Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 36


Nathan berjalan menuju kendaraan roda empat yang terparkir rapi di sebuah halaman kantor. Dia segera membuka pintu mobil dan duduk di kursi kemudi. Wajahnya terlihat simringah dengan manik mata berbinar menandakan jika dirinya begitu bahagia. Setelah semuanya siap, akhirnya Nathan mulai melajukan mobilnya dengan penuh hati-hati. Matanya memandang ke depan sambil sesekali dia melirik ke arah luar.


Nathan sangat yakin jika twins L adalah anak kandungnya, dia juga baru menyadari, jika wajah mereka hampir mirip bahkan keahliannya melekat pada twins L.


"Aku sangat yakin, jika Al dan El anak kandungku. Kenapa aku bodoh yang tidak menyadarinya sedari awal, " gumam Nathan yang menggerutu dirinya sendiri.


Langkah kaki yang berjalan dengan elegan, memasuki mansion Wijaya dengan wajah yang tersenyum.


"Eh, kamu sudah pulang, kemarilah, " panggil Novi dengan wajah yang tersenyum.


"Iya ma, ada apa? " Nathan berjalan mendekati Novi.


"Kenalkan ini tamu mama, ini tante Maya dan anaknya Karina," antusias Novi.


"Apa hubungannya denganku, ya sudah aku mau masuk dulu, " Senyum di wajah Nathan seakan sirna dengan cepat, saat Novi mengenalkannya dengan tamunya.


Dengan wajah kesal, Nathan menaiki tangga menuju kamarnya. Ketiga perempuan menatap punggung Nathan yang mulai tak terlihat, "maaf ya jeng, anak nya memang begitu, " ucap Novi yang merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, mungkin Nathan capek mengurus perusahaan, " sahut Maya.


"Pria itu sangat tampan, aku harus memilikinya, " batin Karina yang tersenyum.


****


Dita memasuki butik nya dan membalas sapaan dari para karyawan di sana, tak lupa juga dengan tersenyum manis. Kaki jenjang nan mulus itu, masuk keruang kerjanya, dia mendudukan diri di kursi kebanggaanya.


Mengambil kertas dan juga pensil, mendesain beberapa pesanan untuk hari ini.


Dita sangat berfokus pada coretannya tanpa menyadari ada seseorang yang sedari tadi menatapnya, "kamu sangat serius sekali, " ucap wanita itu.


"Eh, kapan kamu datang? " Dita mengerutkan keningnya yang tidak menyadari ada orang lain di ruangannya.


"Dari tadi, kamu nya saja yang tidak sadar, " cemberut Nurma.


"Jangan cemberut begitu, kecantikan kamu akan berkurang," goda Dita.


"Hehe....sudah berapa desain yang kamu buat?" ucap Nurma.


"Tiga desain, apa mereka butuh hari ini?"


"Yap, seperti dugaan mu, mereka meminta mu langsung datang kerumahnya, " Dita menghela nafas dengan kasar.


"Kenapa harus aku, kamu saja yang pergi, aku sangat malas, " tolak Dita.


"Tidak bisa, mereka sendiri yang menunjukmu. "


"Ya sudah, aku titip butik dulu. " Dita mengemasi semua rancangan desain dari permintaan pelanggan. Karena jarak yang dekat, membuat Dita berjalan kaki, seseorang yang menepuk bahunya dari belakang, saat Dita menoleh dan terkejut.


Dia bisa melihat dengan jelas keadaan ketiga orang di hadapannya, dengan pakaian lusuh, kotor, dan sangat bau.


"Kalian!! mau apa lagi menghampiri ku?" ucap Dita yang sedikit ketus.


"Maafkan papa nak, papa bersalah dengan mu dan juga kedua putramu. " Hardi menatap Dita dengan nanar.


"Nak? anda bilang nak? bukankah anda sendiri yang tidak ingin mengakuiku?" Dita manatap Hardi dengan tajam.


Dita mengalihkan pandangannya menatap sang ibu tiri, "kesalah kalian tidak bisa aku maafkan, lebih baik aku pergi dari sini." Dita yang ingin meninggalkan tempat itu tapi dengan cepat di cekal Sheila.


"Kakak, aku mohon belas kasihmu. Biarkan kami tetap tinggal di rumahmu, bukankah kamu sangat baik pada semua orang? maka buktikan itu hari ini, " bujuk Sheila.


"Maafkan aku, untuk kali ini aku tidak bisa menolong kalian, " tolaknya halus.


"Kami tidak memiliki siapapun untuk di mintakan tolong. " Hardi menekuk kepalanya dengan sedikit air mata yang menetes. Dita menjadi terhenyuh, walau bagaimana pun juga Hardi tetaplah ayah kandungnya, "ini ambillah, itu bisa di jadikan modal untuk kalian bertahan hidup, " Dita memberikan 2 ikat uang berwarna merah. Hardi tersenyum dan berterima kasih dengan Dita yang mau memberikan bantuannya.


"Kak, berikan kami tumpangan, " Sheila memohon dengan raut wajah yang sedih.


"Papa mohon sama kamu, hanya kamu anak yang bisa Papa harapkan. Berikan juga kami tumpangan untuk berteduh, " ujar Hardi yang bersimpuh di kaki Dita.


"Apa aku tidak salah dengar? bukankah dia anak yang membanggakan mu, " Dita menunjuk Sheila.


"Papa hanya terkena bujukan mereka, mulut manis mereka membuat Papa membenci anak kandung sendiri," Hardi melototi Linda dan juga Sheila secara bergantian.


"Apa baru sekarang anda menyadarinya? kehidupan saya menderita dan juga tersiksa. " cairan bening di sudut mata Dita keluar dengan sendirinya, penderitaan dan juga siksaan dulu masih terasa hingga saat ini. Luka yang begitu dalam tidak dapat di sembuhkan dengan cepat.


"Jangan egois kamu, Dita. Bukankah kami sudah meminta maaf, kami janji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, " ujar Linda sedikit protes.


"Sepertinya kalian meminta maaf hanya untuk memanfaatkan ku, tapi aku tidak bodoh." Dita menghapus air matanya, Dia sangat tau karakter tiga orang di hadapannya dengan sangat baik.


"Setidaknya kembalikan rumah kami, " ujar Sheila tak tau malu.


"Pengacara sudah menghubungi ku, jika rumah itu adalah hak ku. Bukankah aku sudah memberi kalian uang, carilah kontrakan dan mulai buka usaha. "


"Dasar anak tak tau diri, bisa-bisanya kamu menolak kami?" ujar Linda yang kesal dan mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.


Dita pergi meninggalkan tempat itu, mendengar ucapan dari Linda, dia menoleh dan tersenyum, "aku tau kalian belum berubah, biarkan waktu yang merubah sikap kalian menjadi lebih baik. "


"Dasar anak kurang ajar, bisa-bisanya dia tersenyum seperti itu. Pa, lakukan sesuatu!" Linda menguncang tubuh Hardi.


"Sesuatu apa hah? kalian merusak segalanya, bukan ini yang aku rencanakan, " bentak Hardi.


"Apa maksud Papa? " jawab Sheila yang mengerutkan kening.


"Dasar bodoh! setidaknya beraktinglah dengan baik, Papa sangat yakin Dita akan memaafkan kita dan membiarkan kita tinggal di rumah itu, tapi kalian merusak segalanya. " Hardi mengusap wajahnya dengan kasar.


"Apa yang harus kita lakukan, Pa! aku tidak ingin hidup miskin, " ucap Sheila dengan penuh harapan.


"Bukankah kamu menjalin hubungan dengan Randa, pengusaha terbesar nomor 2 di kota ini, " Linda menatap anak nya yang bergantung harapan.


"Dia memutuskan hubungan saat berita tentangku tersebar. "


"Pa, lakukan sesuatu! mama tidak ingin hidup kita jadi miskin, " rengek Linda.


"DIAM! ini semua ulah kalian, aku sudah tidak tahan lagi, jalani hidup kalian. AKU TALAK KAMU!!" ucapan dari Hardi membuat kedua wanita itu terkejut.


"Tidak bisa begitu Pa," protes Linda.


"Tentu saja bisa, karena aku sudah tidak tahan dengan kalian, yang hanya bisa mengeluh membuat kepalaku pusing." Hardi pergi meninggalkan Sheila dan juga Linda dengan membawa uang yang di berikan Dita bersamanya.