
"Ayah tunggu." Yun Yi yang baru selesai menggambar segera menghampiri Jendral Huang yang sudah tersulut emosi.
"Ayah jangan, kau tidak perlu mengotori pedangmu. Walau dia tidak kita beri hukuman, namun dengan membiarkannya seperti ini tanpa pengobatan itu sudah sepadan." Ucap Yun Yi, ia memegang tangan Jendral Huang yang mengepal.
"Racun yang di lempar Da Hui Ling adalah racun yang bisa membuat orang yang terkenanga mati, walau saat ini aku belum tahu racun jenis apa." Papar Yun Yi.
Jendral Huang menghembuskan nafasnya, lalu kembali menyimpan pedangnya ke dalam sarungnya.
"Kau harus senang karena aku tidak langsung memenggal mu." Jendral Huang melayangkan tatapan tidka suka pada Da Hui Long.
Yun Yi menarik Jendral Huang agar berada agak jauh dengan Da Hui Long. "Ayah diam di sini sebentar ya. Aku akan mengambil sempel racun ini dulu." Ucap Yun Yi.
"Sempel?" Jendral Huang mengerutkan keningnya, lagi-lagi anaknya ini mengucapkan kata yang tidak dapat ia mengerti.
"Maksudnya, aku akan mengambil sisa racun itu untuk aku teliti, begitu." Jelas Yun Yi, ia mengumpat dalam hati. Bagaimana bisa ia lagi-lagi mengucapkan kata yang berasal dari zaman nya.
Mendengar itu Jendral Huang pun mengangguk, "Baiklah, Ayah mengerti."
Yun Yi berbalik, matanya melotot ketika Raja Xin tengah mengurung Da Hui Long menggunakan Es. Dia segera menghampiri Raja Xin, "Kenapa ini?" Tanya Yun Yi ketika sudah di samping Raja Xin.
"Tadi, dia ingin melemparkan serengan kepada mu. Jadi aku mengurungknya seperti ini." Jelas Raja Xin, matanya menatap Da Hui Long, dingin.
"Sepertinya dia tidak jera, padahal racun itu terus menggerogotinya." Yun Yi meneliti tubuh Da Hui Long, urat-urat yang tadinya berwarna hijau, kini seiring berjalannya waktu berubah menjadi hitam ke-unguan.
"Sebenarnya racun jenis apa ini?" Gumam Yun Yi. Ia mengigit kuku jari telunjunya.
Raja Xin segera menarik tangan Yun Yi, "Apa yang kamu lakukan Yun'er, kenapa kemu mengigiti kuku mu? Itu kotor."
"Tidak ini tidak kotor, aku hanya sedang berpikir saja." Yun Yi menggeleng, ia kembali memperhatikan Da Hui Long yang terus memberontak, dia seperti sedang berteriak, namun entah kenapa Yun Yi tidak mendengar apa pun.
Melihat ke anehan tersebut, Yun Yi menatap Raja Xin dengan penuh tanya.
"A'Guang, sepertinya Da Hui Long tengah berteriak. Tapi, kenapa aku tidak mendengar suaranya?" Tanya Yun Yi. Berharap kalau Raja Xin mempunyainya jawabannya.
"Aku pun tidak tahu mengapa, tapi seingatku gejala seperti hampir sama dengan gejala orang yang memegang akar dari bunga Holly kelabu." Ucap Raja Xin.
"Bunga Holly kelabu?" Monolog Yun Yi.
"Bunga itu hanya tumbuh di dunia bawah, tempat para iblis tinggal. Akan tetapi nama asli dari bunga tersebut tidak ada yang tahu." Ujar Raja Xin.
"Apa bunganya berwarna kelabu jadi di sebut Holly kelabu?" Tanya Yun Yi, memastikan.
"Sepertinya..." Raja Xin mengangkat bahunya, ia bukan ahli dalam bidang racun seperti Shen bawahannya, dia tahu bunga Holly Kelabu pun darinya.
"Tapi kenapa ini berwarna biru ya?" Yun Yi berjongkok memperhatikan racun yang berserakan di lantai.
Raja Xin pun ikut berjongkok di samping Yun Yi. "Bisa saja ini bukan terbuat dari akar bunga Holly Kelabu." Terka Nya.
Yun Yi menangkup ke dua pipinya, "Benar juga." Ia mengangguk-anggukan kepalanya, setuju dengan ucapan Raja Xin.
Yun Yi membulatkkan matanya, ia ingat akan satu hal yang hampir ia lupakann.
"Oh ya botolnya mana?" Tanya Yun Yi.
Raja Xin tersenyum, ia mengeluarkan botol kaca yang tadi Yun Yi gambar. "Apa benar seperti ini?" Tanya Raja Xin, memastikan.
Ketika tangan Yun Yi menerima itu matanya berbinar, namun dia teap diam. Dan diam nya Yun Yi membuat perasaan Raja Xin menjadi agak waswas.
'Apakah botolnya kurang bagus?' tanya Raja Xin pada dirinya sendiri.
Raja Xin menghembuskan nafasnya, lega. Ia kira barangnya tidak memuaskan, tapi untunglah, sepertinya ia melakukannya dengan benar.
"A'Guang, bagaimana kamu bisa menciptakan sesuatu hanya dengan sebuah gambar saja?" Tanya Yun Yi penasaran.
Matanya berbinar, menatap Raja Xin dwngan penuh kagum dan rasa ingin tahu.
Raja Xin terkekeh, ia mengusap puncuk kepala Yun Yi, merasa gemas dengan tingkah nya.
"Kemampuan ini di turunkan dari keluarga ku. Hampir semua anggota keluarga Xin dapat melakukannya." Jelas Raja Xin.
Mata Yun Yi semakin berbinar, dia menatap Raja Xin dengan bangga?
Raja Xin memundurkan tubuhnya, ketika wajah Yun Yi terlalu dekat. Entah kenapa jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang.
"Khem."
Raja Xin dan Yun Yi mengalihkan pandangannya, mereka menatap Jedral Huang dengan tatapan bertanya.
"Bukankah kau mau meneliti racun itu Yi'er? Kalau begitu kau harus segera mengambilnya, takutnya racun itu tercampur dengan debu." Ujar Jendral Huang. Dengan berani ia menarik Raja Xin dari hadapan Yun Yi.
Yun Yi pun mengambil sapu tangan yang selalu ia bawa, lalu membasahi ujungnya dengan racun itu. Setelah separuh dari bagian sapu tangan berwarna putih itu terbasahi oleh racun, Yun Yi segera memasukannya ke dalam botol dengan hati-hati, takut terkena ke kulitnya.
"Baiklah. Aku sudah mengambilnya." Seru Yun Yi. Ia menatap senang ke arah botol kaca yang ia pegang.
"A'Guang, ayo bantu aku meneliti ini." Ajak Yun Yi.
Yun Yi menyeret Raja Xin keluar Aula. Namun belum sempat keluar dari pintu Jendral Huang segera mencegahnya.
"Yi'er, lalu bagaimana dengan dia?" Jendral Huang menunjuk Da Hui Long yang masih terkurung di dalam sangkar Es yang di buat Raja Xin.
Yun Yi menoleh, tangan yang tadinya memegang tangan Raja Xin kini berpindah ke dagunya. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk dagunya pelan.
"Emm, gimana ya?" Gumam Yun Yi.
Setelah beberapa saat, "Terserah Ayah aja deh." Putus Yun Yi, lalu kembali menarik Raja Xin keluar.
Jendral Huang mematung di tempat, orang-orang yang berada di Aula pun terbengong. Heran, kenapa Yun Yi bisa dekat dengan Raja Xin yang di kenal selalu bersikap dingin pada semua perempuan.
"Huft." Jendral Huang menghembuskan nafasnya.
"Baiklah, prajurit biarkan Da Hui Long di sini sampai dia tidak bernafas. Lalu untuk pelayan-pelayan itu, pecat mereka semua lalu penjarakan." Titah Jendral Huang.
Para pelayan mencoba memberontak ketika prajurit menyeret mereka.
"Jendral besar, mohon ampuni kami."
"Jendral saya mohon ampuni saya, saya berjanji tidak akan melakukan hal seperti ini lagi."
"Jendral besar jangan pecat saya."
"Jendral..."
Mendengar teriakkan-teriakkan para pelayan itu membuat kepala Jendral Huang pusing, telinganya seperti akan pecah, sangat berisik.
...🔸️To Be Continued🔸️...