Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 72


Daniel dan Naina mengalihkan perhatiannya menuju twins L yang sudah selesai bermain game, "eh, kalian sudah selesai?" ucap Naina.


"Sudah, paman ayo ikuti kami," jawab Al yang melihat Daniel.


"Kemana?"


"Tentu saja mengambil hadiah kami," sahut El dengan santai.


Daniel menuruti perkataan twins L yang mengambil hadiah yang telah mereka menangkan. Betapa terkejutnya Daniel dan Naina saat melihat begitu banyak hadiah yang memenuhi plastik besar dan seorang pria paruh baya yang sebentar lagi akan mengamuk dengan aksi twins L yang merugikannya.


Daniel yang ingin membawa plastik besar itu terhenti saat seorang pria paruh baya berteriak kepadanya, "berhenti, jangan mencoba-coba untuk membawa nya."


"Hei pak pitak, itu sekarang milik kami. Kami memenangkan semua permainan itu, dan jangan salahkan kami yang membuat mu rugi, " ketus Al.


"Jangan berteriak atau gigi palsumu akan terlepas," sambung El. Sementara Naina dan Daniel hanya menonton pertikaian itu tanpa mereka tau apa yang sebenarnya terjadi.


"Bukankah aku sudah melarang kalian untuk datang kesini? jadi cepat kemarikan barang yang telah kalian curi," desak pak pitak yang menadahkan tangannya.


"Hei apa kalian mencuri?" Naina menatap twins L dengan tajam.


"Dia lah yang berbohong, selain pintar berbuat kecurangan ternyata pak pitak berani menuduh kami tanpa bukti ya. Hehe....tapi tenang saja, kami mempunyai bukti dari rekaman CCTV," sahut El yang menyeringai.


"Oh ayolah, kembalikan saja semuanya. Kalian itu sangat kaya, yang bahkan bisa membeli tempat ini," celetuk Daniel yang sangat malas melihat drama di hadapannya.


"Bukan masalah itu, pak pitak selalu mengelabui semua orang. Banyak kecurangan di setiap wahananya, ayo mengakulah atau aku akan menindak lanjuti kecuranganmu pak." El menyeringai membuat pak pitak merubah raut wajahnya dengan cepat.


"Heheh....kalian berdua adalah anak yang sangat baik, jangan lakukan itu ya. Bapak mempunyai 2 orang anak yang seumuran kalian untuk di beri makan, bawalah semuanya ya," kata pak botak yang tersenyum memperlihatkan giginya yang kuning.


"Ck, lain kali cari lah uang dengan benar." Al memikul semua hadiah itu dan pergi tanpa menoleh kepada pria paruh baya yang menahan kekesalan terdalam.


El mengikuti Al yang di susul oleh Naina dan juga Daniel yang menenteng 1 plastik hadiah milik El.


"Mereka selalu saja membuat kerugian, jangan sampai aku bertemu dengan dua bocah tengik itu," gumam pak botak di dalam hatinya.


****


Dita sangat senang dengan panorama yang berada di Swiss, perjalanan nya pertama kali sangat berkesan dengannya. Perjalanan yang sangat jauh, tak membuat Dita kelelahan, mata nya berbinar saat melihat kota Davos.


Kota pertama yang mereka singgahi, berada di lereng gunung Alpen, kota tertinggi di Swiss ini juga menawarkan banyak atraksi olahraga musim dingin seperti ski, hiking atau trekking. Selain itu, ada banyak resort, bar, wisata belanja dan kafe untuk menyaksikan panorama sunset bersama pasangan.


Mereka menginap di salah satu resort terkenal di kota itu, pemandangan yang di suguhi oleh hamparan salju putih dan gunung yang berada tak jauh dari sana, cuaca yang dingin membuat suasana kian romantis dengan penghangat ruangan. Dita yang sibuk dengan pemandangan yang tidak dia lewatkan tanpa sadar jika Nathan menatapnya sedari tadi, "eh, kenapa kamu menatapku?"


"I LOVE YOU," ucap Nathn yang membuat Dita tersenyum bahagia. "I LOVE YOU TOO."


Nathan tak ingin melewatkan suasana romantis dengan begitu lama, untuk saat ini dia di sibukkan dengan meraba setiap inci tubuh sang istri. Hingg pertarungan mereka terhenti saat di subuh hari, Dita sangat heran dengan suaminya yang tidak pernah merasa lelah.


"Jangan bersedih, lain kali kita akan mengajak semua orang kesini."


"Benarkah?" ucap Dita yang berbinar, Nathan mengangguk pelan membuat Dita memeluk sang suami dengan bahagia.


Tujuan pertama mereka adalah Lake Davos, perairan yang membeku itu menjadi salah satu destinasi yang sering di kunjungi oleh para turis seperti mereka. Nathan dan Dita saling berselfie ria dengan moment yang sangat pas untuk di abadikan. "Apa kamu menyukainya, Sayang!"


"Sangat menyukainya, Danau ini sangat indah di saat beku. Bagaimana saat musim semi? pasti lebih indah lagi," racau Dita yang memotret menggunakan lensa kameranya.


"Kita akan kesini lagi, di saat musim semi. Ayo kita berjalan-jalan menikmatinya." Nathan menggandeng istrinya dengan sangat posesif membalas dari tatapan para pria yang menatap sang istri.


Saat Nathan bersenda gurau dengan Dita, tak sengaja dia bertubrukan, di saat mendongakkan kepalanya untuk menoleh, dia terkejut melihat wajah pria yang baru saja bertubrukan dengannya.


"Oh ayolah, apakah dunia ini memang sesempit ini!" racau Nathan yang mengusap wajahnya dengan kasar.


"Wah....wah tidak aku sangka bisa bertemu dengan kalian di sini. Bagaimana keadaan kalian? terutama dengan Tata ku?" ucap pria itu yang tak lain Zean yang melirik Dita dan menatapnya tersenyum.


Di saat Zean ingin memeluk Dita, dengan cepat Nathan berada di depan Dita dan meraih pelukan Zean yang bermaksud untuk memeluk istrinya. "Ck, aku tidak sudi memelukmu," ketus Zean yang melepaskan pelukan nya, sementara Nathan hanya tersenyum kemenangan.


"Lain kali, jangan memeluk istri orang. Cari lah wanita lain yang bisa kamu peluk," cibir Nathan.


"Aku sudah melupakan Tata, berpelukan bukan suatu hal kejahatan," sahut Zean yang memutar bola matanya dengan jengah.


"Kenapa kamu di sini? selalu saja menganggu," gerutu Nathan yang menghela nafas dengan kasar.


"Apa? ini tempat umum, kenapa kamu yang marah? apa kalian sedang honeymoon?" Zean melirik Dita.


"Iya, itu benar," balas Dita tersenyum ramah, membuat Nathan terbakar cemburu.


"Oh ayolah Sayang, jangan tersenyum dengan pria sialan ini." Mendengar penuturan Nathan membuat Zean terkekeh melihat polah dari Nathan yang sangat posesif.


"Ayo kita pergi dari sini, biarkan si jomblo ini merutuki nasibnya yang malang," ledek Nathan yang menarik tangan Dita dengan posesif.


Zean tersenyum smirk dan ingin mengerjai Nathan dengan cara mengikuti pasangan itu, sementara Nathan sangat kesal dengan Zean.


"Ini adalah honeymoon, jangan mengikuti kami dengan menjadi nyamuk," ketus Nathan.


"Kenapa? bukankah ini tempat umum?"


"Pergi saja ke tempat lain."


Zean semakin bersemangat mengerjai Nathan dan menggandeng tangan Dita, dengan cepat dan sigap Nathan menepis tangan Zean dengan kasar, "sudah aku bilang, jangan menyentuh istriku."


"Baiklah, " ujar Zean dengan santai.