
Nging....
Kepala Yun Yi tiba-tiba terasa berat, Yun Yi memegang kepalanya, banyak potongan-potongan memori samar yang masuk ke kepalanya.
Wajah-wajah asing namun familiar bermunculan. Bahkan di dalam memori itu, ada beberapa adegan yang menampilkan Annchi dan beberapa gadis yang tengah tertawa sambil menarik tangannya.
Bruk
Tubuh Yun Yi terduduk, dengungan yang terdengar di kepalanya semakin nyaring. Dan semakin banyak memori-memori yang menyambung satu persatu.
"Dewi!" Semua orang panik, bahkan Báishé yang tadinya bersantai di dahan pohon kini turun dan mengubah dirinya ke bentuk manusia.
"Dewi-ku, Dewi." Báishé menahan bobot tubuh Yun Yi yang hampir jatuh terlentang.
Mata Yun Yi memburam, samar-samar ia melihat banyak wajah yang melihatnya dengan pandangan khawatir. Bahkan ada beberapa wajah yang cukup asing yang kini mengelilinginya.
Banyak gadis-gadis cantik dengan Hanfu berbeda-beda. Dan yang paling mencolok adalah gadis dengan Hanfu ungu.
Dan...gelap.
Mata Báishé membola ketika Yun Yi tak sadarkan diri. Tangannya terulur, menepuk pelan pipi kiri Yun Yi.
"Dewi."
"Dewi."
Sebarapa kalipun Báishé memanggil, Yun Yi tetap menutup matanya. Dan itu membuat Báishé gelagapan.
Báishé menatap Annchi. "Panggil tabib dari istana." Titahnya. Lalu setelahnya, Báishé menggendong tubuh Yun Yi, dan berlari masuk ke rumah sederhana itu.
Annchi pun berlari, tapi ia berlari ke arah sebaliknya, diikuti oleh Jendral Li, lalu mereka menghilang, mungkin pergi ke istana.
Sedangkan An She, kini masuk mengikuti Báishé.
Setelah Yun Yi di baringkan di peraduan, An She berlutut di samping peraduan. Tangannya mengepal ketika melihat keadaan wajah Yun Yi yang pucat.
"Báishé, apakah ini tanda bahwa Dewi mendapat sebagian ingatannya?" Tanya An She ketika darah segar mengalir dari hidung Yun Yi.
An She mengeluarkan sebuah kain dari balik lengan Hanfunya, lalu mengelap darah Yun Yi yang mengalir di pipi.
"Sepertinya...iya." Báishé menatap wajah Yun Yi yang terlihat tenang, seperti tidak merasakan sakit. Padahal tubuhnya dingin, wajahnya juga pucat, dan sekarang ada darah yang keluar dari hidungnya.
"Tapi kita jangan senang dulu, bisa saja ini hanya sebuah pertanda saja. Kita tidak tahu, apakah Dewi benar-benar mendapatkan sebagian ingatannya atau tidak." Tutur Báishé.
An She terdiam, ini pertama kalinya ia melihat kejadian sekarang Dewi yang kehilangan ingatannya. Selam beribu-ribu tahun ia hidup, baru kali ini ia melayani seorang Dewi yang memiliki takdir yang rumit seperti ini.
"Sampai saat ini aku masih merasa janggal, bagaimana bisa wanita itu mengetahui cara menghancurkan jiwa seorang Dewi, bahkan sampai bisa memecah belah ingatannya. Bahkan waktu itu, wanita itu berniat menghancurkan inti Kristal Dewi." An She menunduk, tangannya saling meremas. Selama bertahun-tahun ini, ia mencari informasi, bagaimana Shi Wen bisa tahu mengenai mantra penghancur jiwa seorang Dewi.
Setahunya, mantra penghancur jiwa Dewi ada dalam buku yang kini di sembunyikan keberadaannya, oleh Dewa tertinggi pada masa purba.
Lalu, bagaimana Shi Wen dapat mengetahui mantra itu. Bahkan Shi Wen mempraktekannya dengan sangat baik, seperi telah di latih oleh seseorang.
Sudut mulut Báishé terangkat sebelah, ia mendengus pelan, lantas berucap. "Sudah ku bilang, wanita itu pasti melakukan ini tidak hanya sendiri. Pasti ada orang yang lebih kuat dari Dewi-ku di balik punggungnya. Sangat tidak mungkin jika wanita itu melakukan semuanya sendiri, pasti ada seseorang yang elah merencanakan kejadian itu, dan sudah mempersiapkan semuanya sedari lama. Pertarungan itu sangatlah ganjil, semua orang tahu kalau Dewi-ku adalahsalah satu Dewi terkuat. Lalu bagaimana sekarang Dewi baru bisa mengalahkan Dewi yang lebih kuat darinya? Benar bukan?"
"Kita hanya bisa menunggu tabib istana. Dia adalah orang yang paling mengerti tentang ini." Ujar Báishé, sudah pasrah. Karena ia juga tidak tahu harus melakukan apa.
Báishé melangkah mendekati jendela, lalu menatap langit biru yang tidak berawan.
"Ini aneh, kemana perginya awan-awan di langit?" Gumam Báishé.
An She mendengar itu, ia pun bangkit setelah menyelimuti tubuh Yun Yi.
An She mendekati Báishé, berdiri di sampingnya. Matanya tertuju kelangit, melihat keanehan yang baru pertama kali ia lihat.
"Apakah ini perbuatan Bai Shi?" Terka An She.
"Bisa saja." Báishé mengangguk. Ini memang mungkin terjadi.
"Dunia manusia mungkin akan terguncang, pasti akan banyak keributan yang terjadi." Ujar Báishé.
"Itu sudah pasti."
Brak
Pintu kamar terbuka dengan kencang, seorang wanita dengan pakaian hijau yang di tangannya terdapat sebuah kotak kayu, kini berdiri dengan wajah yang sudah berlinang air mata. Nafasnya tidak beraturan, mungkin karena dia berlari.
"An She, di man Dewi-ku?" Wanita itu menatap kesana kemari, mencari keberadaan seseorang.
"Sebenarnya apa yang tengah kau cari, Shuan Si? Dewi kini tangga berbaring di sini." An She menunjuk Yun Yi yang terbaring di peraduan.
Wanita ber-Hanfu hijau, yang di panggil Shuan si itu mengerutkan alisnya. "Apakah ini tubuh baru Dewi-ku?" Tanyanya, entah pada siapa.
"Ya."
Mendengar jawaban An She, Shuan si segera berlari menghampiri Yun Yi. Tangannya segera memeriksa denyut nadi Yun Yi. Lalu setelah itu, tangannya terulur meraba kening Yun Yi.
Sebuah cahaya putih keluar dari jari-jari Shuan Si, memasuki kening Yun Yi.
Awalnya raut wajah Shuan Si terlihat tenang, tapi ketika memasuki menit pertama, kedua alis Shuan si bertemu, lalu tangan Shuan si bergetar.
"Argh!" Shuan Si menarik tanganny, di jauhkan dari kening Yun Yi.
"Shuan Si, ada apa?" An She menghampiri Shuan si yang terduduk di lantai dengan wajah syok.
"Ini aneh, di dalam kesadaean spiritual milik Dewi terus berubah-ubah. Lalu tadi... Ada cahaya ungu yang menyerangku dari sana. Dan itu menyakitkan." Tutur Shuan Si.
"Apanya yang menyakitkan?" Kini Báishé ikut dalam percakapan, dengan memberikan pertanyaan pada Shuan Si.
Shuan Si menarik nafasnya, ia bersila lalu menutup matanya, sambil berkata. "Cahaya itu menyerang jiwaku, bukan fisik atau dantian Ku. Cahaya itu memiliki kekuatan yang sangat luar biasa, bahkan sampai menghancurkan perisai roh yang ku pasang."
"Apa?!" Báishé dan An She berteriak secara bersamaa.
"Shuan Si, bukankah perisai yang kau pasang itu adalah perisai yang di ajarkan Dewa Agung secara pribadi? Lalu bagaimana perisai itu bisa hancur?"
...🔸️To Be Continued🔸️...