
Sebuah pohon tumbang, menghalangi jalanan yang akan di lewati mereka.
Raja Xin melirik Shen, dan Shen yang paham segera tun dari kudanya untuk memeriksa. Shen berjalan ke balik pohon dengan wajah tenang.
Yun Yi yang penasaran segera turun dari kereta kuda, yang tentunya di ikuti Lan Mei.
"Mengapa pohon ini bisa runtuh?" Alis Yun Yi terangkat, heran. Tidak ada angin kencang atau pun yang lainnya yang bisa menumbangkan sebuah pohon. Lalu kenapa tiba-tiba pohon ini bisa tumbang?
Raja Xin turun dari kudanya, berdiri di sampin Yun Yi. "Entahlah. Sehn sedang memeriksanya."
Baru saja Raj Xin menyelesaikan ucapannya.
Tring
Tring
Tring
Terdengar suara pedang beradu dari depan, api mereka tidak tahu siapa yang bertarung dengan siapa. Sepertinya pertarungan itu terjadi di dalam hutan.
"Apakah itu Shen?" Yun Yi mendongak menatap Raja Xin.
Raja Xin hanya menghendikkan bahunya, acuh. Lalu bergumam, "Mungkin."
"Kamu tidak akan memeriksa nya?" Raja Xin menunduk menatap Yun Yi dengan wajah masam.
"Apakah kamu meng-khawatirkan keadaan Shen?"
Mendengar nada bicara Raja Xin yang cukup aneh, alis Yun Yi mengkerut. "Apakah kamu sedang ... Cemburu?"
"Cemburu? Apa itu?" Bukannya menjawab, Raja Xin malah balik bertanya.
"Semacam perasaan kesal dan tidak terima saat pasanganmu menatap orang lain atau memperdulikan orang lain, intinya kalau pasanganmu peduli pada orang lain kamu akan merasa kesal, itu adalah cemburu." Jelas Yun Yi.
Raja Xin terdiam, ia memang selalu merasa kesal dan tidak terima kalau Yun Yi memepedukikan orang lain, selain dirinya. "Mungkin begitu." Ucao Raja Xin atau lebih tepatnya gumaman Raja Xin, karena suaranya cukup kecil.
Tak lama, suara pertarungan sudah tidak ada. Lalu terlihat Shen yang keluar dari hutan dengan menyeret tubuh tiga orang dengan kedua tangannya. Luka mereka cukup parah, tapi bukan luka sayatan pedang, melainkan luka biru keunguan seperti luka yang di hasilkan dari sebuah pukulan keras.
"Raja, mereka bersembunyi di hutan dengan tingkah yang mencurigakan. Lalu ada bekas serangan Qi spiritual angin pada pohon ini, dan sepertinya di antara mereka ada yang mempunyai emelen angin." Shen mendorong mereka bertiga untuk tunduk di hadapan Raja Xin.
"Shen."
Shen mengangguk setelah mendapatkan kode dari Raja Xin. "Apakah kalian yang menumbangkan pohon ini?" Shen bertanya denga ujun pedang di dekat leher salah satu dari mereka.
Laki-laki dengan Hanfu biru menegang saat ujung pedang itu begitu dekat dengan lehernya. "I-ya. Aku yang m-melakukannya."
"Kenapa kau melakukan nya?" Kini Yun Yi yang bertanya pada pria itu.
Sebelum pria ber-Hanfu biru menjawab, pria ber-Hanfu kuning disamping nya lebih dulu berbicara.
"Bagaimana jika satu pertanyaan di bayar dengan satu emas?"
Mata Shen menajam, pedang nya teralih ke leher pria ber-Hanfu kuning itu. "Lancang!"
"Shen turunkan." Raja Xin menggelengkan kepalanya. Dengan enggan Shen menurunkan pedang nya.
"Baik." Raja Xin menyetujui permintaan pria Hanfu kuning itu.
Raja Xin merogoh lengan Hanfunya mengeluarkan dua buah emas.
"Kami melakukan nya karena desa kami kekurangan makanan dan kebutuhan lainnya." Sahut pria ber-Hanfu biru, pada akhirnya.
Yun Yi maju kedepan, ia kembali bertanya. "Apa yang terjadi sampai kalian bisa kekurangan makanan?"
Lalu tanpa berbicara apapun, Raja Xin mengeluarkan satu emas. "Beberapa Minggu kemarin, desa kami terkena banjir yang cukup besar. Bahan makanan kami yang di tanam maupun yang sudah di simpan di gudang kepala desa habis terbawa banjir, ada juga yang rusak dan tidak bisa di guanakan."
"Apa Raja kalian tidak memberikan bantuan, sampai-sampai kalian harus merampok seperti ini?" Tanya Yun Yi dan Raja Xin kembali mengeluarkan emas.
"Tdak, Raja kami tidak memberi bantuan pada kami, padahal kamu mengharapkan bantuan."
"Bukan kah kalian bisa membeli makanan ke pasar ibu kota kerajaan ini?" Setiap Yun Yi bertanya, Raja Xin juga mengeluarkan satu buah emas.
"Harga bahan pangan di pasar mendadak naik harga, kami hanya mampu membelinya untuk stok empat hari."
Tanpa melakukan protes Raja Xin mengangguk, namun sebelum itu ia berucap. "Seberapa banyak?"
"Em?" Yun Yi terdiam. "Berapa ya..." Gumam nya.
"Ah begini saja, kalin membutuhkan berapa sampai Kalina bisa mengembalikan desa kalian?"
Ke tiga pria itu tertegun, mereka tadi berbuat licik dengan menukar satu pertanyaan dengan satu emas. Tapi perempuan di depannya malah berbuat baik padanya.
"Kami sudah merasa cukup dengan emas dari hasil pertukaran tadi. Sebaiknya Gūniáng tidak perlu menambahkan nya lagi." Pria ber-Hanfu putih menggelengkan kepalanya, menolak kebaikkan Yun Yi.
"Ternyata kalian bukanlah orang jahat." Semuanya terdiam mendengar ucapan Yun Yi.
"A'Guang, terserah pada mu untuk memberikan mereka berapa emas." Ujar Yun Yi yang di angguki Raja Xin.
"Dan kalia." Ke tiga pria itu menatap Yun Yi dengan alis bertaut. "Jangan melakukan hal ini lagi." Setelah mengucapkan itu, Yun Yi kembali masuk ke dalam kereta.
"Gunakan dengan baik." Raja Xin memberikan mereka satu buah cincin ruang dengan warna ungu cerah.
Wush
Brak
Dengan satu kali kebasan, pohon yang tadinya mengahalangi jalan tersingkir.
"Shen, lanjutkan perjalanan nya." Ucap Raja Xin, dia segera naik ke kudanya.
Ke tiga pria itu menyingkir dengan terus mengucapkan kata terimaksih.
Setelah kepergian mereka, ke tiga pria itu membuat lingkaran.
"Ini pertama kalinya aku melihat nona bangsawan yang begitu baik." Ucap pria ber-Hanfu kuning.
"Ini juga pertama kalinya bagiku melihat seorang pria yang nampak begitu patuh pada seorang wanita." Sambung pria ber-Hanfu biru.
"Kita beruntung karena bertemu dengan mereka." Pria ber-Hanfu putih ikut berucap.
"Sebaiknya kita segera kembali ke desa. Aku yakin kepala desa sudah menunggu." Lanjutnya.
"Baik." Ketiga pria itu menggunakan Qinggong nya untuk kembali ke Desa mereka.
Di gerbang, sudah ada kepala desa yang menunggu mereka.
"Kepala desa kami kembali." Ujar pria ber-Hanfu kuning dengan wajah ceria.
"Sepertinya kalian tengah bahagia." Ujar Yuan Ji, kepala Desa Yuan.
"Benar, kamu bertemu seorang nona bangsawan yang baik hati. Lalu..." Li Xuan, pria berbaju kuning, pun menceritakan kejadian tadi.
"Berapa emas yang mereka berikan?" Tanya Yuan Ji.
Li Xuan menggeleng, begitu juga dengan Li Kun, pria berbaju biru, dan Lian Yu pria berbaju putih.
"Mari lihat di dalam." Mereka pun berjalan menuju balai desa. Di sana mereka memberikan cincin ruang yang di berikan Raja Xin pada Yuan Ji.
Ketika Yuan Ji mengeluarkan isi dari cincin itu, mereka tidak bisa tidak menganga. Tumpukan emas hampir memenuhi meja, lalu ada beberapa karung beras, dan beberapa ikat daging. Jumlahnya tidak lah sedikit.
"Ini... Ini..." Yuan Ji linglung, termasuk ketiga pria itu.
"Ada surat." Lian Yu memungut kertas yang jatuh ke bawah.
Di dalam nya tertulis.
Jangan biarkan orang lain tahu tentang emas ini. ~ Raja Xin.
Ke empat orang itu tiba-tiba menegang. Apalagi Li Xuan, Li Kun, dan Lian Yu.
"Ja-jadi, orang yang tadi adalah Ra-raja Xin."
Gumam Li Xuan, tadi ia dengan lancang melakukan barter, apakah ia akan di .. bunuh?
...🔸️To Be Continued🔸️...