
El tidak bisa mengedipkan matanya saat melihat Anna dengan memakai gaun yang terlihat sangat cantik. Bonar sangat kesal dengan El yang tidak melepaskan pelukannya.
"Bisakah kamu melepaskan pelukan ini?" ucap Bonar.
"Hah iya, aku hampir melupakannya." El melepaskan pelukannya dengan cepat, Anna bisa melihat mata El yang sedikit berair.
"Apa kamu baru saja menangis?" tanya Anna yang menautkan kedua alisnya.
"Tidak, aku ini seorang pria dan tidak akan menangis. Mataku tadi kemasukan debu," kilah El.
"Dasar pembohong, bukan kah kamu tadi me...." belum sempat Bonar menyelesaikan perkataannya, dengan cepat El menarik Bonar menjauh dari Anna.
"Ayolah Paman, jangan mengatakan hal yang sangat memalukan tadi. Tolong bekerjasama lah denganku," bujuk El.
"Apa yang aku dapatkan dari itu?" jawab Bonar dengan tersenyum licik. El yang mengerti, mengambil dompet dari saku celananya dan mengeluarkan beberapa uang berwarna merah, menyerahkannya kepada calon mertuanya agar bisa menutup mulut. Bonar dengan cepat mengambil uang itu dan menghitungnya dengan mata yang berbinar.
"Jangan katakan apapun kepada Anna, aku mohon Paman!"
"Tenang saja, itu bisa di atur!" ucap Bonar yang mencium uang di tangannya dan pergi dari tempat itu meninggalkan El. Anna hanya memperhatikan dari kejauhan, karena sedikit penasaran dengan pembicaraan dari Ayahnya dan juga El.
"Hehe....ini bagus, semua kerugianku di masa lalu dapat di gantikan oleh bocah itu," gumam Bonar yang mengibaskan uangnya dengan bangga.
Anna menghampiri El dan menanyakan kenapa dia seperti menangis, "sudah aku bilang bukan, jika mataku kemasukan debu. Kamu terlihat sangat cantik," ucap El yang melirik penampilan Anna yang jauh dari biasanya.
"Terima kasih, bukannya kamu pulang seminggu lagi?" tutur Anna yang memiringkan kepalanya menatap El.
"Aku menyelesaikan tugasku dengan cepat, hanya untuk menemuimu. Ayo ikuti aku," ujar El yang menarik tangan Anna dan membawanya dengan mobil yang telah dia persiapkan.
"Hei, kita mau kemana? Ayahku akan marah jika melihat ini."
"Ke suatu tempat, dan urusan Paman serahkan kepadaku. Aku sangat tau penangkal nya," jawab El yang duduk di samping Anna.
"Tapi kemana kamu akan membawaku?"
"Nanti kamu juga tau sendiri, jalankan mobilnya," ucap El yang menatap Anna sambil memerintahkan supirnya yang baru saja dia hubungi.
Anna sangat deg-degan saat ini, dia sangat yakin jika El menagih jawaban ya atau tidak kepadanya. Anna sudah lama mempertimbangkan perasaan yang sesungguhnya kepada El.
Tak lama mobil berhenti, El turun dan membantu Anna turun dari mobil. Anna mengeratkan pegangannya agar tidak terjatuh, karena kebetulan sekarang dia memakai gaun dari pemberian El sebelum pergi ke Swiss.
El melakukan mempersiapkan sebuah tempat yang sangat romantis. Persiapan atas rekomendasi dari Roger dan Audrey yang berpengalaman dalam masalah wanita, sebenarnya El ingin meminta saran kepada Bara, tapi dia tidak pernah menemukan penyelesaian. Hingga El meminta kedua pasukan inti untuk melakukan dekorasi romantisnya.
"Wah, ini sangat indah. Apa ini idemu?" tutur Anna yang membekap mulutnya serta tatapan mata yang kagum. Bagaimana tidak, sebuah taman yang di dekorasi sangat indah. Di sekeliling tempat mereka berdiri, terdapat bunga yang bermekaran berwarna warni dan ada beberapa hiasan.
"Tentu saja, apa kamu menyukainya?"
"Aku sangat menyukainya, aku tidak menyangka jika kamu melakukan ini hanya untukku."
"Anna, kamu pasti tau apa yang aku maksud dari semua ini. Aku ingin mendengar jawabanmu," tutur El dengan wajah yang serius.
Anna juga menatap pria di hadapannya dengan dalam, "maafkan aku El, aku tidak bisa!" jawab Anna dengan raut wajah sedihnya.
Bagai tersambar petir di siang bolong, begitulah gambaran hati El yang sangat hancur. Suara yang tertahan di tenggorokan membuat El hanya terdiam sambil menekuk wajahnya, jawaban yang tidak dia ingin dengarkan.
"Itu artinya kamu menolakku? Ya atau Tidak?" ucap El dengan nanar tanpa menoleh. Anna tersenyum saat melihat reaksi El yang sangat menyedihkan, dia memegang dagu El dan mengangkatnya dengan lembut.
"Maksud dari perkataanku bukan lah itu, aku tidak bisa menolak mu karena aku juga menyadari perasaanku yang hanya mencintaimu."
Seketika raut wajah El berubah, wajah sedih berganti dengan bahagia. Dia tidak bisa menggambarkan perasaannya saat ini, jawaban dari Anna yang menerimanya sangat di nanti-nantikan.
"Apa itu artinya kamu menerimaku?" ucap El yang melompat kegirangan saat Anna menganggukan kepala.
El memeluk tubuh Anna dengan erat dan menggendongnya, "apa aku boleh meminta lebih?" ucap El dengan tatapan memohon.
"Hei, apa apa maksudmu dengan meminta lebih?" protes Anna.
"Berpikirlah positif, maksudku bukan yang itu. Aku tidak ingin menjadi kekasihmu, tetapi suamimu."
"Hehe....maaf, hampir saja aku berprasangka buruk kepadamu. Mintalah restu kepada Ayahku jika kamu ingin menikahiku," jawab Anna yang masih di belakang punggung El.
"Hah, jangan remehkan kekasih mu ini. Lihat bagaimana aku akan mendapatkan restu dari calon mertua," ucap El yang penuh keyakinan.
"Yayaya, aku percaya itu. Tapi turunkan aku!"
"Baik, cium dulu pipi ku."
"Aku tidak bisa melakukannya."
"Kenapa? bukankah kita sudah resmi?" ucap El dengan polos yang mendapat jitakan kepala dari Anna.
"Kita sekarang hanya kekasih, bukan suami istri. Aku tidak ingin ada nya ciuman atau apalah itu," ketus Anna.
"Kenapa kita sangat berbeda, orang lain biasanya akan berciuman bahkan lebih dari itu, sekali saja!" bujuk El yang terus menggendong Anna di belakang punggungnya sembari menghabiskan waktu di taman itu.
Anna mendapat cela hingga dia bisa lolos dari El, dan lari sejauh yang dia bisa. El mengejar Anna dengan bersemangat, "larilah sejauh yang kamu bisa dan jika tertangkap aku akan meminta cium bukan di pipi melainkan di bibir," pekik El.
Anna mengangkat gaunnya di atas lutut dan menanggalkan sepatu, berlari sejauh yang dia bisa untuk menghindari El yang mulai mesum. Tapi sayang, Anna tidak melihat langkah nya hingga menabrak dada bidang El yang sudah berdiri di depannya sembari tersenyum jahil.
"Kamu di sini? tapi bagaimana bisa?" cetus Anna yang mengerjapkan matanya saat menatap El.
"Kamu tidak akan bisa lari dariku," ucap El yang mendekatkan wajahnya dengan wajah Anna yang sekarang hanya beberapa senti saja. Anna sangat gugup dengan posisi itu di tambah lagi dengan tangan El yang melingkar di pinggangnya.
Dia hanya pasrah dengan menutup mata, El hanya mencium keningnya dengan sangat lembut sembari berbisik, "aku tidak akan melewati batasanku sebelum kita menikah, menjaga mu adalah tanggung jawabku. Aku sangat mencintaimu Anna."