Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 45


Niat ingin merasakan malam pertama dengan sang istri, tanpa di sangka kedua anaknya ikut tidur bersama. Twins L sangat senang bisa tidur bersama ayah dan ibunya, mereka memilih posisi di tengah, Nathan hanya menghela nafas dengan kasar.


"Kalian sudah besar, tidur saja di kamar lain, " cetus Nathan.


"Ayah bahkan lebih besar dari kami, apa salahnya dengan itu, " sahut El yang tidak menghiraukan cetusan dari sang ayah.


Terpaksa Nathan tidur di pinggir, menahan sesuatu yang belum tersalurkan, membuat kepalanya pusing. Dengan langkah yang cepat, Nathan setengah berlari menuju kamar mandi. Al dan El menatap kepergian Nathan sembari memiringkan kepala.


"Ada apa dengan, Ayah? " ujar El.


"Entahlah, bisa jadi lagi BAB! " sambung Al, Dita mengusap kepala kedua putranya dengan sangat lembut. Twins L merasa sangat nyaman dengan sentuhan tangan ibunya.


"Bu, kenapa Ayah sangat lama di kamar mandi? " Al mengerutkan keningnya.


"Bisa jadi, karena kekurangan mengkonsumsi sayur, dan sangat sulit untuk mengeluarkannya, " sela Al.


Dita yang paham hanya diam saja, tanpa berniat menjelaskan apa yang terjadi dengan suaminya, "ini sudah malam, tidurlah. "


Nathan sangat lega, saat mengeluarkan sesuatu yang dari tadi mengganggunya, kembali menuju kamar dan melihat wajah istri dan juga kedua putranya. Wajah yang teduh membuat hatinya menghangat, dia menyelimuti kedua anak dan istrinya. Mata nya kian mengantuk, Nathan ikut berbaring di samping El. Baru saja menutup matanya, El menendangnya dengan sangat keras, hingga Nathan terjatuh dari tempat tidur.


"Dasar kutu, di saat tidur saja, dia berani mengerjaiku. Oh tuhan.... apakah ini karma dari ucapan Daniel? aku akan membalas mu, DANIEL." Nathan tersenyum smirk.


****


Keesokan paginya, Nathan tidak masuk kantor begitupun Dita yang juga tidak masuk ke butik. Seseorang di sana pasti mengumpat sang atasan mereka. Mereka berniat untuk berlibur ke pantai dengan menginap di sebuah Villa yang tak jauh dari bibi pantai.


Tentu saja, hal itu membuat twins L merasa bahagia, sedikit ada perdebatan saat membicarakan liburan. Novi awalnya tidak setuju mendapatkan bujukan dari twins L, yang akhirnya luluh dengan perkataan Al dan El yang sangat manis.


Dita menyiapkan semua keperluan mereka selama di sana sembari menuntun kedua anaknya untuk masuk ke dalam mobil.


Nathan berjalan menuju kendaraan roda empat yang terparkir rapi di sebuah garasi mobil. Dia segera membuka pintu mobil dan duduk di kursi kemudi. Wajahnya terlihat sumringah dengan manik mata berbinar menandakan jika dirinya begitu bahagia. Setelah itu, Dita segera mengambil posisi duduk di sampingnya, dan twins L duduk di belakang. Mereka berdua akan melanjutkan perjalanan menuju ke pantai. Setelah semuanya siap, akhirnya Nathan mulai melajukan mobilnya dengan penuh hati-hati. Matanya memandang ke depan sambil sesekali dia melirik ke samping ketika menjawab pertanyaan sang istri dan juga kedua anaknya.


Hanya butuh waktu 1 jam untuk samoai ke lokasi, mobil terhenti di halaman Villa, dan dengan cepat twins L berlari menuju bibir pantai. Nathan ikut mengejar twins L dengan raut wajah bahagia, "hei, kalian jangan lari atau kalian akan terjatuh nanti, " pekik Nathan.


"Kejar kami, Ayah, " balas twins L dengan berteriak.


"Larilah, jika tertangkap, Ayah akan memberi kalian hukuman, " ucap Nathan.


"Coba saja, " ejek Al yang menjulurkan lidahnya.


Dita menyiapkan semua kebutuhan untuk suami dan juga kedua anaknya, dan tak sengaja bertubrukan dengan seseorang.


"Ups, maaf! aku tidak sengaja, " ucap Dita yang merasa bersalah.


Pria itu termenung saat menatap wajah Dita, lidahnya seakan keluh, dengan tatapan mengartikan sesuatu yang tidak di ketahui oleh orang lain. Dita melambaikan tangannya di hadapan wajah pria itu, " sekali lagi aku minta maaf, " ulang Dita.


"Eh, tidak masalah! kamu di sini?" ucap pria itu.


"Hem, " deheman Dita.


"Kenalkan, namaku Zean, " sapa Zean yang mengulurkan tangan.


"Dita, nama mu cukup terdengar familiar di telingaku. "


"Yasudah, aku permisi dulu, " pamit Dita meninggalkan Zean yang menatapnya.


Nathan dan twins L melihat dari kejauhan, ada pria tampan yang berbicara dengan Dita, Nathan sangat cemburu, terlihat jelas di wajahnya yang tiba-tiba cemberut.


"Ada apa dengan raut wajahmu, Ayah? " ujar Al yang penasaran.


"Apa kalian melihat dengan jelas wajah pria itu? "


"Tidak, sepertinya dia cukup tampan. Walaupun wajahnya tidak terlalu jelas, " Nathan yang mendengar ucapan dari El semakin tersulut api cemburu.


"Ck, kenapa kamu memuji pria itu. Bahkan, Ayah lebih tampan dari dia. "


"Yang jelas, kamilah yang paling tampan di sini, " ucap Al dengan bangga.


"Kamu pikir, wajah tampan kalian menurun dari siapa, heh! " jawab Nathan dengan memutarkan bola matanya yang jengah.


"Kenyataannya, kamilah yang sangat tampan dari yang tertampan, " celetuk El yang tak ingin kalah.


Perdebatan kecil iti terhenti saat mendengar suara perempuan yang mereka cintai, "kenapa sangat lama sekali, Bu, " gerutu Al yang lapar.


"Dan siapa pria tadi, " ucap Nathan yang menatap Dita yang dalam.


"Entahlah, aku tidak mengenalnya, " balas Dita yang mengangkat kedua bahunya.


"Apa kamu sangat yakin? " ujar Nathan menyelidik.


"Aku tidak berbohong, " jelas Dita.


Nathan akhirnya mengalah dan memakan hidangan itu, hingga perut mereka kenyang. Twins L kembali dengan kegiatan mereka yang sempat tertunda.


****


Menatap langit-langit kamar yang bernuasa klasik modern yang terlihat mewah, pria itu tidur dengan alas kedua tangannya, dengan tatapan kosong menatap lurus.


"Dia bahkan tidak mengenalku, apalagi mengingat nama ku. Tata, apa kamu melupakan semua janji kita dulu? maafkan aku yang tidak mengunjungi mu selama 20 tahun, " batin Zean yang menatap nanar, Sembari memegang bendah pipih dan berniat menghubungi seseorang dari kontak telfonnya.


"Hallo."


"Hem, berikan aku data dari wanita yang bernama Dita, " titah Zean kepada Alvil.


"Baik, akan saya laksanakan, " jawab Alvin.


Zean memutus sambungan telfon, dan melempar ponselnya sembarang arah, dia kembali membayangkan pertemuan tak terduga dari wanita kecilnya itu. Yah, dia adalah Dita, teman masa kecil nya saat berumur 10 tahun, sedangkan Dita saat itu berumur 6 tahun.


Zean sangat bahagia dan tersenyum, dia mengambil sebuah foto dan menciumnya dengan mesra, "aku akan menjadikan mu sebagai istriku, gadis kecil ku. "


Tanpa mengetuk pintu, Alvin melihat dengan jelas wajah Zean yang tersenyum. Selama dia mengabdi dengan atasannya ini, dia tidak pernah melihat sekalipun senyuman yang membuat sang atasannya terlihat tampan dan mempesona.


"Ketuk pintu terlebih dahulu, " lontar Zean yang menatap Alvin tak suka.


"Maaf tuan, lain kali tidak akan terulang lagi, " tunduk Alvin yang takut akan kemarahan dari Leader Mafia Tiger.