Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 200 ~ S2


Pria itu menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Lea, entah sudah berapa lama dia menatap wajah cantik yang di miliki oleh Lea Wijaya.


"Sudah lama kita tidak bertemu honey dan sekarang kamu sangat cantik, tapi kenapa kamu menikah dengan musuhku?" tutur Pria itu yang bernama Roy yang tidak bosan menatap wajah Lea yang masih dalam pengaruh obat bius.


Suara ketukan pintu membuat Roy menoleh, "masuk!" titahnya. Pintu terbuka, terlihat seorang pria dengan tubuh tegapnya menghampiri atasannya.


"Ada yang ingin saya sampaikan Tuan."


"Apa itu sangat penting? hingga kamu datang dan merusak kegiatan ku," ucap Roy tanpa menoleh seraya mengelus wajah Lea dengan sangat lembut.


"Ada sedikit masalah Tuan, menurut informasi jika kakak kembar dari nona Lea mencoba untuk melacak keberadaan mereka," lapor sang asisten sekaligus tangan kanan Roy yang bernama Mirza.


Roy tidak terlalu memikirkan itu, tatapannya menuju sebuah gelang yang sangat unik. Dia tertarik melihatnya dan melepaskan gelang yang melingkar di tangan Lea, memeriksa gelang itu hingga melihat sebuah kejanggalan.


"Gelang ini sudah terpasang GPS, ternyata mereka sangat waspada ya. Tapi itu bagus, dapat mengetahui keadaan Lea, aku di sini dan menjaga Lea dengan sangat baik," monolognya.


"Mirza," panggilnya.


"Saya Tuan."


"Cepat hancurkan gelang ini," perintah Roy yang menyerahkan gelang itu ke tangan Mirza.


"Laksanakan Tuan." Mirza tersenyum dan pergi keluar dari kamar itu, sedangkan Roy mengelus puncak kepala Lea dengan sangat lembut.


"Kapan kamu akan terbangun? hah aku lupa jika obat bius itu masih bekerja. Kamu tau Lea! aku sangat jijik dengan para wanita di luar sana, aku mengalami mysophobia yang alergi dan jijik dengan orang lain. Karena kebaikan mu yang membalut luka di tanganku di saat itu membuat alergiku tidak bekerja kepadamu. Dan sejak saat itu, aku mulai menyukaimu," tutur Roy yang menatap Lea dengan wajah yang tersenyum.


Roy mengambil sebuah suntikan di atas meja dan menyuntikkan nya ke tubuh Lea, obat yang masuk ke dalam tubuh Lea membuat kehilangan ingatannya secara perlahan.


"Aku akan membuat kenangan lama mu menghilang dan aku akan mengisi dengan kenangan baru yang tentunya kenangan indah kita berdua," lirih Roy yang tersenyum, dia berjalan keluar kamar, sebelum menutup pintu, dia menatap wajah cantik Lea yang tertidur pulas.


"Selamat tinggal masa lalu, aku menyambut masa depan denganmu. Huff....seperti nya aku harus menuntaskan Abian sialan itu," batin Roy yang meninggalkan kamar dan meletakkan beberapa penjaga dan juga pelayan jika Lea sadar nanti.


Roy memasang kacamata hitam miliknya dengan setelan jas berwarna abu-abu yang membuatnya sangat tampan dan berkharisma, ada beberapa bodyguard yang mengenakan jas hitam mengikuti kemana Roy pergi.


Dulunya Abian dan Roy adalah partner saat menjadi pembunuh bayaran yang di pimpin oleh Caroline, pertemanan yang terjalin sangat erat terputus akibat Caroline menjadikan Abian sebagai penerusnya. Padahal Roy sangat bekerja keras untuk mendapatkan posisi itu, hingga kebenciannya semakin bertambah saat Caroline memberikan Abian hak istimewa.


Roy memutuskan untuk keluar dari aliansi milik Caroline, memisahkan dirinya dengan membuat aliansi pembunuh bayaran baru dan juga pemimpin Mafia yang sangat di takuti di Negara Paris.


Pria terkaya di Negara itu, kekayaannya hampir sebanding dengan keluarga Wijaya yang unggul 5 persen saja.


****


Twins L berusaha dengan sangat keras untuk melakukan pencarian itu, "apa kamu menemukan lokasinya?" tanya Al yang menatap adik kembarnya.


"Aku sudah mengirimnya, lakukan dengan cepat. Aku sangat mencemaskan Lea," ujar Al yang melirik El dengan sekilas dan kembali fokus dengan layar laptopnya.


"Hem, aku tau apa yang ingin aku lakukan dan jangan mengguruiku," cetus El yang membuat Al mendengus kesal.


El terus melakukan hingga dia menemukan sebuah titik yang tidak begitu jelas, hingga titik itu tiba-tiba menghilang. "Sial, aku tidak bisa mengetahui dimana lokasinya," umpat El yang memukul meja dengan keras, melampiaskan kekesalannya.


"Ada apa? kenapa kamu melakukan itu?"


"Saat aku hampir menemukan lokasinya, tiba-tiba saja aku kehilangan jejak," sahut El yang mengusap wajahnya dengan kasar.


Al terdiam sejenak berusaha memikirkan situasinya yang sangat membingungkan, "ini semakin membingungkan," gumam Al.


"Ada kejanggalan di sini, jika pesawat jatuh maka gelang itu tidak berfungsi. Dan di saat aku melacaknya, lokasi yang hampir saja aku temukan itu menghilang tanpa jejak, apa kamu memikirkan apa yang aku pikirkan?" ujar El.


"Sebelum kamu memikirkannya aku lebih dulu tau apa yang ada di otakmu itu."


"Itu artinya Lea masih selamat, apa kita mempunyai musuh? mereka bermain dengan sangat halus sekali dan bahkan kita hampir saja tertipu," terka El.


"Pekerjaan lah yang membuat kita dalam permasalahan ini, tapi apakah kamu mengetahui lokasi nya?"


"Hem, titiknya berada di Negara Paris. Tapi aku tidak tau lokasi pastinya di mana," sahut El.


"Ayo kita ke Paris," tutur Al dengan tatapan membunuhnya di sertai seringaian.


"Sepertinya ini sangat seru."


****


Kondisi Abian sangatlah memprihatinkan, tubuhnya sangat lemah sekali akibat suntikan yang selalu saja menembus kulitnya. Dia hanya mengenakan celana pendek tanpa memakai baju, seluruh kulitnya memerah akibat cambukan yang beberapa kali di terima saat dia berusaha kabur dan di ketahui oleh orang suruhan Roy.


Kedua tangan terangkat dengan posisi berdiri membuat Abian sangat tersiksa tidak bisa mengistirahatkan tubuhnya yang sangat lemah akibat beberapa senyawa yang masuk ke dalam tubuhnya, bahkan matanya sulit terbuka akibat lebam di pukuli oleh Mirza sang asisten Roy.


"Lea....Lea, aku sangat merindukan mu. Jangan tinggalkan aku," lirih pelan Abian yang sangat tersiksa.


Abian di letakkan di ruang penjara bawah tanah, tanpa makanan dan minuman. Abian menegakkan kepala saat mendengar suara yang sudah lama tidak dia dengarkan, terlihat dengan jelas pria berjas abu-abu menatapnya dengan penuh kebencian dan permusuhan.


"Sepertinya kamu sangat menyukai jika tinggal di sini ya, nikmatilah hari-harimu di penjara bawah tanah. Dan masalah Lea jangan mengkhawatirkan nya lagi, aku janji akan menjaganya dengan segenap jiwa dan ragaku ini."


"Roy? jadi pelakunya adalah kamu. Lea adalah istriku dan sampai kapan pun kamu tidak akan bisa memilikinya, karena dia hanya mencintaiku," ujar Abian yang tersulut emosi.


"Yah, itu memang benar. Tapi sebentar lagi dia akan melupakanmu secara perlahan dan hanya aku....Roy Degazi yang akan menjadi pria yang di cintai oleh Lea."