Reinkarnasi Sang Dewi Alam

Reinkarnasi Sang Dewi Alam
Jiwa Jelajah


Kesadaran Yun Yi kembali, ia mengerjakan matanya. "Ugh, kenapa mataku perih?"


Tangannya terulur untuk menggosok matanya.


Yun Yi kembali mengerjap-ngerjapkan matanya. Ketika akan bergerak, ia merasa perutnya seperti di timpa sesuatu yang berat. Mata Yun Yi turun, melihat ke bawah. Sebuah tangan tengah memeluknya erat, tapi tidak sampai membuat dirinya sesak.


Wajah Yun Yi di miringkan ke samping, seorang pria tampan kini sedang tertidur di samping nya.


"A'Guang." Yun Yi mengguncang tubuh Raja Xin.


"Hmm." Raja Xin yang merasa terganggu perlahan membuka  matanya. Seketika Raja Xin terduduk.


"Yi'er, kamu sudah bangun?" Wajah Yun Yi menjadi datar mendengar pertanyaan tidak mutu dari mulut Raja Xin.


"Lihatlah sendiri, apakah aku masih pingsan atau tidak." Yun Yi pun ikut duduk, ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Raja Xin tersenyum kecil, ia mengambil kedua tangan Yun Yi. "Aku senang."


Yun Yi hanya mengangguk kan kepalanya.


Kruk..


Perutnya berbunyi, membuat wajah Yun Yi memerah. Dia menatap Raja Xin yang sepertinya tengah menahan tawa.


"Jangan tertawa!"


"Hihi, tidak, tidak." Raja Xin menggeleng, ia merasa lucu dengan wajah kesal Yun Yi.


"Sebenarnya berapa lama aku pingsan, sampai-sampai perutku berbunyi." Tutur Yun Yi.


Raja Xin turun dari kasur, "Sebenarnya, kamu tidak pingsan." Lalu berjalan mengambil Zaosan luarnya.


"Lalu kenapa?" Kalau tidak pingsan apakah itu berarti dia koma?


"Entahlah, matamu tetep terbuka, tapi jiwamu sekali sedang pergi ke tempat lain." Raja Xin meletakkan sepatu Yun Yi di dekat ranjang.


"Hah?" Mulut Yun Yi terbuka, ia tidak mengerti apa maksud nya.


"Keadaan ini di sebut 'Jiwa jelajah'. Seseorang yang mengalami ini akan merasa seperti sedang pingsan. Seperti namanya, jiwa itu keluar dari raga nya, tapi bukan mati. Jiwa itu akan di bawa pergi seseorang atau sesuatu ke tempat yang belum pernah di temui oleh jiwa itu, atau tempat paling berharga bagi jiwa itu." Raja Xin, berjongkok membantu Yun Yi memakai sepatunya.


"Tapi ada juga jiwa yang bepergian sendiri, tanpa ada yang membawanya. Dan tempatnya bisa di mana saja, bahkan di angkasa pun bisa." Sambung nya.


"Itu berarti tadi aku di bawa pergi oleh seseorang dan di bawa ke ruangan serba putih itu." Gumam Yun Yi setelah mendengar penjelasan dari Raja Xin.


Walau Raja Xin dapat mendengar gumama Yun Yi, ia tidak bertanya apapun. Raja Xin mengulurkan tangannya.


"Ayo pergi makan ke bawah."


Yun Yi menerima ukuran tangan Raja Xin. Ia dan Raja Xin turun kebawah, karena ini masih tengah malam, jadinya di dapur penginapan tidak ada siapapun. Dan berakhir mereka masang bersama.


"Kau tahu A'Guang, aku bermimpi mendengar suara seorang anak kecil yang begitu manis dan lucu." Yun Yi mengawali ceritanya.


Wajah Raja Xin menjadi masam. "Kenapa bukan aku yang kau mimpikan?"


Yun Yi terkekeh, sepertinya Raja Xin menjadi bad mood karena ia tak memimpikannya. "Jangan marah, lain kali aku akan memimpikanmu."


"Lalu..." Yun Yi menceritakan semua mimpinya.


Raja Xin yang mendengar cerita Yun Yi tersipu malu, ternyata yang di sebut Yun Yi lucu dan manis adalah dirinya. Tapi... Kenapa malah suara anak kecil?


Senyumnya terbentuk, ia menatap Yun Yi yang asik bercerita sambil memotong beberapa sayuran. Maa itu masih sama, sama mengagumkannya dengan saat Yun Yi masih menjadi Xiao Sui dulu. Walau mata yang di miliki nya sekarang tidak berwarna biru.


Jika dulu dirinya hanya dapat melihat Sang Alam dari kejauhan, sekarang dia telah menjadi tunangannya. Ada rasa senang dan rasa tidak percaya di hatinya.


Ia harus berusaha menemukan salah satu harta tertinggi untuk bisa menyandingkan derajatnya dengan Yun Yi. Ia harus mencapai Kultivasi sampai tingkat ilahi.


Tapi keberadaan harta tertinggi itu sampai saat ini belum ada yang tahu, bahkan Dewa agung sekalipun. Di buku kuno hanya di tuliskan kalau ada dua harta tertinggi yang sebandin dengan tingkat Dewa tertinggi di istana langit.


Yang pertama adalah Tombak Naga purba, tombak yang di katakan bisa membunuh seluruh Dewa dan Dewi dengan hanya satu ayunan. Dan yang ke dua adalah Gulungan Yin Yang, gulungan ini merupakan kunci ke sebuah pulau yang berisi harta dunia.


Pulau ini adalah pulau yang ada sejak era purba yang di temukan oleh seorang petapa ilahi. Petapa ilahi itu sangat di hormati oleh seluruh semesta, dia adalah petapa dengan kultivasi paling tinggi di era purba.


Semua catatan array, tabir, jimat, tentang kultivasi sampai semua elemen, bahkan termasuk elemen langka, ia tulis dengan tangannya sendiri. Catatan yang di tulis petapa itu menjadi harta legenda di era sekarang, catatan itu sekarang di miliki oleh turunan naga hitam di dunia iblis.


Jika catatan itu di sebut legenda, maka Gulungan Yin Yang di sebut hanya mitos. Karena sampai saat ini, gulungan Yin Yang masih belum di temukan.


Sedangkan Tombak Naga purba, sekarang ada di puncak tertinggi Gunung Zhuan. Gunung yang dekat dengan Desa Aidelwis.


Lamunan Raja Xin buyar kala Yun Yi kembali bercerita.


"Setelah berkeliling, aku masih tetap tidak menemukan pintunya, tapi secara aneh, ada sebuah cahaya menyilaukan yang seperti menarik ku. Lalu akhirnya aku sadar." Mendengar itu Raja Xin dapat menyimpulkan kalau yang membawa Yun Yi ke srunh itu adalah Dewa mimpi.


"Dan kau tahu, mendengar cerita itu ada beberapa bagian yeng terdengar telingamu. Lalu aku punya satu pernyataan." Raja Xin mengangguk, sebagai tanda bahwa ia mengijinkan Yun Yi untuk bertanya padanya.


"Menurutmu Dewi cahayaitu, sekarang bagaimana?" Tubuh Raja Xin menegang mendengar pertanyaan Yun Yi.


"Lalu menurutmu anak itu sedang berbicara pada siapa?"


Deg


Raja Xin menerima dua pertanyaan yang sulit untuk ia jawab. Dia menundukkan kepalanya.


"Ka-kalau yang aku tahu. Dewi ahaya saat ini tengah mencari keberadaan anak nya." Jawab Raja Xin, ia awalnya tidak ingin menjawab pertanyaan Yun Yi. Tapi Yun Yi adalah seorang anak yang sangat menyayangi ibunya, jadi sudah sepantasnya dia tahu keadaan ibunya saat ini, ya.. walau Yun Yi masih belum Ingat tentang masa lalu nya.


"Lalu untuk pertanyaan kedua?" Yun Yi terlihat antusias menunggu jawaban dari Raja Xin.


"A-aku tidak tahu, aku tidak dapat menyimpulkan karena aku tidak mendengarnya langsung." Raja Xin menggeleng, tanannya terkepal, dan sedikit bergetar, ia terpaksa membohongi gadisnya.


"Benar juga sih." Kepala Yun Yi terangguk-angguk.


"Oh ya, apakah sekarang D-ewi Al-alam itu sudah di temukan?" Tanya Yun Yi, dengan susah apakah ia menyebut 'Dewi Alam'. Ia merasa lidahnya sangat susah menyebut kata itu.


'Kenapa lidah ku sangat berat?' Gumam nya dalam hati.


"Belum, dia masih belum di temukan." Mata Raja Xin menatap Yun Yi, sepertinya gadisnya ini belum mengingat masa lalunya.


...🔸️To Be Continued🔸️...