
Kedua anak kembar itu di sibukkan dengan melukis, bukannya melukis di atas kanvas, mereka memilih melukis di wajah Bara yang sedang tertidur.
"Papa terlihat menggemaskan dengan wajah seperti badut," bisik El agar tidak ketahuan.
"Akan aku tambahkan sedikit cat merah di pipi, " sahut Al yang juga berbisik.
"Itu bagus sebagai perona pipi, Papa tidur seperti orang mati, " cibir El.
"Ayo kita pergi, sebelum Papa bangun. Hehe kita lihat kehebohan di pagi hari, " Al tertawa smirk.
Lilis, Dita, dan twins L sedang menyantap makanan di atas meja, suasana yang sepi tanpa adanya obrolan. Terdengar hanyalah dentingan sendok dan garpu yang bergesekan. Tak lama Bara duduk di kursi biasa dia duduki, twins L sedari tadi menahan tertawa yang sebentar lagi akan meledak, Dita menyiapkan nasi goreng untuk Bara. Berniat untuk memberikan piring yang berisi nasi goreng, Dita di kejutkan dengan wajah Bara seperti hantu.
"Hantuuu." Dita berteriak sembari menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Mana ada hantu di pagi hari, " ucap Lilis menoleh dan juga terkejut melihat wajah Bara yang seperti boneka Annabelle.
"Aku sangat yakin jika kalian terpesona dengan ketampanan ku, jangan berlebihan menatapku, atau kalian bisa terkena diabetes, " ucap Bara yang penuh percaya diri.
"Bara, itu kamu?" Lilis mengerutkan kening.
"Of course, " sahut Bara.
El mengambil ponsel di saku celananya dan memotret Bara, "El, kamu memotret Papa secara diam-diam? jangan lakukan itu lagi, jika kalian ingin foto Papa katakan saja. Ayo foto Papa dengan beberapa pose yaa, " cerocos Bara. El tak ingin kehilangan kesempatan emas itu dan memotret Bara sebanyak yang dia bisa.
"Kami sudah selesai makan, kami pergi dulu, " pamit Al dan El.
"Habiskan makanan kalian dulu," teriak Bara yang melihat punggung twins L yang menghilang di balik pintu.
"Cucilah wajah mu terlebih dahulu. " Lilis berusaha menahan tawanya.
"Aku malas untuk mencuci wajah, " keluh Bara.
"Ini bercerminlah. " Dita memberikan Bara sebuah cermin yang tak jauh dari nakas.
"Aku tidak memerlukan cermin untuk melihat wajah tampan nan rupawan ku, " tolak Bara. Dita yang kesal memaksa Bara untuk bercermin, alangkah terkejutnya Bara saat melihat wajah seperti badut atau lebih tepatnya seperti boneka Annabelle.
Bara mengepalkan kedua tangannya dan berteriak, "dasar nakal, berani sekali kalian mengerjai Papa," sedangkan Lilis dan Dita tak mampu menahan tawanya dan seketika pecah. Akhirnya twins L mendapatkan hukuman tidak boleh keluar kamar.
Karena bosan twins L mengutak atik ponsel dan juga laptop mereka, seperti biasa mereka meretas data dari perusahaan besar. Target mereka kali ini bukan di dalam negeri, tapi perusahaan di luar negeri yang memiliki banyak anak cabang.
"Apa kamu mendapat targetnya?" ucap Al.
"Belum, sedang melakukan pencarian, " sahut El tanpa menoleh.
"Ayo cepatlah sedikit, atau kita akan ketahuan ibu. "
"Diamlah, aku sedang berusaha, " ketus El.
Tak lama kemudian, El berhasil mendapatkan data perusahaan yang menurutnya sangat pas dan sesuai dengan kriteria yang dia inginkan.
"Dapat, " ujar El yang sangat antusias, dengan cepat Al menghampiri adiknya dan melihat hasil pencarian di layar laptop milik El.
"Cepat kerjakan. " Al memberikan perintah.
"Jangan memerintahku, " kesal El.
"Hem, perusahaan ini sangat luar biasa. Aku akan meretasnya terlebih dahulu, dan mengirimkannya lewat surel kepadamu. "
"Aku akan menunggu, " sahut Al.
El berfokus pada layar laptopnya, menekan keyboard dengan jari-jarinya yang sangat cepat. Tidak butuh waktu lama, El berhasil meretas data dan memberikan data itu ke Al. Sekarang giliran Al yang bereaksi memasukkan program buatannya dan berhasil, dalam sekejap mereka menguasai 1 perusahaan.
Mereka mengambil alih hanya anak cabang perusahaan yang terkenal di luar negeri, bisa saja mereka mengambil data di induk perusahaan, mereka tidak ingin ada yang mengetahui aksinya. Pepatah mengatakan, jika di atas langit masih ada langit, walaupun mereka sangat ahli dalam membersihkan jejak, bisa saja ada orang yang lebih hebat dari mereka.
"Yes, berhasil! " Al dan El saling bertos ria.
Sementara di tempat lain, para karyawan perusahaan kelimpungan dengan data yang bocor, mereka segera melaporkan kepada atasannya. Suara gebrakan meja dan di sertai wajah yang tak bersahabat dari pria pemilik perusahaan terbesar itu membuat suasana kian mencekam. Tatapan mata yang tajam, rahang yang mengeras, dan kedua tangan di kepal sangat kuat.
"Berani sekali orang itu mengambil alih salah satu anak cabang perusahaan ku, kenapa ini bisa terjadi hah. " pria tampan itu meninggikan suaranya.
"Maaf tuan, seperti nya orang itu ahli IT. Sebelumnya tidak ada yang berani mengusik perusahaan kita, " ucap sekretaris sekaligus tangan kanannya dalam dunia hitam.
"Aku tidak akan mengampuni orang itu, lacak keberadaannya, " titah pria tampan itu.
Dengan cepat sekretaris itu mendapatkan keberadaan orang yang berani bermain-main dengan tuannya, "dia sangat pintar tuan, hingga tidak menemukan alamat yang pasti. Tapi aku sangat yakin, jika orang itu berada di indonesia, " ujar sekretaris nya.
"Alvin, siapkan keberangkatan ku ke indonesia. "
"Baik tuan, " sahut Alvin pergi meninggalkan atasannya.
"Aku akan menghancurkanmu, tikus kecil, " batin pria itu.
Twins L tidak tau jika pemilik perusahaan itu adalah seorang mafia yang terkenal kejam.
****
Pandangan mata yang kosong menatap keluar jendela dengan lurus, Dita mencoba untuk menerima dan berdamai dengan kenyataan saat ini, dimana luka yang dia tutupi selama 6 tahun mulai menghantuinya. Dia tidak tau bagaimana menceritakan kepada kedua anaknya, lamunannya terhenti saat Nurma datang untuk menemaninya bersantai.
"Apa yang kamu pikirkan?"
"Hanya menatap permainan takdir yang sudah di gariskan untuk ku, " sahut Dita.
"Apa kamu ada masalah, kamu bisa menceritakannya." Nurma menatap sahabatnya dengan serius.
"Jika aku menceritakannya, butuh waktu 1 harian. "
"Katakan saja bagian intinya, " ucap Nurma dengan santai membuat Dita menghela nafas dan mengeluarkan dengan sangat kasar.
"Aku tidak pernah menikah, aku di jebak oleh adik tiriku dengan memasukkan obat perangsang ke dalam minumanku, tepat saat ualang tahunnya ke 21 tahun. Hingga kesucianku hilang dan 2 bulan kemudian aku dinyatakan hamil. " Dita menghela nafas dan membuangnya secara perlahan.
"Kamu wanita yang sangat kuat, dan juga mandiri, aku salut denganmu, " ujar Nurma.
"Penderitaan ku itu belum berhenti sampai di sana, Papa kandungku mengusirku dari rumah peninggalan Mamaku, aku berjuang untuk merawat kedua putraku dengan semampu yang aku bisa. Dan saat aku mulai bahagia dengan kedua anakku, pria itu datang dan ingin dekat dengan anakku, " curhat Dita.
"Bukankah itu bagus, jika kedua anakmu mempunyai seorang ayah. " antusias Nurma.
"Kamu benar, tapi di sisi lain aku takut jika pria itu mengambil alih twins L, mereka anakku dan juga nafas ku".
"Kamu yang sabar yah, aku doakan suatu hari nanti kamu akan merasakan kebahagiaan, " ucap Nurma yang mengelus punggung tangan Dita.