
"Meminta seseorang untuk menemaniku pergi ke Klan Naga biru. Aku mengenal seseorang yang bisa keluar masuk ke dalam wilayah Klan Naga biru dengan bebas." Tutur Yun Yi.
Peramal Yin mengangguk-anggukan kepalanya. "Kalau memang ada kenalan anda yang sudah biasa kelaur masuk wilayah Klan Naga biru, itu bagus. Anda mungkin dapat pergi ke sana dengan muda jika bersamanya."
"Ya. Kalau begitu, aku akan kembali."
Yun Yi bangkit dari duduknya, di ikuti oleh peramal Yin.
"Saya hanya bisa mengantar anda sampai di sini." Ujar peramal Yin, berada tak jauh dari pintu rumahnya.
Yun Yi mengangguk. "Baiklah, tolong awasi para bintang saja."
Yun Yi mulai meninggalkan wilayah asri itu, kini dirinya mulai memasuki wilayah istananya. Ketika akan kembali ke kediamannya, Yun Yi mendengar suara bising dari arah aula utama.
"Ada apa di sana?" Dengan penuh tanya, Yun Yi melangkah ke aula utama. Mata Yun Yi melebar ketika melihat halaman aula utama begitu berantakan.
Ketika melihat seorang laki-laki yang nampak familiar di matanya, Yun Yi mendengus kesal. "Pantas saja."
Dengan tenang, tangannya terangkat, tanaman di sekitar Yun Yi bergoyang. Lalu ketika Yun Yi meluruskan tangannya, banyak sulur-sulur dengan bunga mawar yang mulai mengelilingi seorang laki-laki.
Sring
Sring
Laki-laki itu mencoba menebas sulur-sulur itu, tapi hasilnya nihil. Sulur-sulur yang di buat Yun Yi begitu kuat, pedang dengan tingkat ilahi saja tidak dapat menggoresnya.
*Tingkat pedang terbagi menjadi tujuh, yaitu :
Biasa
Spiritual
Jiwa
Roh
Dewa
Suci
Ilahi
Dengan gerakan kecil, Yun Yi berhasil mengikat laki-laki yang sudah mengacau di istananya.
"Sepertinya, junjunganmu terlalu meremehkan ku dengan mengirim roh petir seperti dirimu." Yun Yi menghampiri Ru-an, salah satu bawahan setia dari Dewi Bencana, Dewi yang begitu membenci dirinya.
Mata Ru-an membulat ketika merasaka aura kuat yang menguar dari Yun Yi. 'Kekuatannya kembali?!' Batin Ru-an bertanya-tanya.
"Ya, benar. Kekuatan ku mulai pulih kembali. Walau tidak pulih sepenuhnya, tapi aku dapat dengan mudah melawan Junjungamu." Ucap Yun Yi setelah mendengar suara batin Ru-an.
Yun Yi mendengus ketika melihat raut wajah terkejut yang di tampilkan Ru-an.
"Sepertinya junjunganmu mengira kalau kekauaan atau kemampuan yang aku miliki tidak akan kembali, benar begitu?"
Tepat, dugaan Yun Yi memang benar. Semuanya terlihat jelas dari mata Ru-an yang nampak bergetar.
"Huh!" Yun Yi mendengus, rasa kesal timbul di dadanya.
Sepertinya Dewi itu masih sangat gigih dengan niat untuk menyingkirkannya. Apakah wanita itu tidak takut kalau dirinya membalas semuanya berkali-kali lipat.
"Sepertinya, aku harus membuat peringatan untuknya." Yun Yi menyeringai ketika mendapat sebuah ide. Dirinya menatap Ru-an dengan tajam, seperti seseorang yang menemukan mainannya.
"Kebetulan, aku belum tahu seberapa kuat kekuatan yang di berikan leluhur. Mungkin, aku bisa mencobanya pada laki-laki ini, sekaligus memberikan peringatan pada wanita itu." Gumam Yun Yi di sertai senyuman.
"Baiklah, mari kita coba."
...> > > ✧✧✧ < < <...
Shi Wen kini tengah bermeditasi di kediamannya. Suasana ruangan ini begitu tenang, dan damai. Sampai tiba-tiba...
Bruk
Sesuatu seperti terjatuh terdengar dari depan ruangan meditasi imilk Shi Wen. Suara itu cukup kencang, sehingga membuat Shi Wen merasa terganggu.
"Siapa yang berani mengganggu ketenangan Dewi ini?!" Dengan penuh kemarahan, Shi Wen turun dari kersi gio yang ia duduki.
Brak
Lalu membuka pintu dengan kasar. Ketika tidak melihat apapun di depannya, Shi Wen mengerutkan keningnya. Namun ketika pandangannya jatuh ke bawah, seketika pupil mata Shi Wen melebar.
"Ru-an?!"
Shi Wen menatap aneh ke arah bawahannya itu, yang meringkuk di lantaisambil memgang sebelah tanganny. Shi Wen tidak tahu kenapa dengan tangan laki-laki itu, karena tertutup oleh Hanfu.
"Ada apa denganmu? Mengapa datang dengan seperti ini, di mana sikap hormatmu pada ku?!"
Ru-an sedikit mendongak, wajahnya putihnya sangat merah, dia nampak kesakitan, dengan terbata-bata dia berkata. "D-dewi-ku, d-dia telah pu-pulih. Wa-wanita itu, t-elah memili-ki kekuatannya l-lagi."
"Apa maksudmu? Siapa yang pulih? Wanita... wanita mana yang kamu maksud?" Shi Wen mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan maksud dari perkataan Ru-an.
Dirinya berjongkok di samping Ru-an dan hendak memegangnya, namun sebelum itu terjadi.
"Ja-jangan!" Dengan panik Ru-an menggeser tubuhnya, menjauh dari Shi Wen.
"Hei! Sebenarnya kamu kenapa? Mengapa begitu aneh." Shi Wen berteriak, ia merasa kesal.
"Dewi, le-lebih baik anda m-memanggil orang la-lain untuk membantuku. A-anda jangan menyentuh saya." Tutur Ru-an. Dengan susah payah dirinya mencoba untuk duduk, lalu kembali bergeser untuk menjauh dari Shi Wen.
Walau tidak mengerti mengapa, Shi Wen dengan kesal menurut. "Kau kemari!" Panggilnya pada salah satu penjaga.
Penjaha itu dengan cepat menghampiri Shi Wen. Setelah memberi hormat, penjaga itu bertanya. "Apa yang bisa saya lakukan, Dewi?"
"Bantu dia." Shi Wen menunjuk Ru-an yang terengah-engah di lantai.
Penjaga itu segera menghampiri Ru-an, lalu memapahnya.
"Ikuti aku."
Shi Wen berjalan di depan, dirinya melangkah dengan dagu terangkat. Namun, baru saja beberapa langkah,
Bruk
Sebuah suara seperti sesuatu yang jatuh, terdengar dari belakangnya. Denan perasaan jengkel Shi Wen berbalik, namun ketika melihat penjaga yang kini tergeletak di lantai dan Ru-an yang terduduk di sampingnya, Shi Wen mengertukan alisnya.
"Ada ap.." Shi Wen tidak dapat melanjutkan ucapannya ketika Ru-an menggeser kan tubuhnya ke samping.
Menampilkan kondisi penjaga itu yang membuatnya terkejut. "Ini..."
Penjaga itu terbaring dengan tangan yang mulai di tumbuhi sebuah bunga rambat yang baru ia lihat untuk pertama kalinya. Bunga itu semakin merambat ke atas tangan penjaga tersebut, dan mulai menyebar ke seluruh tubuhnya.
"Bukankah ini..." Shi Wen teringat dengan kejadian di masa lalu, saat dirinya tengah melawan Xiao Sui. Xiao Sui juga memilik jururs seperti ini, namun penyebarannya tidak secepat ini.
Bunga yang merambat di tubuh penjaga itu seperti menyerap semua darah milik penjaga tersebut, sehingga membuat kulitnya kering keriput dan pucat, seperti mayat.
"Dewi, wanita itu... sepertinya telah mendapatkan kekuatan baru, it... Uhuk, uhuk." Ru-an terbatuk, bahkan sampai mengeluarkan darah.
Shi Wen yang melihat itu semakin melebarkan matanya. Sebagai seorang junjungan, dirinya dapat mengetahui, kalau luka yang di alami Ru-an adalah luka internal yang cukup parah.
...🔸️To Be Continued🔸️...