Reinkarnasi Sang Dewi Alam

Reinkarnasi Sang Dewi Alam
Satu Kamar


Rumput itu tiba-tiba berubah menjadi pohon kecil, yang seukuran satu jengkal tangan, pohon nya sama dengan pohon yang bunga nya yang di petik Raja Xin.


Namun, itu hanya beberapa saat saja. Setelah nya, tiba-tiba pohon itu malah menjadi debu dan terbang tertiup angin.


"Kenapa bisa?"


Yun Yi makin penasaran dengan cairan ini, ia harus mengambil sebanyak mungkin.


"A'Guang tolong buatkan aku dua botol kaca ini lagi." Pinta Yun Yi, Raja Xin tidak bisa menolak, ia pun menuruti permintaan Yun Yi.


Yun Yi kembali mengisi dua botol baru yang di but Raja Xin dengan cairan hitam itu. Lalu menyimpan nya ke dalam ruang.


Di dalam ruang Zisè mendengus kesal. "Padahal penelitian tentang Embun mimpi dan bunga Holly Kelabu saja belum selesai, tapi Xiăo Jiě malah menambah penelitian yang lain."


"Ya terserah ku." Balas Yun Yi dari luar dunia ruang.


Mereka pun melanjutkan perjalanan nya setelah Yun Yi puas melihat-lihat batu-batu yang mengeluarkan cairan hitam itu. Sesampainya di Desa Huo, ternyata sudah banyak orang.


Raja Xin meminta Shen mencari informasi, dan mereka erdua pergi ke penginapan yang sudah di pesan kan oleh Guang Luo.


Dan ternyata sedang ada keributan di ruang utama penginapan.


"Anda yang lebih dulu memprovokasi saya!" Seorang pria denan Zaosan bercorak merpati putih menunjuk-nunjuk wajah wanita di depan nya.


"Kau saja yang terlalu sensitif." Balas wanita ber-Hanfu merah itu tidak mau kalah.


"Kalau saya memang tengah sensitif lalu memang nya kenapa?!"


"Jangan berteriak! Suara mu membaut telinga ku berdengung." Ujar wanita itu dengan wajah kesal.


"Kau juga berteriak!"


"Ah..! Dasar laki-laki sensitif!"


"Wanita pemarah!"


"Aku gadis! Bukan wanita!"


"Memang nya apa beda nya?!"


"Jelas beda!"


Perempuan yang sedari tadi berada di tengah-tengah perdebatan itu semakin berwajah datar.


Brak


Mungki karena sudah terlalu kesal, perempuan itu menggebrak meja dengan keras.


"Kalian berdua diam!" Teriak nya.


Ke dua orang yang tadi nya terus berdebat, mendadak diam mendengar teriakkan perempuan itu.


Nafas perempuan itu tidak teratur, mungkin saking marahnya, mata nya pun sedikit memerah. Dia me-melototi dua orang yang tadi berdebat.


Tangan nya terangkat, lalu menarik satu telinga dari masing-masing orang itu. "Kalian harus ku beri hukuman!"


Perempuan itu menarik ke dua orang yang tadi berdebat dengan kencang, menuju luar penginapan. Namun, mereka tidak lewat depan melainkan lewat pintu samping.


"Ah, ah. Kakak seperguruan, telinga ku hpir lepas." Gadis ber-Hanfu merah berteriak kesakitan.


Sedangkan pria di samping nya hanya mendesis.


"Baru saja datang, sudah ada pertunjukan komedi saja." Yun Yi terkekeh, merasa lucu dengan tingkah ke tiga orang itu.


Raja Xin mengacak-acak rambut Yun Yi karena gemas. "Ayo naik."


"Dasar!" Yun Yi mendengus kesal, ia merapihkan tusuk rambut yang miring akibat Raja Xin.


Baru saja menginjak kan kaki mereka di lantai dua, Yun Yi dan Raja Xin sudah berpapasan dengan Guang Luo, orang yang mereka cari.


"Kalian sudah datang ternyata, kalau begitu lebih baik kalian beristirahat dulu di kamar itu." Ujar Guang Luo menunjuk sebuah pintu bertuliskan Plum.


"Memang nya Guru akan pergi ke mana?" Tanya Yun Yi.


"Aku di minta datang oleh teman ku, pengembara lainnya. Kamu akan membicarakan beberapa hal penting." Ucap Guang Luo.


Yun Yi hanya mengangguk. Dan itu membuat wajah Guang Luo menjadi tertekuk. "Aku kira kau akan menanyakan sesuatu lagi, atau seidak nya tanggapan nya jangan seperti itu."


Yun Yi menaikkan alisnya, lalu bertanya. "Lalu aku harus bagaimana?"


"Huft." Helaan nafas terdengar dari mulut Guang Luo. "Sudahlah, sebaiknya kalian segera beristirahat. Reruntuhan itu akan di buka pagi sekali, jadi pastikan kalian beristirahat yang cukup hari ini." Setelah mengucapkan itu, Guang Luo pergi meninggal kan mereka dan meninggal kan penginapan.


"Apakah guru marah?" Gumam Yun Yi.


"Kurasa tidak." Sahut Raja Xin. "Mungkin dia agak kecewa dengan tanggapan mu yang terlihat biasa-biasa saja." Lanjutnya.


Yun hanya mengangguk pelan, ia pun berjalan pergi dari sana dan masuk ke kamar. Namun, belum sempat ia menutup pintu, Raja Xin menahan nya.


"Sedang apa kamu di sini?" Tanya Yun Yi dengan heran.


"Istirahat." Jawab Raja Xin singkat.


"Kalau  mau istirahat, lebih baik kamu pergi ke kamarmu sendiri. Kenapa malah ke sini?"


"Kamar ku di sini." Ujar Raja Xin.


"Lalu kamar ku di mana? Kalau kamu di sini." Masa dirinya tidak di sediakan kamar oleh Guang Luo, padahal dia adalah murid nya.


"Tadi, gurumu mengirimkan pesan suara. Dan berkata, bahwa kita satu kamar."


"Eh...?" Yun Yi kaget mendengar perkataan Raja Xin.


"Mengapa satu kamar?" Raja Xin menghendikkan bahunya acuh, dan tidak peduli. Dia masuk ke dalam kamar Plum, lalu duduk di salah satu kursi yang di sediakan di sana dan menuangkan secangkir teh.


"Mengapa masih diam di sana?" Tanya Raja Xin ketiak Yun Yi masih berdiri diam di tempat yang tadi.


"A'Guang, jika orang-orang tahu kalau kita satu kamar, bagaimana nantinya dengan reputasi mu?"


Wajah Raja Xin menjadi datar dan dingin, ini pertama kalinya Raja Xin menampilkan raut seperti itu pada Yun Yi.


"Yi'er kemari." Tiba-tiba suhu ruangan menjadi turun. Yun Yi merasa tubuhnya menggigil, dengan langkah pelan, ia menghampiri Raja Xin.


Raja Xin menarik Yun Yi ke dalam pangkuan nya. "Eh?"


Mata mereka bertemu, di sana sudah tidak ada lagi mata lembut yang selalu enatap nya. Hanya ada mata kosong yang terlihat kejam.


"Yi'er, apakah perkataan orang akan mempengaruhi hubungan kita?" Tanya Raja Xin dingin.


"Ti-tidak." Yun Yi menggeleng kaku.


"Lantas mengapa kamu bertanya hal itu? Tadi."


"E.. anu, waktu itu, setelah aku menghampiri mu di malam hari dan tetua pertama melihat kita. Banyak rumor yang beredar, kalah aku akan membawa dampak buruk bagimu. Tetua pertama dan tetua ke tiga juga bilang, kalau aku membuat reputasi keluarga Huang menjadi rusak. La..." Raja Xin segera membungkan mulut Yun Yi menggunakan tangan besar nya.


"Jangan pernah dengarkan perkataan orang lain Yi'er. Kau tidak membawa dampak buruk bagiku, malah kau membuat ku terus bahagia jika berada di samping mu." Tutur Raja Xin.


"Dan aku yakin Jendral Huang juga pasti begitu, dia sangat menyayangi mu, bagaimana pun keadaan nya. Kau tahu itu." Raja Xin kembali berucap.


"Jadi, jangan dengarkan omongan orang lain ya?"


...🔸️To Be Continued🔸️...