
Yun Yi menopang dagunya menggunakan tangan kirinya di atas meja, setelah Raja Xin pergi mengapa Kaisar Wu ia menjadi sangat bosan. Apalagi, para nona bangsawan itu terus menampilkan tarian dengan lagu lambat yang membuatnya bosan dan juga mengantuk.
Qiou Yue bilang JiěJiě nya akan datang ke sini, tapi sedari kemarin ia tidak menemukannya, apakah dia masih bersama teman seperguruan nya?
"Ya terserah lah." Gumam Yun Yi.
"Terserah apanya?"
Yun Yi spontan menoleh ketika mendenga suara. "Salam kepada Huangtaizi." Yun Yi membungkukan kepalanya ketika tahu kalau pria di depannya adalah pria yang masuk bersama Kaisar dan Permaisuri.
"Tidak perlu terlalu pormal." Putra Mahkota tersenyum, ia menjulurkan tangannya.
"Boleh Benwang tahu siapa nama Gūniáng?"
Yun Yi menatap tangan Putra mahkota yang terarah pada nya. Yun Yi menyatukan tangannya lalu sedikit membungkuk.
"Nama gadis ini, Huang Yun Yi. Sebuah kehormatan Huangtaizi menanyakan nama saya." Yun Yi tersenyum pormal. Ia merasa tidak nyaman ketika di samping Putra mahkota, auranya sangat berbeda dengan pemuda yang selalu ia temui sebelumnya.
Putra mahkota Wu menarik tangannya dengan kaku. Ia merasa aneh ketika Yun Yi nampak biasa-biasa saja ketika di hampiri olehnya, padahal jika nona bangsawan lain, mereka akan tersipu malu dan selalu mencoba mencari perhatiannya, tapi Yun Yi malah terlihat seperti menghindarinya.
Dari kejauhan seorang gadis menatap Yun Yi dengan tajam. "Kenapa putra mahkota harus menghampiri gadis itu."
Yun Yi tidak tahu harus berbuat apa, putra mahkota Wu sepertinya masih ingin di sini. Yun Yi merasa tidak nyaman dengan banyaknya pasang mata yang menatap nya tajam, bahkan ada yang terang-terangan menatapnya dengan tatapan benci.
"Apakah kamu (nona pertama) dari keluarga Huang Kekaisaran Xi?" Tanya Putra mahkota.
Yun Yi menggeleng, "Bukan, saya adiknya." Senyum pormal masih Yun Yi pertahankan, ia tidak boleh mencari masalah dengan pria di depannya dan jangan sampai dekat dengan nya juga. Ia harus segera menjauhi pria ini.
"Huangtaizi, sepertinya Er'Xiăo Jiě Huang sedikit tidak nyaman dengan keberadaan anda, lebih baik anda menyapa tunangan anda." Seorang pria menengahi mereka.
Yun Yi menoleh, dia sepertinya kenal dengan pria di depannya.
Pria itu menatap Yun Yi, sudut bibirnya membentuk kurva. "Kita bertemu lagi, nona."
"Feng Jun?" Ucap Yun Yi ragu-ragu.
Feng Jun tersenyum, "Benar, aku Feng Jun."
Alis Yun Yi terangkat, "Bagaimana kau bisa ada di sini?" Tanya nya.
Sebelum Feng Jun berucap, Putra mahkota sudah lebih dulu berbicara. "Apakah Gēgē mengenal Er'Xiăo Jiě Huang?" Tanya Putra mahkota.
"Kami pernah bertemu dengan nya dulu." Sahut Feng Jun.
Putra mahkota mengangguk, ia kembali menatap Yun Yi. "Apakah Xiăo Jiě mau berjalan-jalan di taman bersama ku?" Tawar Putra mahkota.
"Em, maaf Huangtaizi, tapi saya hanya ingin di sini." Tolaknya secara halus. Yun Yi tersenyum canggung, apakah tak apa kalau ia menolak tawaran seorang putra mahkota.
"Lihat, nona itu sangat sombong. Padahal Huangtaizi sudah mengajaknya secara baik-baik saja, tapi mengapa dia langsung menolaknya begitu saja." Bisik-bisik itu mulai lagi, Yun Yi sudah pusing mendengar ocehan mereka.
"Benar, sangat tidak menghargai Huangtaizi."
"Apa yang kalian bicarakan." Suara dingin itu berhasil membuat orang-orang gemetar.
Raja Xin yang baru saja selesai berbincang dengan Kaisar Wu, dan ingin segera bertemu dengan gadisnya tapi baru aja memasuki aula, sudah banyak suara yang mengganggu telinganya.
"Berani sekali membicarakan gadis ku." Mata Raja Xin menatap ke dua gadis yang baru saja bergosip tentang Yun Yi.
"Ma-maafkan kami Raja Xin." Ucap ke dua gadis itu dengan tubuh gemetar.
Yun Yi mengangguk, "Baiklah." Yun Yi memegang tangan Raja Xin.
"Tunggu." Cegah Feng Jun dan Putra mahkota secara bersamaan.
Yun Yi menghentikan langkahnya. Raja Xin menatap tidak suka pada ke dua putra Kaisar Wu itu. "Kenapa?" Tanya Yun Yi.
"Apakah aku boleh ikut?" Tanya Feng Jun.
"Benwang juga kebetulan sudah sangat lapar, jadi kita bisa bersama pergi ke tempat perjamuan."
Alis Yun Yi terangkat, ia merasa heran dengan dua pria di depannya ini. "Emm.." Yun Yi mendongak, menatap Raja Xin.
'Sepertinya A'Guang tidak suka dengan mereka.' Batin Yun Yi.
"A'Guang, bagaimana?" Mendengar suara Yun Yi Raja Xin menunduk.
"Bagaimana apanya?"
"Mereka." Mata Yun Yi menunjuk ke dua pria yang ada di depannya.
"Biarkan saja." Tanpa berlama-lama, Raja Xin segera membawa Yun Yi ke meja besar yang sudah tersedia banyak makanan.
Yun Yi menatap senang pada berbagai hidanan yang baru saja di hidangkan beberapa saat yang lalu. Yang mencolok di mata Yun Yi adalah sebagai macam daging.
Seorang pria berdiri di samping Yun Yi.
"Kamu mau makan apa?" Bukan, bukan Raja Xin yang bertanya, tapi Feng Jun.
Yun Yi hanya melihat Feng Jun sekilas, sekarang ia melihat ke arah Raja Xin yang membawa banyak jenis makana di satu nampan, dan berbagai kue di nampan lainnya.
"Ayo, kita duduk di sana." Ajak Raja Xin, karena ke dua tangannya sudah penuh, jadi Raja Xin tidak bisa menggandeng Yun Yi, ia melangkah ke meja yang di sediakan di dekat meja besar. Meja itu hanya di sediakan dua bangku, tentu saja Raja Xin akan menempati meja itu.
Yun Yi duduk di samping Raja Xin, Raja Xin masih terlihat sibuk menata makanan menggunakan Qi nya.
"Perlu ku bantu?" Tanya Yun Yi.
Raja Xin menggeleng, ia mencegah Yun Yi yang akan bangkit dari duduknya. "Tidak, kamu cukup duduk saja." Ucap Raja Xin.
Yun Yi hanya mengangguk, setelah Raja Xin selesai menata makanan. Ia mengambil satu mangkuk nasi lalu mengisinya dengan daging.
"Nah, makanlah." Yun Yi menerima mangkuk nasi itu, lalu mulai makan.
Karena Yun Yi terlalu fokus pada makanannya, Yun Yi tidak sadar kalau Raja Xin tersenyum penuh kemenangan ke arah Feng Jun dan putra mahkota Wu yang tengah berdiri di belakang Yun Yi. Mata Raja Xin menatap remeh mereka, seolah mengatakan. "Kalian kalah, dan aku menang."
Raja Xin mengalihkan pandangannya lagi pada Yun Yi. "Makanlah yang banyak." Ucapnya.
Raja Xin pun ikut makan, walau hanya beberapa suapan. Melihat itu Yun Yi sedikit heran. "A'Guang, mengapa kamu tidak makan banyak?"
"Aku sedang malas mengangkat tangan, bisakah kamu menyuapi ku?" Raja Xin membuka mulutnya, berharap di suapi, sepertinya.
Yun Yi tersenyum kecil, bukankah tadi Raja Xin memasang wajah seram. Lalu kenapa sekarang menjadi seperti ini?
"Baiklah, aaa..."
...🔸️To Be Continued🔸️...