Reinkarnasi Sang Dewi Alam

Reinkarnasi Sang Dewi Alam
Wei Zi


"Shuan Si, bukankah perisai yang kau pasang itu adalah perisai yang di ajarkan  Dewa Agung secara pribadi? Lalu bagaimana perisai itu bisa hancur?" Tanya An She, merasa heran.


Shuan Si menggeleng pelan. "Aku tidak tahu mengapa itu bisa terjadi. Tapi yang pasti, aku merasakan ada aura naga dari Cahya ungu itu, ya walau hanya sedikit."


Mendengar perkataan Shuan Si, entah kenapa An She malah teringat dengan Raja Xin. "Mungkinkah?" Gumam nya.


"Apa kamu berkata sesuatu?" Shuan Si menatap An She dengan penuh tanda tanya.


"Tidak, tidak." An She melambaikan tangannya, untuk saat ini ia hanya bisa menerka-nerka. Nanti, kalau Raja Xin datang, mungkin ia akan bertanya langsung padanya.


"Jadi, untuk sekarang. Apa yang harus kita lakukan supaya Dewi kembali sadar?" Tanya Báishé.


Shuan Si menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu. Aku tidak bisa memberi saran apapun, bahkan aku tidak bisa memeriksa keadaan Dewi-ku dengan pasti, kerena cahaya itu terus menghalangi." Tuturnya, tangannya kembali mengalirkan aura putih ke kening Yun Yi. Namun, cahaya itu langsung kembali keluar begitu saja, seolah ada penghalang besar yang mendorongnya kembali keluar.


Ketika semuanya tengah terdiam dengan pikirannya masing-masing, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, yang berhasil mengalihkan perhatian semua orang.


Tok tok tok


"Sepertinya itu dari pintu depan." Ujar Báishé.


"Biar aku yang memeriksanya." UsulAn She. Yang di angguki Báishé dan Shuan Si.


An She keluar dari kamar milik Yun Yi, lalu pergi ke pintu depan.


Kriet


Ketika pintu terbuka, menampilkan seorang wanita setengah manusia dan setengah kalajengking.


"Wei Zi? Sedang apa kau di sini?"


Iblis kalajengking, alias Wei Zi terengah-engah, wajahnya terlihat panik dengan keringat di pelipisnya.


"An She, aku membawa kabar buruk." Ujar Wei Zi setelah mengatur nafasnya.


An She mengerutkan alisnya, ia melangkah keluar, lalu menutup pintu. "Apa itu?"


"Banyak orang yang mencari keberadaan Dewi, bahkan tadi pagi orang-orang dari dunia langit datang ke istana bawah. Mereka terus memaksa kami untuk memberitahukan keberadaan Dewi, dan mereka hampir menghancurkan istana kala tidak ada yang menjawab pertanyaan-nya." Jelas Wei Zi.


An She sudah menduga hal ini, dengan bangkitnya Hei Sui dari jiwa Dewi-nya, pasti akan banyak kekacauan yang terjadi. Tapi ia tidak menyangka, orang-orang dari dunia langit bahkan sampai menginjakkan kakinya di dunia bawah. "Banyak orang? Apakah mereka semua adalah orang-orang dari dunia langit?" Tanya An She.


"Tidak hanya orang-orang dari dunia langit. Manusia, iblis, siluman, bahkan ada beberapa peri yang mencari keberadaan Dewi denan wajah penuh dendam." Jawab Wei Zi.


Mata An She melebar. "Para peri? Mencari Dewi? Dengan wajah penuh dendam?"


Apa ini, mengapa peri-peri pun ikut. Apakah mereka juga termakan akan ucapan wanita itu? Bagaimana bisa mereka menaruh dendam pada Dewi yang memberi mereka kekuatan.


Ya, kekuatan yang di miliki para peri selalu di buat oleh seorang Dewi Alam. Para peri tidak bisa menyerap Qi spiritual maupun kekuatan roh. Mereka menyerap esensi murni yang di hasilkan alam semesta. Dan esensi ini tidak bisa menjadi murni kalau tidak di murnikan oleh seorang Dewi Alam.


Sampai saat ini, tidak ada yang tahu, bagaimana Dewi Alam bisa memurnikan esensi yang di hasilkan dari alam semesta. Bahkan metode pemurnian esensi ini tidak di tulis di buku kuno atau buku purba manapun, hanya seorang Dewi alam dan penerusnyalah yang mengetahui ini.


An She mengangguk paham. Shi Wen adalah orang yang paling membenci junjungannya sedari dulu. Wanita itu selalu tidak suka dengan segala sesuatu yang bersangkutan dengan Dewi-nya, Xiao Sui, alias Yun Yi.


Jadi, sangat tidak mengherankan ketika dia melakukan sesuatu untuk merusak nama baik Yun Yi di mata orang-orang.


"Untuk saat ini kamu harus berdiam di istana bawah. Perintahkan semua orang untuk tidak keluar dari wilayah istana. Saat ini Dewi sedang tidak sadarkan diri, dia..."


"Apa?!" Sebelum An She berucap lagi, Wei Zi lebih dulu berteriak kencang.


"Bagaiaman bisa? Apakah Dewi tengah sakit?!" Ekor Wei Zi terangkat, ia merasa khawatir dengan kondisi Yun Yi.


"Di mana Dewi-ku sekarang? Apakah keadaannya sudah lebih baik?" Wei Zi menatap An She dengan penuh tanya.


An She menghela nafasnya, reaksi iblis di depannya ini selalu saja berlebihan.


"Untuk saat ini Dewi belum sadar, mungkin dia sedang menerima beberapa ingatan. Karena seingatku, salah satu pecahan ingatan Dewi tersegel bersamaan dengan array penghalang di luar erbang hutan ini. Dan ketika Dewi menghancurkan array ituz sepertinya pecahan itu masuk ke dalam jiwa Dewi, apalagi Annchi bercerita tentang masa lalu, dan sepertinya itu membuat pecahan ingatan itu tergerak, dan membuat Dewi tidak sadarkan diri seperti sekarang." Jelasnya.


"Lalu, Dewi di mana?" Tanya Wei Zi sekali lagi.


"Di dalam."


Baru saja An She menjawab pertanyaan Wei Zi, Wei Zi kini melesat masuk dengan cepat.


Brak


Bahkan pinrupun terbanting dengan keras. Dan sekali lagi, An She hanya bisa menghela nafasnya, lelah dengan kelakuan Wei Zi yang selalu bertindak sesuka hatinya.


Di dalam, Wei Zi segera mencari keberadaan Yun Yi. Dan ketika membuka pintu kamar, matanya memerah ketika melihat seorang gadis dengan wajah pucat terbaring di peraduan.


"Dewi!" Wei Zi berlari mendekat, ke arah Yun Yi. Dia terduduk di samping peraduan, perlahan pipinya mulai basah dengan air mata.


"Dewi..." Wei Zi menangis sambil memegang sebelah tangan Yun Yi. Wei Zi merasakan kedinginan di tangan itu, tapi ia juga merasa semua yang ada dalam tubuh junjungannya normal. Aliran darahnya lancar, tapi kenapa kulit junjungannya begitu pucat.


"Ini...bagaimana bisa?"


Shuan Si yang ada di samping Wei Zi tentu mendengar gumaman itu. "Apakah kamu tahu bagaimana ini bisa terjadi?" Tanya-nya, sedikit berharap.


"Aku pernah melihat gejala ini dulu. Tapi aku tidak tahu pasti mengenai ini." Mendengar jawaban Wei Zi, Shuan si melunturkan wajah antusiasnya.


"Aku kira kamu tahu." Gumamnya, kecewa.


"Aku memang tidak tahu, tapi aku tahu siapa orang yang mengetahui dengan jela gejala ini." Tutur Wei Zi. Dan itu membuat raut antusias Shuan Si kembali.


"Benarkah? Lalu siapa dia? Dan di mana?"


Wei Zi terdiam, dia menggali ingatannya. "Kalau tidak salah julukannya adalah tabib suci. Namun, Mengani keberadaanya..."


...🔸️To Be Continued🔸️...