Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 209 ~ S2


Lea sangat bosan dengan tempat dan suasana barunya di Amerika, tidak ada yang bisa di lakukan selain tidur. Ingin sekali dia berjalan-jalan dan menikmati suasana kota dan kembali melakukan hobi lama yang sangat jarang dia lakukan setelah menikah. Membaringkan tubuhnya di sofa sembari mengemil keripik kentang yang berada di toples di atas meja.


"Hah, aku sangat bosan. Di sini aku tidak bisa melakukan apapun selain menonton, bermain ponsel, dan juga tertidur. Dan suami bodohku itu hanya sibuk bekerja saja tanpa memikirkan aku yang bosan ini," gumam Lea yang menatap Abian dari jauh yang fokus dengan layar pipih dan juga ponsel. Abian menoleh ke arahnya sembari tersenyum, Lea hanya bisa mendengus kesal.


Dia berjalan mendekati suaminya yang tengah sibuk bekerja, "aku sangat bosan dan aku ingin jalan-jalan," rengek Lea.


Abian menghentikan aktivitasnya dan menatap Lea yang tampak sangat menggemaskan, "ayolah, kehidupanku sangatlah hambar."


Abian tersenyum tipis dan mendekati sang istri, memeluknya dari belakang membuat Lea sedikit merinding, "kita bahkan belum merasakan malam pengantin, bagaimana jika kita melakukannya sekarang?" bisik Abian.


Lea meneguk salivanya yang sedikit gugup akan hal itu, walau tak bisa di pungkiri jika dia menyukai perut sixpack dan dada bidang suminya, "Ini masih siang, tunggulah hingga malam," elaknya.


"Aku sangat menginginkan penyatuan itu, ayo kita lakukan siang pengantin yang sempat tertunda itu, bagaimana?" ucap Abian yang sudah tidak sabar.


"Mana ada siang pengantin, malam lebih hot!" bisik Lea yang tersenyum menggoda agar bisa menghindar.


"Baiklah kita akan melakukan di malam hari." Ucapan dari sang suami membuat Lea tersenyum sumringah.


"Lepaskan pelukan ini."


"Tidak," sahut Abian dengan cepat sembari mencium tengkuk leher jenjang milik Lea yang dari tadi merasakan geli.


"Hei....bukankah kita akan melakukannya di malam hari, jadi lepaskan aku," pinta Lea yang terus meronta membangun sesuatu di bawah sana.


"Kita juga akan melakukannya di malam hari dan di siang hari, dan juga di pagi hari. Itu pasti sangat menyenangkan," seru Abian yang membuat Lea mengedipkan matanya beberapa kali dengan tatapan melongo saat menatap suaminya.


"Apa kamu ingin menyiksa ku?"


"Tidak, lebih tepatnya membuat anak. Jika kita sering melakukannya, besar kemungkinan akan cepat mendapatkan keturunan."


"Secepat itu?" ujar Lea yang memiringkan kepalanya.


"Aku tidak ingin ketinggalan dari dua kutu itu," ujar Abian yang keceplosan.


"Hei....dia itu kakak ku dan juga kakak iparmu sekarang," cetus Lea.


"Hehe....maafkan aku yang khilaf. Lupakan itu, aku menginginkanmu sekarang," ucap Abian yang menggendong tubuh Lea dan membawanya ke dalam kamar, dia membaringkan tubuh Lea di atas tempat tidur dengan sangat lembut. Abian di kuasai oleh hasratnya sendiri, dia tidak bisa selalu menahannya, sedangkan Lea sangat gugup hingga dahinya berkeringat.


"Abian..." panggil Lea.


"Hem," sahut Abian dengan deheman karena di sibukkan membuka pakaiannya.


"Aku belum mandi dan juga gosok gigi."


"Tidak masalah, aku lebih menyukaimu apa adanya, " sahut Abian yang tidak menghiraukan perkataan Lea, karena dirinya telah di selimuti oleh gairah yang membara. Abian terus memainkan bagian sensitif milik sang istri membuat Lea merasa nyaman dan menikmati permainan dari Abian, apalagi Lea terbuai dengan bentuk tubuh atletis sang suami. Dia sangat kerkejut dengan sesuatu yang mengganjal di bawah sana, "oh ya tuhan, apa itu?" gumam Lea terdengar oleh Abian yang tersenyum samar.


"Itu bagian pentingnya, aku sudah tidak tahan lagi untuk melakukan penyatuan ini. Ini akan sedikit sakit," tutur Abian yang di anggukan kepala oleh Lea. Mereka terbuai dengan penyatuan tiada tara itu, menaungi nikmatnya dunia.


Lea sangat kesal dengan suaminya yang selalu menginginkan hal itu, "oh tidak, badanku terasa sangat remuk dan sepertinya tulang-tulangku patah," monolognya yang membersihkan diri. Sementara Abian hanya tersenyum karena berhasil memiliki Lea sepenuhnya.


"Apa kamu tidak mempunyai pekerjaan? kenapa kamu menghubungiku di larut malam?" cetus El yang kesal.


"Tumben sekali kamu menghubungi kami lewat video call?" ucap Al.


Abian sangat terkejut dengan penampilan dari twins L yang botak licin, "oh ya ampun, aku mengira salah sambung. Kenapa kalian terlihat seperti tuyul?"


"Hah, mau bagaimana lagi? permintaan dari istri tercinta," sahut El dengan penuh kepercayaan diri. Abian tak bisa menahan tawanya yang seketika pecah, tawa yang sangat keras hingga terpingkal-pingkal.


"Tunggu dulu, aku masih ingin tertawa. Malang sekali nasib kalian, persis seperti tuyul. Aku rasa kalian sangat cocok dengan penampilan baru itu dan aku menyukainya," kata Abian di sela tawanya, sedangkan yang menjadi bahan tertawaan hanya mendengus kesal dengan tatapan tajam.


"Aku doakan jika kamu mengalami hal yang sama," ucap Al yang menyipitkan kedua matanya.


"Bahkan lebih buruk dari itu," sambung El yang geram dengan memperlihatkan kepalan tangannya.


"Mau bagaimana lagi, kalian sangat lucu. Kalian tau, raut wajah kalian persis seperti boneka mampang," sahut Abian yang berusaha mengendalikan tawanya.


"Jika kamu menghubungi kami untuk sekedar tertawa lebih baik aku matikan saja sambungan video call nya," cetus Al yang sangat-sangat kesal.


"Eit tunggu dulu. Tebak, apa yang baru saja aku lakukan?" seloroh Abian yang membusungkan dada, memperlihatkan tubuh yang atletisnya serta sprai yang berantakan.


"Mana aku tau, bukankah di Amerika masih siang? kenapa kamu tidak bekerja?" tanya El yang memiringkan kepalanya menatap Abian bertelanjang dada dan tidak mempedulikan hal yang menurutnya sangat konyol.


"Dan kenapa penampilanmu berantakan?"


"Karena sebentar lagi aku akan menyusul kalian."


"Apa maksudmu? kami tidak mengerti?"


"Sudah dulu ya, aku hanya ingin memperlihatkan hal itu saja."


Abian mematikan sambungan video call membuat kedua orang yang jauh di sana mengumpatnya dengan sumpah serapah mengabsen nama-nama binatang yang ada di kebun binatang.


"Abian sialan, dia belum mengatakan apa pun dan sekarang aku sangat penasaran," umpat El.


"Dasar unta, berani sekali dia memutuskan video call itu. Bahkan tidak ada yang pernah melakukannya kepadaku," cetus Al yang berdiri di balkon kamarnya.


Al menatap layar ponselnya sembari mencari nomor kontak untuk dia hubungi, dia kembali menghubungi Abian yang ternyata tersambung.


"Apa kamu penasaran dan membuatmu kembali menghubungiku? katakan ada apa?"


"Tidak ada." Belum sempat Abian menjawab, sambungan telfonnya terputus oleh Al yang sekarang sangat senang bisa membalas perbuatan Abian.


"Rasakan itu," gumam Al yang tersenyum kemenangan.


"Apa yang terjadi dengannya? apa dia hanya membalasku?" gumam Abian dengan raut wajah yang bingung.