
"Aku mau pulang"kata Tiara
"sabar dulu ya,Kak Armand apa situasi diluar kondusif" tanyaku
"agak alot,calon mertuamu dan beberapa bodyguard nya memaksa untuk bertemu, masih bisa kutahan,sekarang dia sedang membaca surat kuasa ini"jawab kak Armand dengan sedikit berbisik
"Kak Raka bilangan terlalu kejam pada ayahku,gimana jua ayah itu calon mertuanya juga"ucap Diandra
"kak Armand denger kan Diandra bilang apa, jangan lupa amankan media juga kak, panggil Dion, siapkan beberapa bodyguard dan mobil di lobby, aku dan Tiara akan pulang,telpon kembali saat siap,dan segera susul kami pulang "kataku mematikan telpon dengan tiara yang tetap bergelut tanpa mau membuka matanya,nggak mungkin dia tertidur kan?
"Tiara...are you there?"tanyaku memastikan
"sure"jawabnya lagi
"hey baby...look at me... nothing to worrie about oke?" kataku menenangkannya
"gendong"katanya pelan dan aku hanya bisa tersenyum
"manja,kamu berat tau..."kataku menggodanya, dan tiara malah lebih mengeratkan pelukannya
"ingatlah bersikap manis seperti ini di lain waktu okey" kataku lembut sambil menci*m belakang kepalanya
"tok...tok...tok..,pak Raka,semua sudah siap, silahkan" kata Dion dan beberapa bodyguard terlihat berjaga diluar ruanganku
"oke... Andrew, Diandra kita atur waktu lagi ya,Kami pulang dulu,Tiara kita pulang sekarang ya sayang"kataku sambil membopongnya keluar ruangan dengan Tiara yang memelukku erat dan tetap menutup matanya, seenggan itukah kamu,apa sebenarnya yang kamu takuti sayang? tenang aku akan menghilangkan ketakutan itu...
...........
"kak Raka...ayah ada disini,kamu boleh nganggap aku pengecut atau apa,aku hanya terlalu malas mengadapi semua sekarang dan aku juga nggak ingin mengeluarkan kalimat yang membuatku menjadi anak durhaka"kataku berbisik ketika Raka membopongku
"panggil aku sayang dulu,dan kamu boleh bersikap sepengecut yang kamu perlu,biar aku yang mengurus sksanya"kata Raka sangat manis dan tiba tiba menghentikan langkahnya
"sayank..."kataku penuh penekanan,bisa bisanya dia mengancamku disaat seperti ini
"okey..sekarang diam tetap berpegangan padaku dan pura puralah tertidur"katanya lembut,
"ckckck mana ada orang tidur tapi pegangan kuat?ngaco"bisikku pelan tapi tetap melakukan yang dimintanya
..........
"Raka,turunkan Tiara,aku perlu bicara dengannya dan membawanya pulang" kata ayah terdengar menghadang langkah kami dan sepertinya banyak yang melihat kami dan itu membuatku malu
"Pak Winata,nggak disangka kita bertemu disini, maaf saya belum bisa menyambut anda, Tiara sedang tidak enak badan,nanti kita atur jadwal lagi,jadi bisa saya permisi sekarang?" kata Raka dengan sopan
"kalau dia sakit,biar saya yang membawanya pulang,toro..ambil Tiara"kata ayah,dan aku hanya bisa mengeratkan genggamanku
"tolong mundur"kata Dion menghalangi langkah pengawal ayah
"Raka,dia anakku,kalian hanya bertunangan, jadi kamu belum memiliki hak yang lebih dariku" kata ayah mulai geram,Tiba tiba aku merasakan Raka bergerak
"Pak Winata,bisa kita mencari waktu lain?"kata Raka masih dengan nada sopannya
"pak winata, bukannya 6 tahun lalu saat bapak menandatangani surat pertunangan kami, bapak juga sudah menandatangani surat ijin untuk menika, dan surat itu tanpa tanggal,jadi kita sama sama tau sekarang pun aku bisa menikahinya langsung dan mengambil hak akan tiara, yang kebetulan sudah bapak siakan 5 tahun lalu,jadi pak winata,bukannya aku melarang, tapi Tiaralah yang belum mau bertemu bapak, jadi tolong beri dia waktu, dan jika keadaan berlarut larut ini akan lebih memalukan bagi bapak dan Tiara,emangnya belum cukup siksaan yang tante raya dan neneknya beri? jadi Ayah bisakah kami pergi sekarang"tanya Raka Pelan dengan nada penuh ancaman
"Raka jaga ucapanmu"kataku pelan
"lihat sebagai anak dia tetap menjagamu kan pak? Jadi?"tanya Raka pelan dan tersenyum seolah tidak ada apa apa
"Tiara ayah hanya ingin melihatmu,tapi karena kamu masih tidak enak badan, pulanglah untuk makan malam, Raka tolong jaga Dia dan bisakah kita bicara tentang surat kuasa tadi?"kata Ayah dengan lemah
"akan aku urus segera,sekarang kami permisi dulu,dan tolong minta bodyguard ayah pergi,sebelum anak buahku mematahkan leher mereka,Dion buka jalan"Kata Raka Kejam dan aku hanya bisa menangis,
"sebenarnya mana yang ayah perdulikan,aku atau Perusahaan"tanyaku sedih
"sayang diamlah,tutup matamu kita pulang"kata raka sambil menahan kepalaku agar tidak menoleh ke ayah
"Tiara..."Kata kata ayah terpotong karena tiba tiba 10 bodyguard Raka sudah melindungi kami dan mengantar kami ke mobil
....
"hiks...hiks..."tangis tiara sungguh menyiksa hatiku,
"sayang...sudah...aku benar benar bingung kalo kamu nangis kayak gini,"kataku bingung harus bagaimana lagi menenangkannya,aku hanya bisa memangku dan mengelus rambutnya sementara dia terus menangis tanpa mau mengatakan apapun
"sayank...jangan mikir aneh aneh,ada aku,ibu, Neyra, Rindu bahkan Adrian,kami semua sayang padamu,sudah ya"rayuku lagi
"Dion..coba kamu bantu mikir dikit,kalo cewekmu nangis kamu kasi apa"kataku bingung
"maaf pak Raka,tapi saya kan Jomlo"sahut Dion pelan
"Sia*l,telpon kak Armand,tanya dia"kataku mulai kesal denganbtetap membelai Tiara
"maaf Pak Raka,tapi Pak Armand nggak ngangkat telponnya" kata Dion lagi
"Astaga titi...sayank kita beli es krim gimana, bunga, coklat,nonton,cdnya BTS, pulau diem dong,aku bingung ini,ini juga punya pegawe nggak bisa diandelin..."kataku kacau
"Kak Raka bisa diem nggak,tadi kenapa kasar gitu sama Ayah,kebiasaan banget dari dulu nggak bisa bedain mana ngomong sama temen mana ngomong sama orang tua"kata Tiara mulai mengomel dan mencubitiku
"titi...sakit"kataku pelan
"Orang lagi sedih malah diajak ngelawak pake bilang mau beli pulau,emang pulau mana yang dijual,ngamburin uang seenak perut aja, emangnya kakak nggak bisa ngibur pake yang lain? apa tadi itu pake ngancem aku biar panggil kakak sayang?apa tadi pake ngancem nikahin aku hari ini juga?pake ngatain Andrew belum bisa tanggung jawab,aku nggak suka ada yang ngomong kasar kayak gitu ya"kata Tiara dengan cepat
"iya ...sayang sabar...sekarang kita langsung pulang?atau gimana"kataku mengalah entah dimana harga diriku sekarang, untungnya tadi aku sudah memberi kode pada Dion dan supir untuk fokus ke jalan bukan ke kami dam aku yakin mereka akan diam dan tidak berkomentar.
"nonton dulu,makan lalu pulang" kata Tiara sambil mengambil kaca mata hitam untuk menutupi matanya yang sembab
"siap non"jawabku pelan.
.......