Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 196 ~ S2


Pernikahan di gelar dengan sangat mewah bak negeri dongeng, lampu hiasan dan bunga-bunga di hias dengan sangat sempurna. Kali ini tema yang di pilih oleh Keluarga Wijaya adalah Modern, yang tamu nya bukan saja berasal dari kota melainkan beberapa negara. Para tamu yang sangat banyak dari kalangan pebisnis dari Nathan dan juga rekan bisnis dari twins L ikut hadir untuk menambah keramaian.


Di satu sisi, terdapat Lea yang sangat cantik dengan gaun buatan sang ibu, gaun putih yang sangat indah dengan beberepa renda, manik, dan pita kecil untuk melengkapi aksennya. Dengan memperlihatkan leher jenjang yang di hiasi dengan kalung berlian dan rambut panjang Lea yang di capol dengan sangat rapi dan sedikit hiasan di kepala.


"Ibu aku sangat gugup, kenapa ini sangat mendadak sekali," rengek Lea dengan manja menatap Dita.


"Tenangkan pikiranmu, Sayang. Kita sudah menyepakati hal ini, kamu sangat beruntung bisa menikah dengan pria itu. Kamu tau, Abian sudah sangat mencintaimu saat kamu masih berada di perut ibu. Bukankah dia selalu ada di saat membutuhkan mu? di dalam kondisi apa pun. Nak, Ibu sangat mengetahui perjalanan Abian yang sangat tidak mudah, dia tidak pernah merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Kami mengadopsinya sebagai anak dan melimpahkan kasih sayang untuk menutupi kesepian di dalam dirinya, hingga di saat yang sangat sulit. Farel kembali mengambil Abian dan membawanya pergi dari Ibu selama bertahun-tahun, ternyata nasibnya sangat lah buruk saat Ferel hanya memanfaatkan Abian untuk mendapatkan harta warisan dan mulai menyiksa Abian," tutur Dita dengan panjang.


"Tapi aku ingin meraih cita-cita setinggi mungkin Bu, menikah sama saja membuat pergerakan menjadi terhambat," jujur Lea.


Dita tersenyum saat menatap putrinya sembari mengusap pucuk kepala dengan hati-hati, "tenanglah Sayang, jangan memikirkan hal itu sekarang. Ayo kita turun, orang lain telah menunggu kehadiranmu." Dita menuntun Lea untuk turun dari tangga, semua sangat takjub dengan kecantikan Lea yang sangat cantik dengan polesan tipisnya.


Abian yang memakai jas berwarna hitam membuatnya terlihat sangat tampan dan juga terlihat serasi, dia selalu menatap Lea tanpa berkedip, "apa mata itu tidak bisa berkedip lagi?" ledek El yang berada dekat dengan Abian.


"Lea terlihat sangat cantik dan aku sangat beruntung untuk itu," jawabnya.


Pernikahan yang di gelar sehari saja atas permintaan Lea yang tidak ingin berlama-lama dalam acara yang menurutnya sangat membosankan, hingga acara itu pun selesai dengan para tamu yang satu persatu pergi meninggalkan tempat acara. Begitupun dengan Lea yang pamit ke kamarnya kepada semua orang karena sangat kecapean.


Abian menatap kepergian Lea membuatnya bersemangat untuk menyusul, baru saja dia berdiri tapi di cekal oleh twins L, "kenapa kalian menahanku, aku sangat capek dan ingin istirahat," ucap Abian yang mendelik kesal.


"Ayolah, kita belum selesai mengobrol," ucap El yang tersenyum samar.


"Tidak, besok saja. Jangan menghalangiku!" cetus Abian.


"Wah, sepertinya kamu sudah tidak sabar ya," ledek El.


"Minggir, jangan menghalangi jalanku." Abian memiting kepala El dengan sangat keras karena begitu kesal dengan nya. Abian berlari dengan sangat cepat meninggalkan ruangan itu menuju ke kamar pengantinnya.


"Dasar sialan," umpat El yang menatap kepergian dari Abian.


Abian berjalan masuk ke kamar dan mengunci pintu, mendekati sang istri yang tengah memainkan ponsel nya. Abian tersenyum samar karena mengetahui kelemahan terbesar Lea dan mengandalkan hal itu untuk mendapatkan keinginannya.


Abian membersihkan tubuhnya yang terasa lengket, tak butuh waktu lama untuknya menyelesaikan ritual mandi. Berjalan keluar yang hanya menggunakan handuk putih, melingkar menutupi pinggang sampai di atas lutut, memperlihatkan tubuh atletis dengan perut sixpack dengan dada yang bidang.


"Bagaimana dengan bentuk tubuhku?" ucapan Abian berhasil membuat Lea gelagapan.


"Apa maksudmu? aku hanya memainkan ponsel ku," kilahnya.


"Benarkah?" ucap Abian yang mendekati Lea dengan rambut basah dan tubuh atletis membuat Lea menelan saliva dengan susah payah, berusaha mengontrol dirinya agar tidak tergoda.


"Oh ya tuhan, tolong ampuni pikiran mesumku ini. Tubuh yang begitu sempurna membuat aku kehilangan akal," batin Lea yang berteriak.


Abian menindih tubuh Lea dan menatap matanya dengan sangat dalam, "a-apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Lea yang sangat gugup. Abian mendekati wajahnya dan Lea, mencium bibir merah merekah dari istrinya. Ciuman yang semakin menuntut itu membuat gairah dari Abian tidak bisa di bendung lagi, Lea berusaha keras untuk menolak dengan reaksi yang bertolak belakang.


"Hari ini aku akan memilikimu seutuhnya," batin Abian yang terus melanjutkan permainan nya, tangan nya terus meraba setiap inci lekuk tubuh dari sang istri.


Iman Lea yang sangat dangkal membuatnya terbuai dengan permainan Abian, permainan untuk mencari kenikmatan surga dunia.


Hingga permainan menuju puncak, Abian kembali mencium bibir Lea dan menatapnya dengan cinta, "aku sudah tidak tahan lagi," bisik Abian di telinga Lea yang hanya mengangguk. Mau bagaimana lagi? wajah Abian yang sangat sempurna dengan perut yang sixpack menggoda imannya, "roti sobekku," batin Lea yang terus menikmati bentuk tubuh suaminya yang sangat sempurna.


Abian yang mendapat sinyal hijau dari sang empunya mengulas senyum dan kembali mencium bibir Lea dengan penuh gairah.


Belum sempat Abian memasuki sangkar, tiba-tiba dia menghentikan permainan nya, "Sayang, kenapa ada darah di sana?" tunjuk Abian dengan polos. Seketika mata Lea melebar dan dengan cepat dia terbangun dan mendorong tubuh Abian.


"Sayang, kenapa kamu lari? kita belum menyelesaikan acar puncaknya," ujar Abian yang sedikit kebingungan.


Lea berlari ke kamar mandi tanpa menghiraukan ucapan dari suaminya, mengganti semua pakaiannya yang penuh dengan noda merah. Abian menggedor pintu karena sangat cemas dengan keadaan istrinya, "apa semua baik-baik saja? kenapa sangat lama sekali? ayo kita lanjutkan permainan nya," ucap Abian di sebalik pintu.


Dia membuka pintu kamar mandi membuat Abian menghela nafas, "kenapa kamu berlari begitu? dan kembali memakai baju? ayo kita lanjutkan permainan panasnya," bisik Abian yang menggodanya.


"Lain kali saja ya," tolak Lea.


"Apa maksudmu?" Abian menautkan kedua alisnya menatap Lea, gairahnya yang memuncak membuat Abian ingin meraba tubuh sang istri. Lea dengan cepat menghempaskan tangan Abian, "aku sedang kedatangan tamu bulanan, tahanlah seminggu lagi ya," bujuk Lea yang berjalan di atas tempat tidur dan menarik selimut.


"Sial, aku bahkan belum memulainya. Kenapa dia harus kedatangan tamu bulanannya hari ini? kenapa tidak besok saja. Dengan sangat terpaksa aku menggunakan sabun, yang sabar yah juniorku. Tunggu lah seminggu lagi kamu akan masuk ke sarang," batin Abian yang meringis sembari menatap nasib malang sang junior yang gagal mendapatkan jatah.