejadian itu. Dita melepaskan tangannya yang bertengger di telinga Abian, "dia kakak mu."
"Apa??" sahut Lea dan Kenzi bersamaan.
"Bagaimana bisa Bu?" tanya Lea yang menatap Dita dengan penasaran.
"Dia anak angkat Ibu dan Ayah, kami juga menyayangi nya sama seperti kalian bertiga," jawab Nathan.
Seketika Lea tersenyum menatap para pria tampan di mansionnya yang sekarang bertambah satu, "wah, demi apa? sepertinya aku memenangkan lotre, hidupku sangat berwarna dengan pria tampan yang ada di sekelilingku. Aku akan memotret Abian yang bertelanjang dada, dan menjadikannya sebagai koleksi ku berikutnya," batin Lea yang tersenyum.
Al yang bisa memahami isi dari otak adik perempuannya, menyentil kening Lea dengan keras. "Jangan lakukan itu." Peringatan dari Al membuyarkan lamunan Lea dan mengerucut kan bibirnya serta menggembungkan kedua pipinya yang membuatnya tampak menggemaskan.