
Perkerjaan membuatnya sangat sibuk dengan layar laptop di hadapannya, dia meregangkan otot-otot nya dan kembali berfokus dengan benda pipih yang ada di hadapannya, pekerjaan yang membuat dia sangat serius.
Tak butuh waktu yang lama bagi El untuk mengidentifikasi pelakunya yang berhasil di lacak oleh nya. Di tersenyum tipis sembari mengambil ponsel untuk menghubungi salah satu nomor kontak untuk bertemu dengannya di markas yang dia kelola.
Dia memutuskan mematikan sambungan telfon, "akhirnya aku menemukan si kecoak itu," gumam El. Dia pergi menuju kamar Al untuk membicarakan mengenai hal ini, melangkahkan kaki sembari bersiul indah.
El mengetuk pintu beberapa kali, tapi tidak ada sahutan dari dalam sana. El memutuskan untuk menerobos kamar itu, melihat pria tampan yang menatap keluar jendela dengan tatapan lurus.
"Apa yang kamu pikirkan? kenapa kamu melamun?" ucap El membuat Al tersentak kaget.
"Tidak ada," kilah Al.
"Jangan sembunyikan apapun dari ku, cepat katakan!" ujar El yang seakan tau.
"Apa yang harus aku katakan kepadamu?" ucap Al.
"Ayo ceritakan kepadaku, bukankah kita ini saudara kembar," sahut El yang merangkul pudak Al.
"Tidak ada apapun yang aku sembunyikan, cepat katakan! kenapa kamu datang ke kamarku," tutur Al dengan tatapan menyelidik untuk mengalihkan perhatian El.
"Hampir saja aku melupakan itu, aku ingin mengatakan jika keberadaan kecoa itu sudah aku temukan."
"Benarkah? siapa?" ujar Al yang sangat antusias.
"Hem, kamu mengenal orang itu. Dia adalah Alan, musuhmu saat masih kecil. Dia sangat terobsesi menjadi yang pertama dan juga lebih unggul darimu, ingin rasanya aku menembak kepalanya hingga peluru pistolku bersarang di otaknya," gerutu El.
"Hah, dia selalu saja ingin merebut dan ingin menguasai apa yang aku miliki. Dia juga yang menyebabkan perusahaan rugi besar, untung saja aku dengan cepat menuntaskan nya," terang Al yang menghela nafas dengan kasar.
"Aku sudah punya ide, bagaimana jika kita melakukan penyerangan. Sepertinya itu sangat seru!"
"Tidak, itu ide yang sangat buruk. Lakukan saja itu dengan sendiri, bukankah markas adalah tanggung jawabmu?" ucap Al yang menatap Al dengan santai.
"Ayolah bantu aku! apa kamu tega dengan nasibku ini?" bujuk El.
"Yaya baiklah, sekarang keluarlah dari kamarku," usir Al sembari mendorong tubuh El menuju keluar pintu kamarnya.
El yang kesal terus saja mengumpati Al yang sangat keterlaluan dengannya, dia menuju parkir mobil yang tersedia di mansion. El mengemudi kan mobil dengan kecepatan tinggi, menyalip beberapa kendaraan yang menurutnya sangat menganggu.
Menghentikan laju mobil di sebuah perkarangan markas. Berjalan dengan sangat elegan, kekuatan dan aura kepemimpinan terlihat jelas di diri El membuat semua orang ketakutan dan tidak ada yang berani menatap mata El. Sudah lama dia tidak memijakkan kakinya di markas, sangat jarang untuk kesana karena dia selalu memikirkan hanya Anna dan Anna.
Duduk di kursi kebesaran nya serta menyuruh seluruh anggota Black Wolf untuk berkumpul, tak butuh waktu yang lama, para anggota mafia itu sudah berdiri di hadapan El. Mereka sangat bingung saat El mengumpulkan mereka semua.
Menatap satu persatu wajah para anggota mafianya dengan mata elang miliknya, ada beberapa orang yang berkeringat di dahinya. Sangat terlihat jelas oleh El, dia berhenti dan memukul wajah pria itu dengan sangat keras dan menimbulkan luka di salah satu sudut bibirnya.
"Maaf King, apa kesalahan saya?" ucap pria itu yang menundukkan kepalanya seraya memegang bibirnya yang berdarah.
"Mengakulah, aku sangat yakin dengan ini. Cepat katakan!" desal El.
"S-saya tidak tau apa yang King katakan," kilah pria itu.
Sekali lagi El memukul wajah pria itu di sisi lainnya, hingga pria itu terpental saat mendapatkan pukulan mendadak untuk kedua kalinya. El mengeluarkan sebuah belati dari saku celananya, sembari mendekat kearah pria itu.
"Katakan kesalahanmu, jika kamu berbohong maka aku akan menghajarmu habis-habisan," ucap El dengan raut wajah yang dingin. Begitu lah El jika dia menjalankan tugas dengan sangat serius, hatinya seakan dingin tanpa tersentuh, hampir sama dengan Al.
"Maaf King, saya hanyalah seorang suruhan dari tuan Alan," ucap pria itu yang bersimpuh di kaki El sembari memohon ampun.
Tanpa babibu, El menggores leher sang penyusup yang sekarang hanya tinggal nama. Beberapa anggota penyusup meneguk saliva dengan susah payah, apalagi tatapan El yang sangat tajam mengarah kepada mereka.
El berjalan mendekati para penyusup yang menyamar dan melakukan hal yang sama dengan gerakan yang sangat cepat tanpa di sadari oleh musuh, El tersenyum devil menatap semua penyusup yang tewas di tangannya hanya dalam beberapa detik saja.
"Kenzi," teriak El yang memanggil asistennya.
"Iya King," sahut Kenzi dengan cepat.
"Bersihkan bangkai kecoak ini," ucap El dengan tegas, sesuai perintah Kenzi menjalankan dengan sangat baik. Motto mereka adalah jika di rumah adalah saudara sepupu, tapi hubungan mereka di markas hanya Leader dan Co Leader.
El kembali fokus dengan laptop dan juga ponsel miliknya, menyelesaikan permasalahan dengan cepat dan tuntas. Tak lupa El memasang alat pelacak dan juga sistem keamanan yang meningkat, jika ada yang menerobos masuk maka dengan cepat dia mengetahui lokasi sang pelaku. Tak lupa pula dengan Kenzi yang berada tak jauh darinya yang juga sangat sibuk dengan benda pipih di hadapannya.
****
Di sisi lain, Al tidak bisa tidur karena selalu mengingat kejadian itu. Dia sudah melakukan banyak cara untuk bisa tertidur, tapi bayangan saat Shena dengan tubuh polos membuatnya berhasrat.
Dia meminum tes di atas balkon, sembari menatap pemandangan yang ada di luar. "Sial! tubuhnya sangat seksi sekali, padahal umurnya baru menginjak belasan tahun, kenapa pikiran ini tidak hilang juga seakan menghantui ku. Kenapa gadis itu sangat ceroboh? tapi dia tidak bisa di salahkan, karena aku masuk ke kamar itu tanpa meminta izin dari sang pemilik kamar," batin Al yang terus menyeruput tehnya.
"Tunggu dulu, aku melihat fotonya dengan seorang pria. Apakah pria itu kekasihnya? " lirih Al dengan bermacam-macam praduga.
Waktu hampir saja menunjukkan pukul 3 pagi, Al menuju tempat tidur dan memejamkan mata dengan paksa berharap bisa melupakan kejadian itu.
"Semoga aku bisa melupakan kejadian itu, walau kejadian itu akan menimbulkan suasana canggung nantinya," lirih pelan Al yang menutup matanya dengan perlahan. Tapi sayang itu tidak terjadi, Al bahkan memimpikan Shena dengan mandi keringat.