Reinkarnasi Sang Dewi Alam

Reinkarnasi Sang Dewi Alam
Kulit Unik milik Yun Yi


Jendral Huang menatap Tabib itu dengan serius, "Bagaimana keadaan putriku?"


Tabib itu menundukkan kepalanya, setelah kepalanya terangkat ia pun berbicara. "Untungnya Xiăo Jiě Huang segera di bawa kemari. Keadaan Xiăo Jiě Huang kini sudah lebih baik, hanya tinggal menunggunya sadar. Lalu ada beberapa luka yang cukup dalam, jadi ketika nanti lukanya kering harus di pakaikan salep untuk menghilangkan bekas luka."


Jendral Huang bernafas lega, tapi ketika melihat Tabib itu yang masih sedikit gelisah, alis Jendral Huang terangkat. "Apakah masih ada yang lain?"


"Begini, ini kali pertama saya menangani pasien dengan kulit unik seperti Xiăo Jiě Huang, ketika saya tengah memeriksa nadinya. Permukaan kulit Xiăo Jiě Huang sangat berbeda dengan kulit manusia biasa. Kulitnya termasuk ke dalam kulit yang unik, walau saat ini saya masih belum tahu kenapa bisa seperti itu. Tapi setahu saya, jika ada manusia yang bisa menaklukan Kekuatan Roh, maka akan terjadi seperti Xiăo Jiě Huang. Yaitu perubahan kulit, yang menyesuaikan diri dengan kemampuannya." Jelas Tabib itu dengan detail.


"Menurut buku yang pernah saya baca, kulit seperti itu tidak bisa di berikan herbal tingkat menengah ke bawah. Harus herbal dengan tingkat atas sampai ke atasnya, seperti tingkat dewa bahkan ilahi." Tabib itu kembali berucap.


Raja Xin sudah menebaknya kalau Yun Yi akan mengalami hal ini, kulit Yun Yi kini akan mulai semakin sensitif, tapi kulit Yun Yi yang sekarang sudah seperti tameng, Yun Yi akan menjadi kebal terhadap racun, bahkan serangan elemen pun tidak dapat melukainya. Itu hanya akan meninggalkan bekas merah saja, tapi tidak semua orang yang menaklukan Kekuatan Roh akan menjadi seperti ini. Jadi, Yun Yi adalah salah satu dari orang yang beruntung.


"Kah boleh pergi, masalah salep itu biar ku tangani." Ujar Raja Xin, mengusir tabib itu secara halus.


Tabib yang mengobati Yun Yi mengangguk, ia pun segera pergi dari sana. Walau Raja Xin sudah menarik tekanan tadi, tapi aura yang terpancar dari Raja Xin masih sangat menekan.


"Shen." Setelah Raja Xin berucap. Munculah Pria dengan Hanfu serba hitam. Dia berjongkok, lalu menekuk sebelah kakinya.


"Hamba siap menerima perintah." Ucap Shen.


"Pergilah ke istana, ambil kotak Xue dan juga tungku-ku." Titah Raja Xin. Mata Raja Xin sedari tadi tidak lepas dari pintu kamar penginapan Yun Yi.


Sebelum Shen pergi, Guang Luo berjalan menghampiri Raja Xin. "Kau tidak perlu mengambil Tungku mu. Yun Yi juga mempunyai tungku yang setingkat dengan milik mu." Ujar Guang Luo.


Raja Xin mengalihkan pandangannya, alisnya terangkat. "Apakah begitu?"


"Lihat saja ke dalam dunia ruang nya, aku yakin muridku itu menyimpannya di sana." Dengan senyum jenaka, Guang Luo berucap.


Tanpa mengatakan apapun. Raja Xin berbalik. "Shen hanya ambil Kotak Xue." Setelah mengucapkan itu, Raja Xin langsung menghilang di udara.


Melihat junjungannya yang sudah tak ada di tempat, Shen juga ikut menghilang, menjalankan perintah Raja Xin.


"Ku harap kau adalah orang yang tepat untuk murid ku." Guang Luo tersenyum, ia senang ketika Raja Xin ikut mengkhawatirkan Yun Yi.


Zisè yang sedang ada di dalam kamar, menjaga Yun Yi. Tersentak kaget, ketika ia merasakan ada orang yang memasuki dunia ruang. Awalnya dia panik, namun ketika merasakan kalau itu adalah aura Raja Xin, tubuh Zisè menjadi rileks kembali.


Sedangkan Raja Xin kini tengah tersenyum, entah kenapa ia merasa senang ketika memasuki dunia ruang milik Yun Yi. "Dia benar-benar menyukai bunga."


Di sekeliling Raja Xin, banyak sekali tumbuhan yang tumbuh subur. Apalagi bunga-bunga. Raja Xin terus melangkah, masuk ke dalam kastil milik Yun Yi.


Senyumnya kembali nampak ketika melihat pegangan tangga yang di rambati bunga anggrek yang tumbuh, tapi bukannya menghalangi pemandangan, justru dengan keberadaan bunga anggrek, tangga nampak seperti tangga seorang putri, sangat indah.


"Zisè, di mana Yun Yi menyimpan tungku miliknya?" Tanya Raja Xin.


Raja Xin segera berjalan ke bawah tangga. Dan terlihat banyak barang yang di susun di dalam kotak kaca.


"Cara menyimpan yang unik." Raja Xin bergumam.


Raja Xin segera membawa tungku porselen itu, "Aku tahu ini dari mana."


Wush


Raja Xin kini muncul di kamar Yun Yi, dan ternyata sudah banyak orang yang sudah menunggu Yun Yi sadar.


Bersamaan dengan itu, Shen juga muncul dengan sebuah kotak dengan sebuah lambang naga yang tengah memeluk sesuatu di bagian atas kotak.


"Raja." Shen menyodorkan kotak itu pada Raja Xin yang baru duduk.


Raja Xin meletakkan Tungku porselen milik Yun Yi di atas meja. Lalu mengambil kotak Yang di sebut Xue itu.


Jendral Huang menatap heran ke arah Raja Xin. "Kau akan membuat apa?" Tanya nya.


"Salep." Tanpa mengalihkan pandangannya, Raja Xin menjawab.


Tangan Raja Xin kini tengah sibuk memasukkan banyak herbal ke dalam tungku. Wajah Raja Xin terlihat biasa saja, beda halnya dengan orang-orang yang memeperhatikan Raja Xin.


Mereka semua menjatuhkan rahangnya ketika melihat herbal-herbal itu. Herbal yang ada di dalam kotak rata-rata memiliki tingkat Dewa, bahkan ada herbal dengan tingkat Suci dan ilahi. Dan ketika mereka melihat raut wajah Raja Xin yang nampak bisa saja, merasa merasa sangat kecil.


"Raja Xin, bukankah kau tidak perlu memasukkan herbal dengan tingkat ilahi? Masih ada herbal lain yang bisa di pakai seperti tingkat atas." Ucap Wang Lan. Ia merasa sayang kalau herbal tingkat ilahi seperti daun Siredan di pakai untuk membuat salep.


Mata Raja Xin menggelap, dia menatap Wang Lan dengan tajam. "Gadis ku harus di beri sesuatu yang bagus, bukan sesuatu dengan tingkat rendah seperti itu." Ucapnya. Auranya kembali membuat orang-orang merasa sesak.


"Uhuk."


Jendral Huang tersedak air liurnya sendiri, herbal tingkat atas hanya bisa di beli oleh bangsawan dengan pangkat Mentri ke atas. Dan para bangsawan pun menganggap herbal tingkat atas adalah herbal yang berharga. Tapi Raja Xin menyebutkan kalau herbal itu adalah tingkat rendah. Ugh, memang beda dari yang lain.


Mentri Gu segera menarik Wang Lan untuk menjauh dari Raja Xin. "Maafkan anak saya Raja Xin..." Sebelum Mentri Gu menyelesaikan ucapannya,


"Diam!" Raja Xin menatap Mentri Gu dengan dingin.


"Jangan berisik, gadisku terganggu." Mata Raja Xin kini mengarah ke peraduan, di sana Yun Yi terlihat menggeliat. Sepertinya Yun Yi tengah tertidur.


Setelah mendengar ucapan Raja Xin, kini ruangan menjadi hening. Sedangkan Raja Xin kembali melanjutkan pekerjaan nya, membuat salep untuk Yun Yi.


...🔸️To Be Continued🔸️...