
Mendenga itu Yun Yi menjadi penasaran, ada apa di depan sana. Dengan langkah pelan, Yun Yi maju ke depan. Mengikuti instruksi Zisè. Setelah mungkin sekitar dua puluh langkah, Yun Yi mulai merasakan aura hebat yang begitu pekat dan memikat.
"Sepertinya aura ini berasal dari pohon itu." Yun Yi menatap dua pohon sama yang berdamping, bukan hanya berdampingan, mereka nampak seperti menyatu. Keda pohon itu benar-benar sama persis, tidak terlihat ada perbedaan di antaranya.
"Aku yakin auranya berasal dari sini." Yun Yi manatap dua pohon di depannya."
'Xiăo Jiě, coba lihat di pohon paling kiri. Apakah itu pola array?'
Yun Yi menoleh ke kiri. Benar, di sana ada pola yang lumayan kecil dan sepertinya itu adalah pola array. Yun Yi sedikit mengeluarkan Qi spiritual nya, lalu ia arahkan ke pola array tersebut. Dalam hitungan ke tiga, pola itu malah seolah menarik paksa Qi spiritual dalam diri Yun Yi.
"Ada apa ini?" Yun Yi heran, saat ia manrik tanganny, berniat melepaskan aliran qi spiritual itu, bukannya lepas ia malah merasa semakin tertarik. Tarikan itu makin lama makin kuat, dan Qi spiritual yang di ambil dari dalam tubuh Yun Yi semakin banyak.
'Xiăo Jiě, anda jangan memberontak, jika anda memberontak, array ini akan menghabiskan semua Qi spiritual milik anda. Lebih baik anda menenangkan diri, jangan panik.'
Yun Yi mengangguk, ia mulai menarik nafas, menenangkan dirinya. Setelah dirinya tenang, array itu tidak lagi menarik Qi spiritual miliknya dengan sekala besar.
Entah berapa lama array itu mengambil Qi spiritual milik Yun Yi. Ketika akhirnya, Yun Yi merasa tubuhnya di tarik. Ketika matanya terbuka, ia kini sudah berada di tempat lain.
Tempat ini penuh dengan awan, bahkan yang kini ia pijak adalah sebuah awan. Ini lembut, dan hangat.
"Di mana ini?" Gumam Yun Yi.
"Zisè, apakah kamu tahu ini di mana?"
Tidak ada yang menyahut. Ia mencoba menghubungi Zisè sekali lagi. Tapi tetap saja tidak bisa. Seperti ada yang memutus koneksi antara dunia ruang dan dirinya.
Tangannya terulur menyentuh cincin, mencoba mengeluarkan sesuatu, apapun itu, dari dalam ruang. Tapi tidak bisa, benar-benar seperti ada yang memutus koneksi antara dirinya dan dunia ruang.
Yun Yi menyerah, ia menatap ke sekiranya. Banyak tanaman unik yang tumbuh di atas awan. Ini adalah pemandangan yang unik, namun terasa familiar.
Kakinya mulai melangkah. Mencari aura yang ia rasakan tadi.
"Selamat datang Dewi ku."
Yun Yi berbalik ketika mendengar suara seorang pria dari belakangnya.
Seorang pria dengan tubuh yang menyatu dengan awan, wajahnya putih pucat, rambut putih ke emasan nya begitu bersinar di bawah sinar matahari. Sepasang sayap yang begitu indah, Hanfu putihnya berkibar tertiup angin. Senyuman indah yang terukir di wajah rupawan nya, dia menghampiri Yun Yi, lalu menekuk kakinya.
"Dewa rendah ini memberi salam kepada Sang Alam."
Yun Yi agak kaget ketika pria awan itu berjongkok di depannya. "Kamu berdiri."
Dengan patuh pria awanitu berdiri.
Melihat pria di depannya, tiba-tiba sebuah nama melintas di kepalanya. "Bai Shi?"
Pria itu tersenyum semakin lebar. "Sebuah kehormatan bisa di ingat oleh anda Dewi-ku."
"Aku memang ingat namamu, tapi..." Yun Yi ragu untuk mengucapkan kalimat selanjutnya.
Bai Shi masih tetap tersenyum. "Nama saya di ingat anda saja sudah membuat saya senang. Saya tahu, saat ini ingatan Anda masih belum kembali sepenuhnya. Jadi saya tidak mempermasalahkan hal ini." Tutur Bai Shi.
"Oh ya, apakah kamu yang memasang array itu di pohon kembar itu?" Tanya Yun Yi.
Bai Shi menganggukan kepalanya. "Benar, saya yang menanam array itu."
"Maafkan saya. Seperinya kumpulan awan-awan saya begitu serakah terhadap Qi spiritual murni milik anda." Bai Shi menunduk, merasa bersalah.
"Awan-awan mu?"
"Ya, awan-awan saya. Sebagai Dewa dengan tingkat rendah, saya tidak bisa mengontrol semua awan-awan di seluruh semesta. Jadinya saya jadikan awan-awan itu menjadi diri saya sendiri atau teman saya." Jelas Bai Shi.
"Itu ide yang bagus." Yun Yi terangguk-angguk, cara seperti ini terdengar sangat menarik.
"Tentu saja bagus, cara ini anda sendiri yang memberitahukan nya pada saya." Pernyataan itu membuat Yun Yi kaget.
"Aku?" Yun Yi menunjuk dirinya sendiri, eskpresi tidak percaya terpangpang di wajahnya.
Bai Shi tersenyum, dari wajahnya dia terlihat sedih, tapi bibirnya masih saja tersenyum.
"Karena anda sudah ada di sini, saya akan memperlihatkan sesuatu." Yun Yi menaikkan sebelah alisnya, menunggu apa yang akan Bai Shi lakukan dan apa yang ingin ia tunjukan padanya.
Bai Shi mengucapkan beberapa kata, lalu muncul sebuah awan bulat yang di tengahnya terdapat sebuah air yang menyatu dengan awan.
"Semoga setelah saya memperlihatkan ini, ingatan anda ada yang kembali." Bai Shi menggigit ujung jarinya lalu meneteskan darahnya pada air.
Sebuah gambar perlahan muncul di air itu.
"Shi Wen, ku harap kamu tidak melanjutkan pertarungan ini." Ucap wanita dengan Hanfu, hijau-ungu.
"Hahaha." Wanita dengan Hanfu putih di depan Wanita Hanfu hijau-ungu itu tertawa.
"Apakah kamu takut? Atau kamu tidak mampu melawan Ku?"
"Bukan takut. Tapi jika kita melakukan ini di dunia manusia. Aku takut banyak perubahan yang seharusnya tidak terjadi di sini."
"Aku tidak peduli. Manusia adalah mahkluk terlemah. Semesta tidak akan merasa sedih hanya karena kehilangan makhluk lemah seperti mereka."
"Kamu jangan menghina mereka. Bagaiamana pun, kita dan mereka di ciptakan oleh satu pencipta yang sama."
"Aku tidak peduli. Yang ku pedulikan saat ini adalah kekalahan dirimu. Namun, sesuatu yang ku inginkan adalah, menghapusmu dari semesta ini."
"Kenapa kamu begitu membenciku? Kita adalah saudara."
"Saudara? Hahaha, kau pasti bercanda. Dewa agung Hana menganggap mu saja sebagai anaknya. Dia selalu mengabaikan ku, bahkan dia tidak pernah menganggap ku ada."
"Bukan seperti itu, aku yakin Ayah juga menyayangimu."
"Menyayangi? Tidak, Dewa agung tidak menyayangiku. Dan itu di sebabkan olehmu. Kenapa kamu begitu berbakat? Mengapa kamu egiru hebat dalam hal apapun? Jika saja ada satu hal yang tidak kamu kuasai, aku ingin menguasainya agar dewa agung melirikku. Tapi kau malah menguasai semuanya, sehingga tidak ada kesempatan bagiku untuk menunjukkan kebiasaan ku pada Dewa agung."
"Shi..."
"Jangan berani-berani memanggil namaku! Jangan pernah."
"Tapi..."
"Diam! Aku tidak ingin mendengarkanmu lagi. Saat ini, aku hanya ingin menyingkirkan mu dari semesta ini. Agar hanya aku lah, satu-satunya anak dari sang Dewa agung, dan hanya akulah satu-satunya wanita tercantik, dan wanita yang akan di puja banyak orang."
...🔸️To Be Continued🔸️...