Reinkarnasi Sang Dewi Alam

Reinkarnasi Sang Dewi Alam
Kita?!


"setengah dunia?!" Yun Yi memekik kaget.


Jika Dewi dengan tingkat bawah saja sudah bisa menguasai setengah dunia, lalu bagaimana dengan Dewi paling tinggi.


"Minum ini dulu." Raja Xin menyedorkan se gelas air pada Yun Yi.


Yun Yi menerimanya, ia pun menegaknya sekaligus, terlalu haus. Keningnya mengkerut ketika ada sesuatu yang manis yang mengalir bersamaan dengan air. Yun Yi mendongak menatap Raja Xin penuh tanya.


Raja Xin tersenyum, ia mengerti mengapa Yun Yi menatapnya seperti itu. "Aku menambahkan sedikit Sari bunga yang di hasilkan Jú huā." Jelas Raja Xin singkat.


"Sari bunga? Untuk apa kamu menambahkan nya?" Yun Yi menatap heran ke arah Raja Xin.


"Biar aku jelaskan sedikit." Raja Xin mengambil kursi lalu duduk di menyamping ke arah Yun Yi. "Jika Jú huā sedang dalam keadaan bahagia, jantung-nya, yaitu bunga Krisan yang hidup di dunia ruang-ku akan menghasilkan sari yang memiliki berbagai fungsi, salah satunya adalah mengembalikan energi tubuh seseorang, mau itu emergi spiritual atau lainnya." Raja Xin menjeda ucapannya, ia mengambil segelas air lalu menegaknya.


"Lalu ketika Jú huā sedang dalam suasana hati buruk, seperti sedih atau marah, jantungnya akan menghasilkan racun. Racun yang di hasilkan Jú huā tidaklah menentu, kadang ia menghasilkan sari kematian, atau malah ia akan menghasilkan serbuk aneh. Jika serbuk ini terkena tanahmaka akan tumbuh bunga beracun yang sampai saat ini aku maupun Jú huā tidak tahu tanaman seperti apa itu." Jelas Raja Xin panjang kali lebar.


Mata Yun Yi sedari tadi berbinar ketika Raja Xin berkata 'Racun'. "Bolehkah aku meneliti tanaman itu?" Tanya Yun Yi.


Mendengar nada antusias dari Yun Yi, Raja Xin tersenyum. Ia mengusap puncuk kepala Yun Yi. "Tentu saja. Besok juga bahan dan peralatan yang kau minta sudah ada." Raja Xin tentu saja mengangguk, apa yang membuat Yun Yi senang selalu membuat hatinya juga senang.


Suasana hati Yun semakin membaik ketika mendenga ucapan Raja Xin. Ah.. akhirnya ia bisa meneliti lagi seperti dulu.


"Kalau begitu kita lanjutkan ke tahap selanjutnya." Raja Xin menghadap ke arah Yun Yi, wajahnya berubah menjadi datar dan tegas.


"Pertama-tama, arahkan kekuatan roh mu ke kepala, lalu pusatkan di kening. Setelah itu bayangkan tubuh mu berpindah ke dekat lemari itu." Yun Yi menunjuk lemari dekat jendela, di belakang Yun Yi.


Alis Yun Yi terangkat satu, "Apakah hanya begitu saja?" Yun Yi bertanya akibat penjelasan Raja Xin yang begitu singkat.


"Ya." Raja Xin mengangguk.


Yun Yi pun mulai mempraktekkan nya. Dan...


Shh..


Yun Yi merasa ada hembusan angin yang menerpanya, ketika matanya terbuka... Senyum Yun Yi melebarkan senyumannya.


"Aku bisa." Gumam Yun Yi.


Raja Xin menghampiri Yun Yi yang masih terdiam sambil terus bergumam. "Kamu hebat." Raja Xin mengusap puncuk kepala Yun Yi dengan perasaan bangga.


Biasanya jika ia mengajari orang teleportasi, mereka selalu saja gagal. Namun, Yun Yi, ia baru menvobanya satu kali, tapi dia sudah bisa. Benar-benar berbakat.


"A'Guang, aku bisa melakukannya." Ucap Yun Yi ketika Raja Xin sudah ada di depannya.


"Ya, aku tahu." Raja Xin mengangguk.


"Kau senang?" Yun  Yi menganggukkan kepalanya.


"Sangat senang." Seru Yun Yi.


"Baiklah, karena sekarang sudah semakin larut, mari kita tidur." Raja Xin menarik Yun Yi.


Yun Yi terdiam, "Kita?!"


...> > > ✧✧✧ < < <...


"Apakah kalian sudah lama di sini?" Tanya Yun Yi. Mereka pun berjalan ke bawah.


"Tidak juga." Min An menggeleng.


"JiěJiě, JiěJiě." Yu Lin mengacungkan sebelah tangannya.


"Ada apa?" Tanya Yun Yi.


"Hari ini kan kita belum salapan, jadi bagaimana kalau kita yang memasak. Sambil mengajarkan kami." Ucap Yu Lin.


Yun Yi pun mengangguk setuju. Mereka pun pergi ke dapur. Mulai menyiapkan bahan-bahan untuk memasak.


Seperti janjinya, Yun Yi mengajari Yu Lin dan Min An untuk memasak. Kali ini Yun Yi ingin memasak sesuatu yang sederhana saja, yaitu dagin kelinci panggang. Ia menambahkan beberapa rempah serta cabagi di atasnya.


"JiěJiě, apa kita hanya akan memasak ini saja?" Tanya Min An ketika seldai meletakkan mangkuk beriai nasi di meja.


Yun Yi mengangguk mengiyakan. "Untuk saat ini aku hanya bisa mengajari ini. Namun, lain kali aku akan mengajari kalian hal lain."


Setelah makan, mereka segera pergi ke kamar Jendral Huang. Sesampainya di sana Jendral Huang tengah berbincang dengan beberapa laki-laki.


"Ayah." Yu Lin masuk. Ia menghampiri Jendral Huang.


"Bukankah Ayah akan membawa kami berkeliling pasal. Kenapa sekalang Ayah malah mengoblol dengan meleka." Yu Lin menunjuk satu persatu laki-laki yang ada di sana.


Jendral Huang menghela nafasnya. "Yu Lin, jangan tidak sopan. Mereka adalah menteri-menteri penting di kekaisaran ini." Ujar Jendral Huang.


"Aku tidak peduli. Pokonya Ayah halus pelgi belsama kami. Bukankah Ayah sudah janji?" Yu Lin tetap kekeh. Ia menarik Jendral Huang sekuat tenaga, walaupun itu tidak berpengaruh apa-apa bagi Jendral Huang.


"Kau sangat tidak sopan." Laki-laki yang memakai Hanfu hijau menatap sinis pada Yu Lin.


"Sangat mengganggu." Gumamnya.


Yu Lin menatap penuh rasa tidak suka pada laki-laki ber-Hanfu hijau itu. "Aku tidak peduli, Wle." Yun Yi berucap acuh. Ia menjulurkan lidahnya pada laki-laki yang seperinya berumur dua belas tahun itu.


"Kamu..." Laki-laki itu hendak menghampiri Yu Lin. Namun, segera di cegah oleh pria di samping nya.


"Xiao Wang." Pria ber-Hanfu ungu itu menggeleng. Laki-laki yang di panggil Xiao Wang itu mendengus, ia pun kembali duduk.


Mendengar panggilan yang di berikan Pria ber-Hanfu ungu itu, Yu Lin tertawa. "Hahaha. Mengapa kamu masih di panggil 'Xiao'? Padahal umulmu sepeltinya sudah memasuki dua belas tahun." Ujar Yu Lin penuh ejekan.


Wajah Xiao Wang memerah, menahan amarahnya. Karena tidak terima Xiao Wang pun berbicara. "Dari pada kau tidak bisa mengucapkan rrr."


Mata Yu Lin melotot. Ikh! Yu Lin tidak suka kamu." Yu Lin menunjuk Xiao Wang dengan jari telunjuknya. Wajahnya merah, sangat kontras dengan kulitnya yang putih.


"Tidak hanya tidak bisa mengucapkan 'R', ternyata kamu seperti tomat." Lagi-lagi Xiao Wang mengucapkan kalimat yang membuat Yu Lin marah.


"Ayah... Yu Lin tidak suka dia." Yu Lin menunjuk Xiao Wang. "Usil saja dia dali sini."


Jendral Huang tidak tahu harus berbicara apa. Jika ia mengusir Xiao Wang, otomatis secara tidak langsung ia mengusir perdana Mentri Gu, pria ber-Hanfu ungu.


...🔸️To Be Continued🔸️...