
El sangat kesal dengan Anna yang mengajaknya ke Mall untuk mencuci mata, sudah beberapa toko yang mereka masuki tanpa membeli apapun. Anna selalu saja melihat barang-barang tanpa ingin membelinya, "Sayang, kita sudah memasuki toko kelima. Apa kamu tidak merasa sangat capek? apalagi tidak ada satupun yang kamu beli," celetuk El.
"Itulah serunya, aku menyebutnya dengan mencuci mata. Aku hanya memanjakan mata saja," jawab Anna dengan santai.
"Apa kamu lupa siapa suamimu ini? aku bahkan bisa memborong seluruh Mall ini untukmu, beli lah sesuatu dan bantu aku untuk menghabiskan uang," keluh El dengan ekspresi sedih.
"Itu namanya pemborosan, lagipula aku juga tidak ingin membelinya."
"Lalu bagaimana dengan uang ku? setidaknya bantu aku untuk menghabiskannya atau aku akan pusing nanti," cetus El.
"Lebih baik kamu menyumbangkannya kepada panti jompo, panti asuhan, dan mendirikan sekolah gratis untuk anak-anak yang sangat membutuhkannya," jelas Anna yang membuat El terasa tertampar karena dia tidak pernah memikirkan hal itu. El mendekap tubuh istrinya dan memeluk dengan erat, "aku sangat beruntung mempunyai istri sepertimu, memikirkan nasib orang lain." El mencium pucuk kepala Anna dengan sangat lembut.
"Aku sangat beruntung bisa bertemu kalian di sini," sela seseorang yang bediri di dekat mereka dan juga merusak keromantisan mereka. El melirik menatap sang penganggu, "apa kamu mengikuti kami?" ketus El yang menatap orang itu yang tak lain adalah Jojo, teman Anna.
"Tidak ada untung untukku! akan ku beritahukan kepada kalian yang sebaiknya tidak bermesraan di depan umum, karena itu dapat merusak mood seorang jomblo sepertiku," terang Jojo.
"Bukan urusanku."
"Dengan siapa kamu kesini?" tanya Anna yang menatap Jojo dengan seksama.
"Aku bekerja sebagai security, lihatlah pakaian ku yang tampak indah saat melekat di tubuhku," jawab Jojo yang membusungkan dada.
"Ck, aku tidak yakin dengan itu. Seragam itu tidaklah cocok dengan mu yang sangat lembek, aku bisa membayangkan bagaimana reaksimu saat melihat pencuri," cibir El yang membuat Jojo menghentakkan kakinya yang kesal dengan ucapan El.
"Kenapa mulutmu sangat jahat sekali," tukas Jojo.
"Karena aku mengatakan hal yang sebenarnya, lebih baik kamu pergi dari sini dan jangan mencampuri urusanku," usir El.
"Lebih baik aku pergi daripada emosi dan membuat wajahku yang sangat imut ini berkerut," ujar Jojo yang pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan dongkol, sedangkan Anna memijit pangkal hidungnya.
"Ayo kita pergi," ajak El yang mengandeng istrinya.
Mereka kembali melanjutkan mengelilingi Mall, Anna selalu melihat-lihat tanpa berniat untuk membelinya. Para karyawan yang menjaga lapak mereka sedikit kesal dengan pertanyaan Anna mengenai produk yang mereka jual, kadang Anna mengatakan harga yang mereka jual tidak sebanding dengan harga di pasaran.
El hanya duduk di kursi yang telah di sediakan sambil menunggu Anna memilah dan memilih atau lebih tepatnya melihat tanpa berniat membelinya. El mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Roger untuk menyusulnya ke Mall.
"Jangan sampai terlambat, aku hanya memberimu 10 menit untuk sampai ke sini dan jika terlambat maka bersiap-siaplah untuk terkena hukuman dariku," ancam El.
"Baik King, akan saya usahakan dalan waktu yang telah di janjikan."
"Tapi sebelum menemuiku, periksa Cctv dan borong semua barang yang di sentuh oleh istriku, apa kamu mengerti?"
"B...." belum sempat Roger melanjutkan perkataannya, El lebih dulu mematikan sambungan telfon dengan sepihak membuat Roger mengumpat pemimpin nya.
"King sialan, dia selalu saja mengancamku dengan hukuman. Andai saja dia berdiri di pinggir jurang, maka aku akan mendorongnya ke dalam jurang itu," gumamnya yang mengumpat.
"Ayo kita pergi." El mendongakkan pandangannya menatap sang istri yang tersenyum lebar, membuat El terpesona akan kecantikan sang istri.
"Tidak ada, aku hanya melihatnya saja tanpa ingin membeli sesuatu. Aku sangat lapar, bagaimana jika kita makan?"
"Boleh, memangnya kamu ingin memakan apa?"
"Apa saja yang penting makanan mewah dan berkelas, juga enak saat di makan," seru Anna dengan bersemangat.
"Baiklah jika kamu menginginkannya." El menggandeng tangan istrinya dengan erat seakan takut kehilangan.
El membawa Anna ke Restoran mewah dan berkelas, memesan beberapa hidangan yang menjadi favorit dan menu andalan di sana.
****
Lain halnya dengan Abian yang sangat jengkel keberadaan dari sepasang suami istri yang tidak kunjung pulang, mereka masih betah mengobrol dan membahas hal-hal yang menurutnya unfaedah.
"Kapan kalian akan pulang? kami sangat kelelahan, pergilah dari sini," ucap Abian yang mengusir mereka.
Jemes menatap jam tangannya dan melihat waktu yang sangat lama, mereka berkunjung selama 3 jam. "Hah, tidak terasa sudah tiga jam kami berkunjung. Baiklah kami akan pergi," seloroh James yang berdiri dan di ikuti oleh Berliana.
"Akhirnya kamu sadar diri." Ucapan dari Abian tidak di tanggapi serius oleh sepasang suami istri itu, mereka hanya tersenyum tanpa beban.
Lea dan Abian mengantarkan tamunya sampai ke pintu, Berliana menoleh dan tersenyum menatap Lea, "kamu boleh mengunjungi kami, datanglah ke rumah sederhana kami akan menyambut kalian dengan sangat baik."
"Baiklah," sahut Lea. Abian yang ingin menutup pintu terhalang oleh kaki James, "ingat perkataanku tadi dan pertimbangkan, katakan kepadaku jika kamu berubah pikiran," lirih James yang membuat Berliana dan Lea mengerutkan keningnya.
"Apa maksudmu Sayang, aku tidak mengerti," tukas Berliana.
"Rahasia kekuatan pria di ranjang," sahut James tanpa beban.
"Aku sangat menyukai itu," seru Berliana yang membayangkan malam panas dengan suaminya yang gagah perkasa.
"Yaya....baiklah dan terserah, pergilah dari sini!" usir Abian yang menutup pintu dengan kasar membuat Berliana dan James terkejut dan saling menatap satu sama lain.
"Apakah Abian mempunyai penyakit kronis?" tanya James.
"Entahlah, tapi aku rasa begitu. Ayo kita pergi dari sini, aku menginginkan hal itu setelah kamu mengatakannya," kata Berliana yang berkedip nakal sembari menggoda suaminya. Dengan cepat James menggendong sang istri ala bridal style menuju rumah mereka dan menjelajahi indahnya surga dunia tiada tara.
Abian sangat kesal karena waktunya yang terbuang sia-sia oleh tetangga baru yang sangat menyebalkan itu, padahal dia ingin selalu bersama sang istri tanpa gangguan.
"Huff....sepertinya aku harus memperbanyak sabar, ingin rasanya aku pindah saja. Tapi Rumah ini jaraknya sangat dekat ke kantor," lirih Abian.
Lea menghampiri suaminya dan menatap wajah Abian yang sangat kesal, "sudahlah, lupakan itu. walau aku akui jika mereka sedikit banyak berbicara."
"Bukan sedikit, tapi selalu berceloteh layaknya ayam yang tengah berkotek," jawabnya.
"Lebih baik kita tidur saja, aku sudah sangat lelah." Lea menarik selimut dan tertidur pulas di samping Abian yang juga tertidur sembari memeluk Lea dan mengecup kening sang istri dengan sangat lembut.