
"Kalau tidak salah julukannya adalah tabib suci. Namun, Mengani keberadaanya...aku tidak tahu." Ujar Wei Zi.
"Tabib suci..." Shuan Si merasa pernah mendengar nama itu, tapi.. kapan yah?
"Tabib suci ini, seorang wanita atau pria?" Tanya Shuan Si.
"Wanita, dia adalah wanita cantik dengan rambut ungu lembut, dan mata abu tua." Sahut Wei Zi, menjabarkan ciri-ciri tabib suci yang di maksud.
Shuan Si terdiam, dari ciri-ciri yang di sebutkan Wei Zi, sepertinya ia pernah melihat orang seperti itu kemarin.
"Kemarin..?" Alis Shuan Si teratur, ia memutar otaknya, mencari ingatan tentang hari kemarin.
Pupil mata Shuan Si melebar ketika mengingat seorang wanita yang di tolong ya sore kemarin.
"Aku tahu tabib itu ada di mana sekarang." Seru Shuan Si dengan wajah berseri.
Wei Zi seketika bangkit dari duduknya. "Di mana?!" Tanyanya dengan suara kencang, wajah Wei Zi begitu cerah, seolah mendapatkan satu teguk air di tengah-tengah Padang pasir.
"Di penginapan ibu kota Kerajaan Xin."
Setelah mendengar jawaban dari Shuan Si, Wei Zi dengan cepat membawa Shuan Si keluar.
An She yang duduk di kursi yang ada di tengah ruangan menatap ke dua wanita itu dengan penuh tanya.
"Kalian hendak kemana?" Tanya An She.
"Kamu memiliki sebuah keperluan, jadi tolong jaga Dewi sebentar saja." Wei Zi beruap cepat, ia masih menyeret Shuan Si untuk mengikutinya.
An She hanya menatap mereka dengan datar. "Wei Zi dengan tingkah anehnya kembali lagi." Gumamnya.
An She berbalik, hendak pergi ke kamar Yun Yi, ingin menjaga Dewi-nya dari dekat.
Langkah An She terhenti sejenak, lalu bergumam. "Eh? Sepertinya aku melupakan sesuatu?"
An She menghendikkan bahunya, lalu masuk ke dalam kamar Yun Yi. Dan betapa terkejutnya dia, melihat Báishé yang kini tergeletak di tanah dengan wujud ularnya.
"Báishé?" An She menghampiri Báishé, lalu membawa tubuh Báishé ke dalam genggamannya.
"Bagaimana kamu bisa seperti ini?" Báishé dengan wujud ularnya tidak merespon, matanyapun tertutup, dia sepertinya tertidur dengan lelap.
"Bagaiaman kamu bisa tidur di saat-saat seperti ini?" An She membawa Báishé, lalu meletakkannya di sebuah keranjang bambu yang sudah di lapisi kain.
"Untuk sementara ini kamu diam di sini." Ketika An She berbalik, ia kembali terkejut. Di sebrang sana Zi Yui berdiri tegak dengan wajah suram sambil bersedekah dada.
"Zi Yui? Sejak kapan kamu ada di sini?" Tanya An She.
Mendengar pertanyaan An She, wajah Zi Yui semakin suram. Lalu berkata, "Kenapa? Apa kamu tidak suka jika aku ada di sini? Apa aku mengganggu waktumu untuk bersentuhan dengan ular itu?"
Zi Yui menatap Báishé yang tengah tertidur dengan mata tajamnya, lalu menatap An She yang memasang wajah bingung ke arahnya.
Untuk beberapa saat An She menatap Zi Yui, lalu beralih ke arah Báishé dan kembali lagi ke arah Zi Yui. Setelah memahami keadaan, An She hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Oh, ayolah. Aku hanya membantu Báishé saja, kenapa kamu malah kesal seperti itu."
Zi Yui semakin kesal, kekasihnya ini selalu saja begini, tidak bisakah bersikap manis padanya walau hanya sekali.. saja.
Melihat Zi Yui yang hendak protes, An She lebih dulu menyelanya. "Sudah sudah, nanti saja protesnya. Sekarang jawab pertanyaan ku, kenapa kamu datang kemari?"
Zi Yui masih setia dengan kekesalannya, ia menatap An She dengan bibir mencebik. "Apakah tidak boleh jika aku menghampiri kekasihku?"
"Zi Yui... Sekarang bukan saatnya untuk seperti ini, jadi jawab pertanyaanku dengan benar." An She memgang kepalanya yang mulai memanas, ikut merasa kesal.
Ketika mendengar nada bicara An She yang sudah mulai kesal, Zi Yui hanya bisa pasrah. "Baiklah. Sebenarnya aku kesini ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting."
Merasa perbincangan ini akan lama, An She duduk di samping peraduan Yun Yi, lalu menatap Zi Yui dengan wajah serius.
'Ugh, jika dia memasang wajah seperti itu, aku bisa-bisa tidak fokus.' Zi Yui menghela nafasnya, mengatur denyut jantung yang berdetak kencang.
"Huft, jadi begini. Satu dupa yang lalu, Annchi dan Jendral Li kembali ke istana. Mereka mencari Tabib Shuan, dan ketika tabib Shuan sudah pergi. Awalnya aku, Annchi dan Jendral Li akan menyusul Tabib Shuan. Tapi entah bagaimana, tiba-tiba Annchi tergeletak begitu saja. Namun bukan pingsan, melainkan tertidur." Zi Yui menjeda ucapannya, ia lalu duduk di depan An She.
"Lalu, Jendral Li membawa Annchi pergi ke ruang kesehatan, dan aku-pun ikut. Namun, setelah di periksa, tabib istana mengatakan tidak ada keanehan apapun yang terjadi pada Annchi. Lalu, baru saja Annchi selesai di periksa. Peri-peri yang tinggal di istana mengalami hal yang sama, dan itu membuat istana gempar. Bahkan, beberapa waktu setelahnya, hewan-hewan roh-pun mengalami hal yang sama juga. Ketika istana dalam keadaan kacau, tiba-tiba ada seorang wanita tua yang masuk ke dalam istana entah lewat mana. Wanita itu berkata, Dewi-ku sedang menerima berkah, dan berkah itupun terbagi pada seluruh ciptaan dan mahluk yang di cintai Dewi-nya."
"Lalu setelah mengucapkan itu, wanita tua itu tiba-tiba menghilang, aku maupun Jendral Li tidak paham dengan maksud dari ucapan wanita itu. Dan yang paling aneh adalah, sebuah array kini tercipta melingkupi istana, bahkan desa Aidelwis. Dan aku juga mendapatkan kabar, bahwa hal ini juga terjadi di istana bawah." Jelas Zi Yui panjang kali lebar.
Mendengar penjelasan Zi Yui, An She dapat menyimpulkan satu hal, bahwa...
"Aku juga mungkin akan tertidur seperti peri yang lainnya. Apakah ini alasan mu yang lain menghampiriku ke sini?" Tanya An She.
Zi Yui mengangguk. "Tebakanmu benar. Aku segera datang ke sini karena takut akan terjadi sesuatu yang buruk. Tapi, ketika aku datang, kamu ternyata baik-baik saja, bahkan kamu tidak tertidur seperti peri yang lainnya. Jadi, sepertinya perkiraan ku salah."
Bruk
Baru saja Zi Yui menyelesaikan ucapannya, wanita di depannya yang tadinya tengah mendengarkan dirinya berbicara, kini terbarik di lantai dengan mata tertutup dan nafas yang beraturan.
"An'er?" Zi Yui menepuk-nepuk pipi An She pelan, namun tidak mendapati respon darinya.
Zi Yui tersenyum, lalu bergumam. "Ternyata perkiraanku benar."
Dia menatap An She yang tertidur dengan wajah tenang, lalu memangku nya. "Kecantikanmu selalu bertambah berkali-kali lipat ketika tertidur seperti ini."
Zi Yui menggendong An She, lalu berjalan ke sebuah kursi panjang ia menidurkan An She dengan pahanya sebagai bantalan.
"Tunggu dulu, bukankah Wei Zi juga ada di sini? Lalu kemana iblis itu sekarang?" Mata Zi Yui bergulir, mencari keberadaan salah satu bawahan setia dari junjungan kekasihnya.
"Atau apakah dia juga tertidur di suatu tempat?" Gumamnya.
...🔸️To Be Continued🔸️...