Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 210 ~ S2


Abian menepati janjinya dengan membawa sang istri untuk berdestinasi wisata ke California, biasanya orang akan membawa pasangan mereka ke tempat mewah, berkelas, dan romantis. Tapi tidak dengan Abian dan Lea yang sepakat untuk berkunjung ke California untuk melihat pemandangan yang menyejukkan mata, mereka lebih tertarik wisata alam dan berpetualang.


Kunjungan pertama mereka adalah Yosemite National Park, sebuah taman dengan rumput hijau dan sangat cocok untuk para pendaki dan panjat tebing. Sebuah sungai menjadi nilai plus di mata wisatawan lokal maupun turis seperti mereka, sangat cocok bagi pecinta alam.


"Apakah kamu menyukai tempat ini?" tanya Abian yang menoleh ke arah istrinya dengan senyuman khas yang terukir di wajahnya.


Dengan cepat Lea mengangguk, " tempat ini sungguh luar biasa. Walaupun tidak mewah dan tidak mahal tapi aku sangat menyukai."


"Itu bagus."


Abian terus saja bercerita bagaimana dia sering berkunjung di sana dan sangat mengenal taman itu dengan baik, hingga dia melupakan Lea yang dari tadi tidak berada di belakangnya. "Kenapa tidak ada suara dari tadi?" gumam Abian yang menoleh kebelakang.


Abian melihat Lea dari kejauhan yang sedang bercengkrama dengan seorang pemuda brewok yang sangat tampan, kebiasaan yang sudah mendarah daging itu tidak mudah untuk hilang. Lea bahkan berbicara santai dengan pria brewok itu dan di sertai tawa dari mereka membuat Abian geram.


"Berani sekali dia berbicara dengan orang asing saat aku masih ada di sini, lihatlah Lea Wijaya! bagaimana aku akan menghukummu nanti, aku tidak akan membiarkanmu keluar dari kamar," batin Abian yang tersenyum tipis.


"Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan orang Indonesia di tempat ini," seru Lea.


"Aku juga, di mana kamu tinggal? jika boleh aku ingin berkunjung," ucap pria itu yang tersenyum, dia sangat senang saat berkenalan dengan Lea yang humoris, cantik, dan mudah berbaur.


"Jauhi istriku," sela Abian yang menggandeng Lea dan memeluknya dengan mesra di hadapan pria itu.


"Apa yang kamu lakukan?" bisik Lea.


"Memangnya kenapa? jangan terlalu mempercayai orang asing," ucap Abian yang sengaja mengeraskan suara nya sembari melirik pria itu yang tampak sedih.


Lea melepaskan pelukan itu sambil tersenyum kaku, "maaf jika membuatmu tidak nyaman," tukas Lea.


"Tidak masalah, apa kamu sudah menikah? dari yang terlihat umurmu masih terlihat muda," puji pria itu.


"Apa yang kamu pikirkan hah? tentu saja dia istriku," cetus Abian yang menjauhkan sang istri berada dekat dengan pria itu.


"Itu benar, aku telah menikah!" sahut Lea.


"Sayang sekali," lirihnya yang menghela nafas dengan kasar sembari menatap sembarang arah.


"Apa maksudmu berkata seperti itu? apa kamu ingin menentangku?" ketus Abian yang memasang badan melindungi sang istri.


"Tidak, aku melihat kalian tidak cocok." Ucap pria itu yang mengeluarkan jurus seribu langkah untuk menghindari amukan Abian dengan kepulan asap dan wajah yang memerah menahan supah serapahnya.


"Dasar kingkong, aku akan membuat perhitungan denganmu saat di pertemuan ke dua," teriak Abian dengan sangat keras membuat Lea menutup telinganya dengan sangat kuat.


"Jangan berteriak di dekatku, apa kamu ingin membuat ku tuli?" gerutu Lea. Abian menoleh dan cengengesan seraya menoleh ke arah Lea, "kenapa kamu di sini dan tidak mengikutiku?"


"Karena kamu terlalu bersemangat, aku sangat letih dan mengistirahatkan tubuhku dan Vero datang menghampiriku," sahut Lea dengan raut wajah tanpa dosa.


"Oho, jadi namanya Vero? aku akan mengingat hal ini dan menandai agar aku selalu mengingatnya," ucap Abian yang tersentum smirk.


"Sudahlah dan lupakan itu, ayo gendong aku!" rengek Lea dengan manja membuatnya tampak sangat menggemaskan.


"Aku akan menghukummu nanti," lirih Abian.


"Karena kamu berbicara dengan si kingkong itu, sebagai hukumannya kita akan bermain jungkat-jungkit di kamar dengan beberapa gaya terbaru," ucap Abian yang membuat Lea sangat gemas dan memukul lengan sang suami untuk menghilangkan Kegugupannga. Sebenarnya dia menelan saliva dengan susah payah dengan perkataan Abian.


****


El turun dari mobil dan membawa beberapa kantung kresek berwarna putih dan meminta pak supir untuk membawanya ke dalam rumah Ayah mertuanya.


"Mana sambutan untuk menantu tampan dan juga sangat memukau ini?" pekik El yang membuat Anna menutup kedua telingannya.


"Jangan berisik."


"El menoleh kesana kemari mencari keberadaan sang mertua yang tidak kelihatan itu, El mengisyaratkan Anna untuk duduk sementara dia mencari keberadaan Bonar.


Akhir dari pencarian berhasil saat melihat Bonar yang tengah memandikan ayam kesayangan nya yang di beri nama Jalu dengan penuh cinta. El berjalan mendekat ke arah Bonar dengan wajah yang tersenyum, "jadi Ayah mertua ada di sini?"


Bonar menatap ke asal suara, "kamu selalu saja membuat mood ku sangat buruk," cetus Bonar.


"Lupakan permusuhan lama antara kita Ayah mertua, bukankah kita saling memaafkan?"


"Aku hanya terpaksa saja, ada apa kamu datang ke sini?"


"Jangan selalu ketus Ayah mertua, aku datang bersama dengan putrimu untuk berkunjung."


Bonar menghela nafas dengan kasar dan memasukkan Jalu ke dalam kandang, dia pergi meninggalkan El sendirian, "aku akan memanggil para pengusir hantu, siapa tau rumah ayah mertua di kelilingi makhluk halus," gumam El yang mengikuti langkah Bonar.


Anna tersenyum saat melihat ayahnya yng datang menghampiri, mereka saling memeluk dan bercerita segala hal, tanpa menyadari jika El berada di tengah-tengah mereka yang tengah bergosib ria.


"Aku masih di sini." Bonar mengalihkan pandangan nya menatap menantu yang menurutnya sangat malang itu.


Tapi dia tidak ingin terlalu mengambil pusing, "itu bagus, tolong bersihkan kandang si Jalu ya," perintah Bonar yang dengan terpaksa El mengangguk.


El mengeluarkan ponsel dari saku celana, sembari menekan nomor kontak yang tertera di layar ponselnya dan berniat untuk menghubungi bawahannya.


"Halo King."


"Hemm."


Ada apa King? apa yang terjadi?"


"Kalian datanglah ke lokasi yang telah aku kirimkan dalam waktu 8 menit saja dan jika terlambat maka kalian aku berikan hukuman yang tidak akan kalian lupakan," perintah El membuat Roger dan Audrey kalang kabut dan tergesa-gesa menuju lokasi.


"Cepat lajukan motor ini, jangan sampai kita terlambat atau kita dalam masalah besar." Roger mengendarai motornya dengan sangat cepat tanpa menghiraukan makian dari pengendara lainnya, karena prioritas mereka adalah datang tepat waktu.


Sementara di sisi lain, El menatap jam mahalnya karena waktu adalah segalanya.


"Maaf King kami sedikit terlambat apalagi memasuki rumah ini menguras tenaga dan waktu," jelas Audrey dengan wajah yang menunduk.


"Kalian terlambat lima detik dan aku menghukum kalian untuk membersihkan kandang Ayam dalam waktu 10 menit saja, aku tidak ingin ada kesalahan."