Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 41


Dita menghirup udara sedalam-dalamnya sebanyak 3 kali, berusaha menenangkan diri dan berdamai dengan keadaannya saat ini. menghampiri kedua anaknya yang sedang sibuk dengan ponsel mereka, "kalian sedang apa?" Dita duduk di sebelah anaknya.


"Tidak ada, hanya bermain game, " jawab Al dengan santai.


"Jangan berbohong, apa kalian meretas data perusahaan orang lain. " tatapan Dita menyelidik.


"Hehe....ibu benar. " Al menggaruk telinga yang tidak gatal.


"Sudah ibu bilang, jangan lakukan itu lagi. Sangat berbahaya, jika ada yang mengetahui aksi kalian."


"Niat kami hanya ingin menolong orang miskin dengan membeberkan perusahaan legal dan juga berbuat curang Bu, " ujar El.


"Ibu sangat takut jika kalian kenapa-napa, sangat beresiko jika meretas data orang lain, " ucap Dita khawatir.


"Ibu tenang saja, kami akan menjaga diri dengan baik dan melakukannya tanpa meninggalkan jejak. " Al berusaha menenangkan Ibu nya.


"Begini, ibu kesini ada yang ingin di bicarakan dengan kalian berdua, " ucap Dita sedikit ragu, twins L memegang tangan ibunya dengan sangat lembut.


"Katakan saja Bu, jangan ragu-ragu, " ujar Al.


Dita menghela nafas sangat dalam, dan mengeluarkannya secara perlahan, "ini mengenai Ayah kandung kalian, " lirih pelannya.


"Ayah kandung? apa maksud Ibu? " El memiringkan kepalanya yang penasaran.


"Ayah kandung kalian, ingin mengenal kalian lebih dekat. "


"Tidak!!" tolak Al.


"Kenapa pria itu kembali? setelah Ibu melewati ujian, kenapa dia baru muncul. " El mengepalkan kedua tangannya.


"Dengarkan Ibu dulu, walau bagaimana pun dia tetaplah Ayah kandung kalian. "


"Kemana dia selama ini? dan kenapa baru sekarang dia mencari kami, " ujar Al.


"Sayang, baik atau buruknya dia tetaplah Ayah kalian. "


"Hem, siapa pria itu, " tanya El dengan raut wajah dingin.


"Kalian mengenalnya, dia adalah Nathan Wijaya. "


"APA?" sahut Al dan El dengan kompak, sementara Dita mengangguk membenarkan sahutan kedua putranya.


"Tetap saja, kami tidak ingin menemuinya lagi. Pantas, waktu itu dia memeluk kami dengan sangat erat, biasanya pria itu selalu mengibarkan bendera perang, " ujar El.


"Berdamailah dengannya, ibu tau kalian tidak menerima semua ini dengan sangat mudah. Tapi percayalah, Ayah kalian baru mengetahui jika kalian anaknya," bujuk Dita.


"Tapi kenapa baru sekarang Bu," Al meninggikan suaranya. Dita memegang jari jemari kedua putranya, berusaha memberi pengertian, "akan Ibu ceritakan tanpa ada yang di tutupi. Sebenarnya Ibu dan tuan Nathan di jebak dengan obat, hingga kami melakukan hal terlarang. Ibu hanya melihat wajahnya dengan samar-samar, sementara dia tidak mengingat kejadian di malam itu. Ibu harap kalian berdua mengerti posisinya yaa, berdamailah dengan keadaan ini. " penjelasan Dita.


"Apa ibu sudah memaafkan pria itu?" El mengerutkan keningnya.


"Bukan hanya dia saja yang bersalah, tetapi ibu juga ikut andil, Ibu belajar untuk memaafkan tuan Nathan. Ibu sangat bahagia, karena bisa memiliki kedua putra yang tampan dan sangat genius, Ibu tidak menyesali apa pun. Yang berlalu biarlah berlalu, kita tatap di masa yang sekarang, " ujar Dita yang tersenyum.


Dita tersenyum dengan membelai kepala twins L dengan sangat lembut, "tidak masalah, yang terpenting kalian sudah mengetahui keberadaan ayah kalian."


Suasana haru itu di rusak oleh suara perut milik Al dan juga El, Dita tertawa mendengar bunyi perut yang keroncongan, " eh, sepertinya kalian sudah lapar. Ayo masuk, Ibu akan menyuapi kalian. "


"Horee!" twins L berjingkrak senang.


Dita memegang tangan kedua putranya dan menuntunnya menuju meja makan, suasana yang sangat hangat mereka rasakan di saat makan bersama.


Bara selalu menatap twins L dengan kesal, "El, hapuslah foto Papa yang waktu itu. "


Semua orang menatap Bara, "kenapa? Papa sendiri yang ingin aku foto, " balas El dengan santai.


"Paling tidak, ambil foto Papa saat keadaan yang benar-benar tampan dan juga perfect. Kalian sangat nakal sekali, kenapa kalian melukis wajah tampan Papa kalian ini hah, " ujar Bara yang jengkel.


"Itu kesalahan Papa sendiri yang tidak mencuci wajah terlebih dahulu, lain kali rajinlah untuk mencuci muka terlebih dahulu, " cerocos Al yang fokus pada makanan yang di suapi Dita ke mulutnya.


"Jika kalian melakukannya lagi, Papa sita ponsel dan juga laptop, " ancam Bara membuat twins L menatapnya dengan tatapan tidak rela.


"Baik, kami janji tidak nakal lagi. Jika kami nakal, berarti kami melupakan janji itu, Papa ingatkan jika kami sudah berjanji, " sahut El.


Bara memutarkan kedua bola matanya yang menatap jengah dengan El, "itu sama saja kalian berjanji dan mengulanginya."


"Hehe." twins L cengengesan.


****


Nathan menyenderkan punggungnya ke kursi kebesarannya, dengan kaki yang menyilang, tangan kanan sebagai penopang dagu, serta tangan kiri mengetuk meja kerjanya. Dia tidak bisa fokus bekerja saat ini, dia hanya memikirkan reaksi dari kedua putranya jika mengetahui kebenarannya, hati yang berkecamuk di campur dengan perasaan gelisah yang dia rasakan saat ini.


Perhatiannya terganggu di saat seorang wanita cantik yang masuk tanpa izin ke dalam ruang kerjanya, yah dia adalah Karina, wanita cantik yang jatuh hati dengan Nathan saat pertama kali bertemu. Dia memakai pakaian yang super ketat, menonjolkan bagian lekuk tubuhnya, dan make up yang sedikit berlebihan menurut Nathan.


"Ketuk pintu jika ingin masuk keruangan ku, dasar tidak sopan, " ucap Nathan tanpa menoleh. Karina berjalan dengan berlenggak-lenggok yang berusaha menarik perhatian Nathan, "aku sudah meminta izin dengan tante Novi, apakah itu belum cukup, " jawab Karina.


"Ini kantorku, semua mengikuti prosedur yang sudah akubuat. t"


"Kamu sangat tampan dengan raut wajah dingin, tapi aku menyukainya. Kamu tau, sebentar lagi kita akan menikah, karena tante Novi telah mengatur perjodohan kita. Jadi, sebentar lagi aku menjadi nyonya dari Nathan Wijaya dan tidak perlu meminta izin siapa pun untuk masuk ke ruangan suamiku, "penuturan Karina membuat Nathan semakin jijik dengan wanita di hadapannya.


"Ck, dan itu tidak akan terjadi. Pergilah dari sini!" usir Nathan.


"Tidak, " tolaknya.


"Katakan apa yang bisa membuatmu pergi dari hadapanku?" ujar Nathan yang menahan emosi.


Karina tersenyum kemenangan, berjalan mendekati Nathan dengan memegang pundaknya, berusaha agar Nathan luluh dengan sentuhan darinya. Nathan tak tahan dengan ulah wanita di dekatnya itu, yang bahkan berani menyentuhnya. Bahkan Novi dan Naina tidak berani menyentuhnya, dengan cepat Nathan mendorong tubuh Karina dengan kasar dan meminta Daniel untuk mengusir Karina.


"Daniel....Daniel, cepat singkirkan wanita yang menjijikan ini dari ku, " titah Nathan dengan suara yang menggelegar,dengan cepat Daniel mengusir Karina dengan paksa.


Tanpa menunggu waktu, Nathan membersihkan dirinya yang sangat jijik dengan sentuhan wanita lain selain Dita.


"Jika wanita itu berani menyentuhku, maka aku akan mematahkan kedua tangan kotornya, " batin Nathan yang marah.