Reinkarnasi Sang Dewi Alam

Reinkarnasi Sang Dewi Alam
Dunia Ruang


Sebuah suara terdengar begitu jelas di telinga Yun Yi. Ia berbalik, dan matanya membulat ketika melihat bola berbulu kecil berwarna Lilac, yang terbang se tinggi badan Yun Yi.


"Uwah! Apa ini?" Seru Yun Yi.


Dia menangkap bola ungu itu, "Sangat lembut." Yun Yi mendusel-dusel bola ungu itu ke hidungnya, lalu ke pipinya.


"Sangat nyaman." Gumam Yun Yi.


"Lepaskan aku." Suara anak kecil itu terdengar kembali. Yun Yi menatap sekeliling, namun tidak menemukan siapa pun.


"Apa aku salah dengar?" Duga Nya.


"Tidak, kamu tidak salah dengar. Yang berbicara itu aku, yang saat ini kau pegang." Suara tadi terdengar kembali, suara anak kecil.


Yun Yi menatap bola bulu yang ia pegang, lalu bergumam. "Gak mungkin."


"Ha-ha-ha, sepertinya aku mulai tidak waras." Yun Yi berucap di sertai tawa kaku.


Tiba-tiba bola itu terlepas dari genggaman Yun Yi, lalu cahaya ungu melintas di mata Yun Yi. Bola yang tadinya terbang dengan tubuh kecilnya, kini berubah menjadi anak perempuan yang sepertinya seumuran dengan Yu Lin, tujuh tahun.


Penampilan nya sangat imut, hanfu ungu yang begitu indah lalu sebagian rambut sebelah kirinya di ikat sebuah pita, sanagt menggemaskan.


Mata Yun Yi membola, di tatapnya anak itu dari atas sampai bawah. "Bagaimana mana mungkin?" Gumam Yun Yi. Ia sepertinya lupa kalau dunia yang sekarang di tempati adalah dunia yang jauh berbeda dengan tempatnya dulu tinggal.


Anak itu mendengus, "Huh. Bukankah di kehidupan sebelumnya kau ini pemimpin dari sebuah organisasi pembunuh bayaran. Kenapa reaksi mu seperti itu." Ujarnya mengejek Yun Yi.


Yun Yi sedikit kesal karena di ejek, namun ada sesuatu yang membuat nya terkejut. "Siapa kamu? Bagaimana kau bisa tau tentang masa lalu ku?" Yun Yi meng-introgasi.


Yun Yi menyipitkan matanya, menatap penuh rasa curiga pada anak di depannya ini.


"Kau sekarang adalah pemilik dunia ruang ini, dan aku sebagai penjaga tempat ini secara otomatis mendapat semua ingatan mu, termasuk masa lalu mu." Ucapnya.


'Dan ingatan yang telah kau lupakan.' lanjutnya dalam hati.


"Penjaga?"


Anak itu mengangguk, lalu berucap. "Kalau begitu beri aku nama." Pinta anak perempuan itu.


"Nama? Memangnya kamu tidak mempercayainya nama?" Tanya Yun Yi, heran.


"Tidak." Anak itu menggeleng.


Yun Yi berpikr sejenak, lalu.. "Kalau begitu aku akan memberimu nama Xiao Zisè." Ucap Yun Yi.


Xiao Zisè mengangguk, "Tidak buruk." Ucapnha, menerima nama yang di berikan Yun Yi.


"Kalau begitu Zisè bisakah kau mengajak ku berkelili?" Tanya Yun Yi.


"Tentu."  Zisè mengangguk.


Lalu Zisè berubah menjadi burung berwarna ungu yang begitu bersinar. "Naiklah ke punggung ku." Ucap Zisè.


Yun Yi terdiam sesaat, mengagumi bulu indah milik Zisè. Lalu ia pun naik ke punggung Zisè.


"Kau akan membawa ku kemana?" Tanya nya.


"Ke kastil yang berada di puncak sana." Sahut Zisè.


Yun Yi melihat ke depan, di mana banyak sekali bunga-bunga yang tumbuh. Namun yang paling mendominasi adalah bunga berwarna ungu, daei mulai Lavender, Bellflowers, Clematis sampai Hydrangea.


Zisè tersenyum, walau tak terlihat karena wujudnya yang sperti ini. 'Di tiga kehidupan kau masih tetap menyukai bunga Wisteria, yah, Dewi.' batin Zisè.


"Zisè setelah dari kastil boleh kah kamu menemaniku bermain di ladang bunga nanti?" Tanya Yun Yi.


"Tentu. Aku akan menemanimu." Zisè setuju.


Tiba di kastil, Yun Yi di ajak berkeliling. Kastil ini sangat luas, ada perpustakaan, gudang harta, gudang senjata dan ada juga tempat penelitian, alias lab. Yun Yi senang karena punya lab di sini, ya walau lab nya versi kuno.


Setelah puas berkeliling, seperti yang di rencanakan, Yun Yi dan Zisè pun bermain di ladang bunga. Yun Yi langsung berlari meninggalkan Zisè ketika dirinya melihat bunga Wisteria yang tumbuh lebat.


"Wah... Ladang ini benar-benar indah. Aku akan sangat betah berlama-lama di sini." Ujar Yun Yi.


Ia mendudukkan dirinya di bawah pohon dengan daun rindang. Sedangkan Zisè duduk tak jauh dari Yun Yi.


"Zisè tadi kau bilang dunia ruang ini di ciptakan dari era purba, apakah itu benar?" Tanya Yun Yi, mengutarakan rasa penasarannya.


"Ya itu benar, era di mana semua mahluk masih bisa pergi kemana saja, seperi ke alam siluman ataupun alam atas. Era sebelum peperangan antar alam." Jelas Zisè.


Yun Yi menganggukan kepalanya, lalu berucap. "Pantas saja Qi spiritual nha begitu murni."


"Kau baru memasuki dunia ini saja sudah begitu kagum, apalagi akalu memasuki dunia ruang milik tunanganmu." Zisè tersenyum, dia masih ingat hari itu ia di temukan oleh Raja Xin di dunia bawah, tempat para iblis tinggal.


Zisè merasa bersukur, ia tidak jatuh ke tangan para iblis. Dia benar-benar berterima kasih karena Raja Xin sudah membawanya pada Yun Yi.


"Hei! Kenapa kamu malah melamun." Yun Yi melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Zisè.


"Ah. Tidak apa-apa."


"Aku bertanya kepada mu, memangnya dunia ruang milik A'Guang sehbat apa?" Tanya Yun Yi, penasaran kenapa Zisè terlihat sangat memuja Raja Xin.


"Cincin ruang milik nya adalah cincin terbaik di seluruh alam. Termasuk alam para dewa dewi. Bahkan penjaga cincin itu seekor naga." Ujar Zisè.


"Naga? Maksudmu Naga yang di tulis dalam buku sudah punah itu?!" Seru Yun Yi, kaget.


"Tidak, Naga tidak punah. Mereka hanya menyembunyikan diri dai para manusia." Ucap Zisè.


Zisè memiringkan tubuhnya, "Aku beritahu ya, Raja Xin mempunyai dua Naga." Ucapnya.


"Dua?!" Sepertinya hari ini Yun Yi sering di buat kaget oleh Zisè.


"Benar. Hewan kontraknya adalah Naga api biru. Naga yang paling sulit di taklukan." Ujar Zisè. Ia teringat akan pertemuan nya dengan Naga api biru, waktu itu ada manusia daei alam atas yang meinta Naga api biru untuk menjadi hewan kontrak, tapi dengan keras Naga api biru menolaknya.


"Sepertinya aku harus meminta A'Guang membawa ku ke dunia ruang nya." Yun Yi menarus tangannya di bawah dagu, lalu kepalanya mengangguk-angguk.


"Ah! Barang-barang itu juga harus ku tagih." Yun Yi berseru ketika mengingat janji Raja Xin beberapa hari yang lalu.


Zisè hanya mengangguk, tanpa berniat menyahuti majikannya itu. Zisè teringat satu hal.


"Xiăo Jiě, bukan kah kamu akan membalas dendam pada orang yang selalu menyakiti pemilik tubuh asli?" Tanya Zisè.


"Ya.. tadinya begitu. Tapi sekarang, Ke dua selir itu sudah tidak ada. Kalau untuk Huang Mei Yan dan Huang Min An, kurasa mereka akan ku maafkan. Tapi, kalau mereka berbuat jahat lagi padaku, aku akan membalasnya dengan lebih." Ucap Yun Yi, menjelaskan semuanya.


"Lalu bagaimana dengan Tetua Ji Ge?"


...🔸️To Be Continued🔸️...