
Naina yang mendengar kabar kematian kedua orang tuanya, dengan tergesa-gesa menuju mansion Wijaya. Air mata yang mengalir dengan deras membasahi kedua pipinya. Lilis menggendong Kenzi, karena saat ini Naina dalam berduka telah kehilangan kedua orang tuanya.
"Mama, Papa bangunlah! jangan bermain-main, Naina tidak menyukainya. Bukankah Mama dan Papa merindukan Kenzi?" ucap Naina di sela-sela tangisannya. Dita menghampiri Naina untuk menenangkan nya, Naina memeluk Dita yang tak kuasa menerima takdir yang mereka lewati.
Nathan yang memaksa untuk menghadiri pemakaman kedua orang tuanya, walau keadaannya tidak memungkinkan. Keadaan terpuruk, membuat Zean menghampiri Nathan dan berusaha menenangkan nya. Karena dia juga tau, bagaimana rasanya melihat orang yang di cintai mati di depan mata.
"Tenangkan dirimu, kuatlah demi keluarga yang kamu cintai. Mereka sangat membutuhkan mu sebagai tempat sandaran," tutur Zean yang memeluk Nathan sembari menepuk pundaknya.
"Terima kasih."
"Hem, sudah menjadi tugasku." Zean pergi meninggalkan tempat itu, sembari menemui seseorang di sebuah Cafe.
Twins L sedih yang kehilangan Wijaya dan juga Novi, "kenapa semua orang pergi meninggalkan kita?" celetuk Al.
"Pertama Abian, dan sekarang Omah dan juga Opah," sambung El sembari mengelap air matanya.
"Jangan menangis, ini sudah jadi takdir dari ilahi," ucap Bara yang sedari tadi memperhatikan Al dan juga El.
"Sejak kapan Papa berdiri di sana?" tanya El yang menatap Bara.
"Hem, cukup lama. Kalian sangat jelek jika menangis," ledek Bara. Twins L langsung memeluk tubuh Bara dan kembali menangis dengan keras, "sudah, jangan menangis lagi."
Waktu terus berjalan, dan tak terasa sudah 1 bulan. Kabar kematian kedua orang tuanya, membuat Nathan terpuruk sangat dalam. Hingga dia membutuhkan waktu selama 3 minggu dan kembali bekerja di kantor.
Nathan mangambil ponsel yang berada atas meja kerjanya, seraya menelfon bawahannya.
Suara ketukan pintu membuat membuat nya mengalihkan perhatian, dia bisa melihat wajah yang tersenyum dari wajah tampan pria itu. "Apa kamu sudah mendapatkan apa yang aku pinta?" ucap Nathan.
"Coba tebak."
"Kamu selalu saja membuat aku mati penasaran, katakan saja dengan jelas, atau aku akan merontokkan gigimu," ketus Nathan yang kesal.
"Kamu tidak seru, lihat saja dengan wajah tersenyum yang aku tunjukkan ini. Aku sudah memulihkan seluruh hartamu dengan namamu dan juga Naina," ucap Daniel yang membusungkan dada.
Nathan memutar kedua bola matanya yang menatap Daniel, "sekarang kamu boleh pergi."
"Eh, kamu mengusir ku?" ucap Daniel yang menunjuk dirinya seraya menatap Nathan dengan terkejut.
"Aku tidak akan mengulangi kata-kataku," cetus Nathan.
"Iya, tidak perlu mengusirku. Aku tau nasibku yang hanya bawahanmu," jawab Daniel yang kesal.
"Tidak perlu membuat drama di sini, hidupku sudah penuh dengan drama. Cepat pergilah," cetus Nathan yang mengusir. Daniel keluar dari ruangan sembari merapalkan sumpah serapah, mengumpati Nathan yang selalu memperlakukannya dengan tidak adil.
"Jika saja dia bukan sahabatku, sudah lama aku membentur kepalanya," gumam Daniel.
****
Pria tampan yang memakai kemeja berwarna hitam, dengan menyenderkan punggung dan kaki yang menyilang. Menatap keluar jendela, terlihat hanya jalanan yang macet akan lalu lintas. Sesekali dia meneguk minuman dingin seraya pikiran yang melayang.
Karena sudah satu bulan ini, Zean selalu memata-matai Raya. Dia tidak tau apa yang terjadi dengannya belakangan ini, pikiran nya selalu terlintas membayangi Raya yang tersenyum sangat cantik.
Di perjalanan pulang, Zean tak sengaja melihat seseorang yang dia kenal. Hingga mobilnya terpaksa mundur untuk memperhatikan objek dengan sangat jelas. Zean mengepalkan kedua tangannya dengan tatapan tajam, pandangan nya jatuh dengan dua orang yang tampak dekat dan juga serasi.
Zean memarkirkan mobilnya dan menghampiri kedua orang itu yang sedang asik mengobrol, "ehem, kenapa kamu ada di sini? bukankah seharusnya kamu berada di mansion?" ucapan Zean membuat kedua orang itu mengalihkan pandangannya menatap Zean dengan wajah pongah. "Lihatlah jam mahal yang melingkar di tangan kanan mu, sekarang bukan waktunya aku bekerja. Masih tersisa 1 jam lagi," sahut Raya dengan kesal.
"Cepat ikut denganku, tidak baik berduaan dengan pria."
"Perkenalkan namaku Bryan, calon tunangan dari Raya," sapa pria itu dengan senyum mengembang di pipinya sambil mengulurkan tangan.
"Ck, hanya calon tunangan saja. Dan kamu, ikut denganku sekarang juga," ketus Zean yang menarik tangan Raya dan tidak menghiraukan Bryan.
"Hei, jangan menarik calon tunangan ku," ujar Bryan yang melepaskan genggam tangan Zean.
"Ada apa dengan mu, tuan? kenapa sangat aneh, pergilah dari sini dan jangan mengganggu keromantisan kami, dasar nyamuk," ucapan Raya membuat Zean benar-benar kalap. Hingga Zean menggendong Raya ala karung beras, membuat sang empunya terus saja memberontak memukuli punggung Zean.
Bryan ingin membantu calon tunangannya, tapi seseorang telah mencegatnya. Zean tersenyum tipis, karena dia tidak kalah dari Bryan. Tak lama kemudian, Zean dan Raya sampai ke mansion, dan dengan cepat Zean kembali menggendong tubuh mungil Raya layaknya sekarung beras.
"Dasar pria kurang ajar, pria mesum, pria tua yang sok tau. Eum....apa lagi ya?" pekik Raya yang mengingat semua keburukan dari Zean.
Zean menurunkan Raya dengan kasar, dengan tatapan tajamnya membuat Raya sedikit ketakutan,"Jangan mendekat!" ucapnya.
"Apa yang akan kamu lakukan sekarang, hah?" sahut Zean yang menyeringai dan terus mendekati Raya.
"Atau....ah ya, atau aku akan menendang anu mu hingga tak berbentuk," jawab Raya yang memikirkan alasannya, Zean terkekeh saat melihat wajah Raya yang ketakutan.
"Benarkah? aku ingin lihat, bagaimana kamu akan menendangnya?" cetus Zean yang semakin dekat, hingga tak ada celah untuk Raya melangkah mundur.
Zean mendekatkan wajahnya membuat Raya refleks menutup kedua matanya dan sesekali mengintip.
Zean menyentil kening Raya dengan keras, "apa kamu pikir ku akan menciummu? sampai-sampai menutup kedua matamu," ucap Zean yang melangkah pergi menuju ruang tamu.
"Eh, aku kira dia akan menciumku. Seperti difilm romantis, " batin Raya.
Zean membukakan pintu dan terlihat kedua anak kecil yang tersenyum ke arahnya, Zean sangat tau arti dari senyuman kedua anak kembar itu.
"Mau apa kalian datang kesini?" tanya Zean yang menautkan kedua alisnya.
"Tentu saja untuk berguru dengan Paman, dan sebelum itu biarkan kami masuk," rengek Al.
"Ya sudah, kalian masuklah."
Zean berjalan menuju laboratorium, dan saat menoleh ke belakang, dia tidak menemukan kedua anak kembar itu. "Kemana dua kutu itu?" gumam Zean yang mencari ke beradaan twins L.
"Kalian di sini?" ujar Zean yang melihat Al dan El sedang lahab menyantap makanan yang berada di atas meja makan.
"Aku harap Paman mengerti, kami ingin belajar dengan serius. Kami juga butuh tenaga yang akan menjadi kosentrasi dalam belajar nanti," sahut El dengan cepat.
Sedangkan Zean hanya menghela nafas dengan kasar, "Jika saja mereka membuat ulah lagi? maka aku tak segan-segan menggantung mereka," batin Zean.