Reinkarnasi Sang Dewi Alam

Reinkarnasi Sang Dewi Alam
Apakah ini adalah aku?


"Shi Wen, mengapa kamu begitu membenciku? Kesalahan apa yang Ku perbuat sehingga membuatmu begitu membenciku?"


"Kesalahan? Kesalahanmu adalah terlahir dengan bakat sempurna, lalu wajah mu juga begitu sempurna bahkan semua yang ada di dirimu begitu sempurna. Sampai-sampai membuat orang yang seharusnya menjadi milikku malah berlatih kepadamu!"


"Apakah ini karena Dewa Laut? Jika memang benar, aku tidak pernah tertarik padanya. Aku..."


"Tidak usah berbicara, lebih baik kita selesaikan ini dengan cepat."


Wushh


"Aahh.."


Yun Yi menutup mulutnya ketika magma merah itu mengenai wanita ber-Hanfu hijau-ungu.


"Dewi, entah anda sudah ingat dengan kejadian ini atau tidak. Namun, ini adalah salah satu kejadian yang terekam Kristal pengintai milikku. Waktu itu, jika aku memeriksa kristal pengintai tepat waktu, mungkin anda tidak akan pergi dari dunia ini." Bai Shi berucap dengan kepala menunduk.


"Apakah ini adalah aku?" Tangan Yun Yi menunjuk wanita ber-Hanfu hijau-ungu yang membelakangi layar.


"Ya, itu anda." Bai Shi mengangguk.


"Tapi, kenapa walau setelah aku melihat rekaman ini, aku tidak mendapatkan ingatan apapun?"


Bai Shi awalnya terdiam, tapi kemudian dia berkata. "Terkadang, ingatan seorang Dewi atau Dewa yang hilang, akan di ingatnya ketika ingatan itu benar-benar di rasa penting bagi Dewi atau Dewa itu. Dan jika anda tidak mengingat kejadian ini, itu artinya jiwa anda tidak menganggap bahwa kejadian itu penting, atau tidak harus di ingat."


"Itu yang saya ingat dari penjelasan seorang petapa langit." Lanjutnya.


"Jika kejadian itu tidak penting, lalu kejadian apa yang paling penting menurutku?" Tanya Yun Yi pada dirinya sendiri.


Bai Shi yang mendengar itu tersenyum kecil. "Seingat saya, sepanjang hidup anda, anda selalu mementingkan orang-orang di sekitar anda. Apalagi jika orang itu di anggap penting bagi anda sendiri."


"Orang yang penting bagi ku?" Bayangan wajah Raja Xin dan beberapa bawahannya dulu terlintas di kepala Yun Yi.


Ngiiiikkk


Telinga Yun Yi terasa berdenging, tiba-tiba wajah seseorang terlintas di kepalanya.


"An She." Air mata Yun Yi perlahan luruh, dia hampir saja melupakan satu-satunya peri yang selalu ada di sampingnya sedari ia bayi.


"An She, aku harus mencari An She." Yun Yi berbalik, ia segera berlari meninggalkan Bai Shi.


Senyuman Bai Shi semakin melebar, bahkan matanya menjadi menyipit. "Peri kecil itu selalu di ingat Dewi-ku, dia adalah mahkluk palin beruntun di dunia ini. Apalagi anak Naga dari Dewa Kehancuran, dia adalah yang paling beruntung di antara yang paling beruntung, kerena dia menjadi seseorang yang di cintai Dewi-ku selain Dewi cahaya."


Yun Yi terus berlari, ingatan demi ingatan tentang An She bermunculan di kepalanya. Dulu, ia dan An She selalu bermain di wilayah Bai Shi, ia ingat tempat tadi adalah tempat pertama baginya dan An She menginjakkan kaki.


Ia dan An She selalu bermain sampai istana awan. Di dekat istana awan ada gerbang yang menuju langsung ke istana nya, dan juga desa yang ia dirikan dulu, yaitu desa Aidelwis.


"An She tunggu aku."


Senyum Yun Yi melebar ketika menemukan gerbang kecil yang ia cari. Namun, sebelum dirinya mendekat ke gerbang itu, sebuah sulur besar menghalangi jalannya.


"Pergi, jangan halangi jalanku." Titah Yun Yi pada sulur itu.


Namun, sulur itu tetap diam. Dia masih berdiri tegak di hadapan Yun Yi.


"Ku bilang pergi." Perlahan muncul rasa marah di hati Yun Yi. Dirinya ingin segera bertemu An She, tapi sulur besar ini malah menghalangi jalannya.


"Kenapa kamu tetap diam di situ. Apa kamu tidak tahu siapa aku?! Aku Xiao Sui, Sang Dewi Alam. Jadi seharusnya kamu mematuhiku!"


"Kamu membuatku semakin marah." Geram Yun Yi.


Sebuah sayap hitam tiba-tiba muncul di punggung Yun Yi, mata nya perlahan berubah-ubah. Kadang berwarna biru gelap, namun terkadang ungu gelap.


Angin berembus kencang, menerbangkan helaian rambut Yun Yi. Menampakkan tanda bunga anggrek yang ada di belakang telinga Yun Yi. Anggrek abg tadi ya berwarna merah muda, kini berubah menjadi hitam.


Tangan Yun Yi terangkat. Sebuah sulur tajam keluar dari ujung jari Yun Yi. "Kau sangat berani mengahalngi jalanku!"


Srtt


Sulur tajam itu dengan cepat menyerang sulur besar yang menghalangi gerbang indah yang menuju Desa Aidelwis.


Ctass


Ctass


Kedua sukur dengan kekuatan yang sama beradu dengan sengit. Sulur besar yang tidak ingin pergi dari sana. Dan Yun Yi yang ingin menyingkirkan sulur besar itu.


Tanpa Yun Yi sadari, sebuah bunga Lili besar tumbuh di belakangnya. Bunga Lili itu mekar, dan secara cepat melahap tubuh Yun Yi.


Maa Yun Yi membulat ketika drinya secara tiba-tiba berada di dalam bunga putih yang sangat besar.


Ia mengeluarkan sebuah belati, entah dari mana. Yang jelas, belati itu belum pernah ia gunakan sebelumnya, dan berlari iu bukan belati yang ia belu atau yang di berikan Neneknya, Guan Yin.


Sring


Srtt


Sring


Yun Yi terus menebas kelopak bunga Lili putih itu. Tapi sekuat apapun, dan sebesar apapun Qi spiritual yang ia gunakan, kelopak iu tidak tergores sediitpun.


"S****n!" Tanpa berniat menyerah sedikipun, Yun Yi terus menyerang kelopak itu.


"Dewi."


Yun Yi menghentikan serangannya ketika mendengar suara yang terasa familiar di telinganya.


Kepala ha mendongak, ia menatap keluar kelopak bunga. Di bawah sana, An She berdiri bersama dengan Zi Yui. Wajah An She terlihat sangat sedih, namun juga ada kekecewaan di matanya.


"Sui'er, mengapa kamu menjadi seperti ini? Mengapa kamu membiarkan sisi gelapnya menguasai seluruh jiwa mu?" An She menunduk, air matanya mengalir. Tak alam kelapanya kembali terangkat.


"Seharusnya kamu melawannya, seharusnya kamu jangan membiarkan sisi gelap itu mengauasi jiwamu." An She Kembali berucap. Sebuah kekecewaan semakin nampak di wajah An She.


"Seharusnya kamu melawan sisi gelap itu, jangan membiarkan sisi gelap itu menguasaimu. Tapi, mengapa kamu seolah-olah menerimanya begitu saja. Apa yang salah dengan dirimu?" Air mata An She turun semakin deras.


Yun Yi menggelengkan kepalanya, dia tidak pernah membiarkan sisi gelapnya menguasai jiwanya. Semua perkataan An She salah.


"An She aku tida.."


"Apanya yang tidak? Jika memang benar tidak, lalu kenapa kamu dengan teganya melupakan kami? Kamu adalah bawahanmu yang Ling setia, bahkan ada beberapa dari kami yang mengorbankan hidup kamu sendiri. Lalu mengapa kamu malah diam?! Mengapa kamu tidak membalaskan semua derita kami pada Dewi serakah itu?! Menga..."


"Kamu bukan An She."


...🔸️To Be Continued🔸️...