
"Gimana kalo kita mampir ke rumah dulu bentar?atau kemanalah aku perlu ganti baju,coba liat aku sayank"kataku aku memakai pakaian resmi sementara dia pakaian ABGnya,selisih umur kami hanya 3 tahun,tapi entah apa yang membuatnya terlihat lebih muda dari umurnya, bisa di sangka apa kami ini..
"kakak pake baju kan?siapa suruh gayanya ketuaan,ke kantor sendiri pake jas,diieehh...biar apa coba,nggak banget"kata Tiara dengan songongnya
"ya udah terserah kamu aja"toh aku masih sedikit menyesuaikan gayaku,aku mulai memindahkan tiara ke kursi sampingku,membuka jas dan dasiku,kebetulan hari ini aku memakai kemeja biru,jadi tidak terlalu formal lalu akupun merubah gaya rambutku membiarkan poniku menutupi jidatku lalu mengganti sepatu resmiku dengan sneakers yang memang slalu ada di mobil.
"see...aku slalu bisa menyesuaikan diri dengan baik,jadi kamu mau makan apa?"kataku santai dan mobil pun menuju ke salah satu mall besar
"Mcd,kita beli burger,french fries,cola,es krim "katanya santai
"makanan yang kamu pilih masih sama kayak dulu"kataku ringan
"kenapa kita nggak jalan berdua aja ya?orang orang pada liatin"kata Tiara sambil melirik saat 5 orang bodyguard dan Dion yang tetap mengawal kami
"Anggap aja mereka temen kita dan kamu terbiasa,dan bukannya aku nggak pengen jalan berdua sama kamu,tapi kita tetep harus jaga diri kan,dan yang paling penting aku nggak mau kamu knapa napa"kataku santai
"yank...mungkin 2 hari lagi pengumuman magangmu bakal keluar,aku mau kamu bener bener belajar, sebenernya kamu mau kerjaan apa?"tanyaku serius
"masih bingung,tapi beberapa bulan ini aku sering baca novel online,ada beberapa novel yang pengen banget aku visualisasiin, tapi apa bisa ya, soalnya aku bener bener nggak ada pengalaman kesana dan takutnya ini cuma sekedar keinginan sesaat doang" kata tiara sambil memakan burgernya
"maksudmu mau jadi,artisnya? penulis skenario? sutradara? atau produser?" pancingku, Tiara yang dulu adalah anak yang kreatif dengan segudang pemikirannya, dan aku ingin dia punya kesibukan yang akan membuatnya sedikit melupakan masalahnya
"bukan Raka...aku pengen jadi orang yang menggerakkan mereka aku mau kadi orang yang milih ceritanya,lalu aku pengen jadi orang yang nge-manage mereka"kata Tiara Ceria
"wow....tunanganku mau jadi pemilik Rumah Produksi ya?,cita cita yang bakal ngeluarin dana besar"kataku santai
"heeh...makanya aku harus benar benar berpikir panjang,lalu nyari donatur atau sponsor,dan menurutku aku akan memulainya dari menjadi manager,membuatnya terkenal,otomatis orang mengenalku,dan pertama tama aku harus belajar melihat karakter dan aura orang dan menonton banyak konten"kata tiara mantap
"pilihan yang baik,aku punya sedikit ide untukmu, salah satu anak perusahaan Aiden adalah PH untuk iklan, gimana kalo kamu blajar dari sana, dan bukannya benerapa orang sudah mulai mengenalmu,berita kita kan sering tayang "kataku santai
"tapi ntar aja deh,setelah magang,yuk pulang kak aku kenyang"kata Tiara mulai ceria,dan untunglah suasana hatinya mulai membaik.
"ddrtt...drrtt..."
"ya...kak armand"kataku sambil mengangkat telpon sementara tangan yang lain tetap memegang tangan Tiara
"Mertuamu minta waktu untuk bertemu, segera,media sudah ku amankan, gimana?" tanya kak armand di kejauhan
"hhmm...katakan besok pagi aku akan winata grup, aku dan Tiara baru mau balik ke rumah, nanti aja kita bicarakan ya" kataku sambil menutup telpon
"kak Armand bilang apa"tanya Tiara setelah duduk di mobil
"hanya mengatur pertemuan dengan calon mertua"kataku santai
"sayank...percayakan semua sama aku dan kamu harus segera menyiapkan hatimu, kemungkinan besar ibu tirimu akan mengundang kita ke rumahmu" kataku
"tapi .."kata tiara
"sayank...tidak satupun orang yang bisa nyakitin kamu sekarang,aku akan slalu membutmu nyaman dan aman, coba lihat disekelilingmu kamu cukup kuat sekarang" kataku meyakinkannya
"gimana kalau mereka mengganggu ibu"kata tiara lemah
"beberapa stafku slalu menemani ibu,sambil membantunya merapikan dan memilih barang yang akan dibawanya ke jakarta,mungkin akhir minggu ini ibu sudah di jakarta,dan cobalah tempatkan dirimu di posisi adik adikmu,saat itu mereka sama kecilnya denganmu,dan setelah mereka sadar,mereka berusaha menebusnya" kataku pelan dan tiara hanya terdiam,aku pun langsung menariknya ke pangku*nku
"aku akan berusaha..."kata tiara pelan dan menyandarkan dirinya padaku,nyaman itulah yang kurasa dan percayalah aku akan menjadikanmu orang yang paling bahagia dengan seluruh kemampuanku.
.....
Winata grup
"apa semua salinan dokumen sudah dibawa kak" kataku pada Armand
"siap pak Raka...silahkan,saya juga sudah menyiapkan sedikit buah tangan untuk mertua tuan "kata Kak Armand sambil membukakan pintu mobil dengan sedikit menundukkan badan dengan senyum menggodanya
"jangan aneh aneh sekarang ya kak"kataku pelan sambil sambil merapikan pakaianku. dan ketika kulihat ada orang yang mendekatiku, segera aku memberikan kode pada kak armand untuk memblokir orang itu lalu lima bodyguard mulai memblokir langkah orang tersebut, disekitarku juga banyak orang memeperhatikan, aku hanya tidak ingin membuang waktu untuk meladeni mereka
"Tuan Raka...silahkan masuk, Tuan Tama sudah menunggu" kata orang tersebut,kalau tidak salah namanya Toro, asisten pribadi ayah Tiara
"Wiley,mari masuk nak dan silahkan duduk"kata Tama winata menyambut kami di depan ruangannya
"Kalian Tinggal luar pintu,Kak Armand ikut denganku oh ya,kembali ingatkan Dion,pastikan tidak ada yang mendekati Tiara di kampusnya dalam radius aman,kalo ada yang aneh mendekatinya ...."kataku sambil memasuki ruangan, suaraku sengaja kubuat jelas karena aku nggak mau winata mengira momen ini bisa dijadikan waktu untuk mendekati tiara
"Nak...lama nggak ketemu,gimana kabarmu dan ayahmu"kata tama winata ketika kami duduk di sofanya dan kak Armand hanya tidak mau duduk,dia hanya berdiri dibelakangku
"baik...om,semua baik"jawabku sekaku mungkin
"nak...sebenernya ini agak aneh,tapi apa setiap aku ingin berbicara dengan anakku sendiri,ingin tau keadaannya,aku harus ijin ke kamu"kata Tama Winata dengan nada memperingati
"Om...walau selarang akulah yang bertanggung jawab pada Tiara,tapi Dia tetap Pribadi yang berhak sama dirinya sendiri, aku nggak pernah ngelarang dia ketemu om,atau bahkan adik adiknya sendiri,tapi dia yang belum siap,apa aku harus memaksanya"tanyaku santai
"apa kamu nggak bisa meyakinkannya? setidaknya janganlah tinggal serumah dulu,kita masih memegang adat ketimuran,apa kata orang nanti" kata om tama mencari pembenarannya
"Astaga apa Om mengundangku kesini hanya untuk mendengar omongan Orang"kataku mulai jengkel