
Nathan kembali ke penginapan dengan raut wajah yang cemberut, Dita berusaha menenangkan suaminya yang tampak kesal dengan Zean yang selalu menganggu ke romantisan mereka.
"Tenanglah, jangan cemberut begitu," tutur Dita yang mengusap lengan suaminya.
"Bagimana aku bisa tenang? pria sialan itu selalu saja mengacau."
"Lupakan saja."
****
Twins L sangat senang jika pergi bersama Bara, mereka menghabiskan banyak waktu bersama. Kali ini mereka berkunjung ke sebuah restoran untuk mengisi perut yang keroncongan, memesan makanan dan menunggu sampai makanan itu siap di sajikan. Sesekali Bara menebar pesona kepada wanita yang menurutnya sangat cantik dan juga seksi, Al dan El yang melihat itu hanya memperhatikan.
"Apa rahang Papa tidak keram?" ucap El yang membuka suara.
"Memangnya kenapa, heh?" cetus Bara.
"Hentikan menebar jala, Papa. Sudah banyak korban yang bertebaran," ujar Al.
"Papa tidak peduli akan hal itu, ini sangat menyenangkan."
"Kami sudah mengingatkan, Berhati-hatilah dengan senyuman Papa yang bisa jadi malapetaka," seru El.
"Ck, itu hanya kiasan saja." Bara tidak peduli dengan seruan El, yang lebih memilih menggoda para wanita.
Karena panggilan alam yang harus di tuntaskan dengan segera, membuat Bara berlari ke arah toilet menuntaskan hal yang di tahan tadi sangatlah melegakan. Tak lupa mencuci tangan dengan bersih, Bara yang terburu-buru menghampiri twins, terhenti saat melihat wanita cantik dan juga seksi. Jiwa playboy nya langsung ke dalam mode on, senyuman khas miliknya, wajah yang tampan, serta beberapa kata-kata manis yang selalu dia pergunakan untuk keadaan yang sangat cocok.
"Kamu sendirian saja, nona?"
"Hem begitulah," ucap wanita itu dengan mata yang berbinar menatap Bara yang sangat tampan.
"Nona ingin kemana? akan aku temani, takutnya ada orang yang berbuat kejahatan kepada wanita yang sangat cantik seperti mu," puji Bara yang tersenyum.
Wanita itu mengangguk membuat Bara tersenyum kemenangan yang berhasil meluluhkan wanita cantik dengan sangat cepat.
"Ehem," seseorang berdehem menghentikan langkah keduanya dan menoleh.
"Siapa kamu?" ucap Bara dengan sinis.
"Kamu tidak perlu tau siapa aku, wanita yang kamu bawa itu adalah istriku. Dan kamu Raina, jaga matamu! selalu saja tergiur dengan pria tampan," ucap pria itu yang tak lain suami Raina.
"Apa? kamu sudah bersuami?" ujar Bara yang kaget.
"Benar, maafkan aku suamiku. Aku berjanji tidak mengulanginya lagi," ucap Raina dengan senyuman yang membuat sang suami takluk.
Twins L yang di sibukkan dengan aktivitasnya terhenti, di saat melihat Bara yang sudah duduk di kursi. Memperhatikan wajah Bara yang lebam, "kenapa wajah Papa seperti badut?" ucap El yang memotret nya.
"Sudah Papa bilang, jangan memotret saat kadar ketampanan yang paripurna ini berkurang 50 persen," sewot Bara yang mengompres wajahnya menggunakan es batu.
"Hanya untuk kenang-kenangan saja," sahut El dengan santai.
Bara yang ingin memakan pesanan nya menjadi sangat kesal, bagaimana tidak? Al dan El tidak menyisakan apa pun, semua tandas tak bersisa. "Kami kira Papa tidak menginginkannya, yasudah kami memakannya. Bukan salah kami, karena Papa menggoda wanita yang sudah bersuami," tutur Al.
"Jangan bilang jika kalian memantau nya lewat CCTV?" tunjuk Bara yang sangat kesal bercampur malu.
"Itu benar, kami hanya memastikan saja," jawab El dengan santai sambil menyeruput jus alpukat nya.
"Sial, lagi-lagi mereka mengetahuinya. Untung saja mereka tidak tinggal di rumahku, atau aku terkena stroke. Oh tuhan....berikan aku kesabaran tiada henti," gumam Bara di dalam hati.
Bara menghela nafas dengan kasar, dan membawa twins L kembali ke mansion Wijaya. Di saat menuju ke mansion, melewati jalan yang sepi agar terhindar dari kr macetan. Tak sengaja mereka melihat kumpulan orang-orang yang mengelilingi seseorang, "Papa lihat di sebelah kiri jalanan? seperti ada yang tidak beres," ucap Al yang menunjuk arah kejadian.
"Apa kita harus turun untuk membantu seseorang?" sambung El. Bara sangat terkejut dengan pemandangan yang tak jauh dari mereka, sekitar 5 orang pemuda yang berusaha melecehkan seorang wanita yang sangat di kenal Bara dan juga twins L.
Twins L merepalkan tangan dengan sempurna, begitupun dengan Bara. Dengan cepat mereka turun dari mobil untuk menolong wanita yang di ikat di sebuah pohon dengan tamparan yang begitu keras.
"Dasar pengecut, kalian para pria yang berani dengan perempuan. Lawan aku," tantang Bara.
"Siapa kalian?" ucap salah satu pemuda itu.
Tanpa banyak bicara, Bara dan twins L menyerang ke lima pria itu hingga terkapar. Twins L segera melepaskan wanita itu dan memeluknya dengan erat, "katakan kepada kami, Nana tidak apa-apa?" ucap Al.
"Terima kasih kalian telah menolongku," jawab wanita itu yang tak lain adalah Naina, dia hampir saja di lecehkan oleh para mantan yang pernah dia sakiti. Naina sangat kapok dan menyesal dengan perbuatannya sebagai player, dan memutuskan untuk berhenti. Bara yang melihat lengan baju Naina yang robek dengan cepat menutupinya menggunakan jaket yang melekat di tubuhnya.
Twins L sangat marah dengan kejadian itu dan ingin membalas perbuatan dari kelima pria yang berani mengusik keluarga Wijaya.
Setibanya di kediaman Wijaya, Al melaporkan kepada Nathan dan Wijaya, menceritakan segalanya. Semua orang sangat marah dengan perlakuan yang di lakukan oleh pria yang ingin melecehkan putri dari seorang Wijaya.
Nathan menelfon anggota intinya untuk mencari keberadaan para pria itu dan membawanya ke markas Black Wolf miliknya. Dia memutuskan untuk pulang 2 hari lagi menunggu cuacanya sedikit membaik dan Dita yang sangat khawatir dengan keadaan Naina.
Walaupun Naina sudah di bekali oleh ilmu bela diri, tetap saja kemampuannya kalah melawan kelima pria yang menjebaknya. "Terima kasih telah menolongku, aku tidak tau apa yang terjadi padaku di saat tidak ada kalian," lirih pelan Naina.
Bara sangat marah dengan keadaan Naina dan memeluk nya dengan erat. Ada desiran aneh yang mereka rasakan, entah apa itu. Rasa hangat dan juga sangat nyaman membuat mereka berpelukan sangat lama, twins L berdehem untuk memecahkan suasana itu.
"Jangan memeluk Nana begitu Papa," cetus Al yang menatap tajam ke arah Bara. Mereka tersadar dan melepaskan pelukan itu, Bara menggaruk telinganya yang tidak gatal.
El menolak pinggang dengan menunjuk matanya dan mata Bara yang artinya aku mengawasimu. Naina dan Bara saling menatap satu sama lain hingga El yang geram duduk di antara kedua nya.