Reinkarnasi Sang Dewi Alam

Reinkarnasi Sang Dewi Alam
Bertemu lagi


"Sebenarnya ap yang terjadi?" Shi Wen menatap aneh pada bunga rambat yang tumbuh di luka tangan Ru-an.


Ini memang mirip dengan jurus yang pernah Xiao Sui perlihatkan dulu. Tapi, tanaman kali ini memiliki aura yang lebih kuat dari yang dulu.


Jika bunga rambat itu dulunya tidak mengeluarkan cahaya, bunga rambat yang kini tumbuh di luka Ru-an memancarkan cahaya keemasan yang cukup menyilaukan mata.


"Ru-an, kamu harus menghentikan mendarahan yang terjadi pada lukamu, jika kamu tidak menghentikannya, bunga itu akan menjalar ke area tubuhmu yang lain." Ujar Shi Wen, wajahnya menggelap tatapan matanya begitu rumit. Shi Wen terlihat panik tapi juga terlihat marah.


Tap tap tap


Dari arah belakang, sekumpulan orang datang. Ketika sudah dekat dengan Shi Wen, mereka berlutut dan memberi salam pada Shi Wen.


"Dewi, ada beberapa hal yang harus kami sampaikan." Ucap seorang wanita dengan pakaian jendral, yang berada di posisi paling depan.


"Tunda dulu, sekarang bantu aku panggilkan tabib untuk mengobati Ru-an." Shi Wen melambaikan tangannya, memerintahkan salah satu dari mereka secara tersirat, untuk mencari tabib.


"Kalau begitu, biar saya saja Dewi." Seorang pria dengan pakaian ungu segera menghilang dari barisan kelompok itu.


Setelah kepergian pria tadi, Shi Wen mendekat ke arah Ru-an, lalu menyimpan kepala laki-laki itu di kedua pahanya.


"Andai... jika saya adalah seorang Dewa." Ru-an berkata sambil memejamkan matanya.


"Mungkin, saya memiliki harapan, untuk memiliki anda." Sambungnya dengan suara lirih.


Shi Wen merasakan, kalau nafas Ru-an semakin tidak teratur. Wajahnya panik, dia menepuk-nepuk pipi Ru-an, sambil memanggil-manggilnya. "Hei, Ru-an? Hei?!"


Shi Wen mendongak dengan wajah merah. "Di mana si iblis itu? Hanya memanggil seorang tabib saja, mengapa begitu lama?!"


...> > > ✧✧✧ < < <...


...Pagi ini Yun Yi sudah bersiap untuk pergi ke dunia siluman. Para bawahannya meminta Yun Yi untuk membawa salah satu dari mereka, untuk menemani perjalanan....


Akan tetapi, Yun Yi menolak dengan keras. Walau sempat adu mulut dengan Dayang Niu, kini Yun Yi benar-benar akan pergi sendirian, ke dunia siluman.


"Dewi, jangan lupa. Anda harus menjaga pola makan, anda juga harus menjaga diri."


"Jangan lupa membawa peralatan medis, dan juga beberapa pil dan ramuan."


"Nanti anda jangan terlalu sibuk, luangkan waktu untuk bersenang-senang."


Sedari tadi Dayang Niu terus saja memberikan wejangan pada Yun Yi. Dan Yun Yi hanya mengangguk-angguk kepalanya saja, entah benar-benar mengerti atau supaya Dayang Niu bisa cepat berhenti berbicara.


"Sudah ya. Semua barang sudah aku simpan di dalam cincin ruang. Jadi, kamu bisa berhenti mengoceh."


Yun Yi meninggalkan Dayang Niu begitu saja. Dirinya mengabaikan teriakan demi teriakan yang di layangankan Dayang Niu.


"Ini selalu saja terjadi, jika aku bepergian sendiri. Mengapa Dayang Niu begitu bawel dengan hal kecil seperti ini? Bahkan ibuku saja tidak seberisik dia." Gerutu Yun Yi.


Ah... Yun Yi malah teringat dengan ibunya itu, Tianzhi. Bagaimana kasrnya sekarang? Apakah dirinya tengah di khawatirkan oleh wanita itu? Apakah dia juga akan menceramahinya jika dirinya berpergian sendiri seperti ini?


"Jangan berharap sesuatu yang tidak mungkin, Xiao Sui." Yun Yi menggeleng-gelengkan kepalanya, mengenyahkan bayangan-bayangan kalau Tianzhi menceramahinya seperti yang di lakukan Dayang Niu tadi.


Yun Yi dengan cepat melangkah keluar dari istana. Dirinya sudah menyerahkan semuan wewenang istana pada Jendral Li dan istrinya. Kini dirinya hanya perlu mengunjungi Desa Aidelwis dan meminta kepala desa untuk memperketat penjagaan.


Di depan gerbang, ada seekor ular besar yang tengah tertidur. Ketika Yun Yi semakin dekat, tiba-tiba ujar itu terbangun, dirinya menatap sesosok kecil yang berjalan dengan langkah tegap ke arahnya.


"Mahkluk rendah ini memberis alam pada Dewi-ku." Ular penjaga menundukkan kepalanya, memberi salam pada Yun Yi ketika wanita itu sudah dekat dengannya.


"Mmh." Yun Yi mengangguk, lalu melambaikan tangannya, menyuruh ular penjaga untuk tidak menunduk.


"Kita bertemu lagi, ya." Sapa Yun Yi, memulai percakapan.


"Benar. Dan sebuah kehormatan bagi saya, bisa bertemu dengan anda lagi. Melihat anda yang seperti ini, sepertinya ingatan anda sudah pulih." Ujar Ular penjaga.


"Kamu benar, aku sangat beruntung karena berkat seseorang aku bisa dengan cepat mendapatkan semua ingatanku."


Kepala ular penjaga terangguk-angguk. "Kalau boleh tahu, anda memiliki kerluan apa di dunia siluman?" Tanya Ular penjaga sambil membuka pintu derbang itu.


"Menemui seseorang." Jawab Yun Yi secara singkat.


Melihat kalau ular penjaga tidak terlihat memiliki niat untuk bertanya lagi, Yun Yi segera masuk ke dalam gerbang.


"Kalau begitu, sampai jumpa lagi." Sebelum menghilang sepenuhnya, Yun Yi melambaikan tangannya.


Yun Yi kini tengah berjalan di sebuah lorong gelap dengan udara yang cukup aneh, tidak ada aliran spiritual di udara, bahkan Yun Yi tidak merasakan adanya hembusan angin.


Setelah langkah ke dua puluh, kini Yun Yi sampai di dunia Siluman.


"Aku harus segera pergi ke kediaman orang itu." Gumam Yun Yi.


Langkah Yun Yi menuntunnya ke sebuah pasar besar yang sangat ramai. "Semua yang ada di sini tidak berubah." Gumam Yun Yi dengan senyuman.


Namun, ketika sudah melewati sebuah kedai teh besar. Mata Yun Yi membulat, ketika melihat banyaknya rakyat kecil yang menemis di pinggiran jalan.


Ada juga beberapa anak kecil yang memohon untuk di berikan sepotong kue pada seorang nona bangsawan dengan wajah angkuh.


"Lepaskan! Berani-beraninya, rakyat kecil sepertimu menyentuh Hanfu nona ini!" Secara kasar nona bangsawan itu mendorong anak kecil yang meminta-minta tadi.


"Xiăo Jiě, saya sangat lapar, sudah hampir empat hari saya belum makan. Tolong beri saya makanan, walau hanya sepotong kue saja, saya mohon." Anak itu bersujud di kaki nona bangsawan itu.


Namun dengan wajah jijik, nona bangsawan itu menendang anak kecil yang malang itu.


"Menjauh! Jangan dekat-dekat dengan nona ini. Kau begitu kotor." Nona bangsawan itu memandang rendah pada anak kecil yang meminta-minta itu.


"Tapi, Xiăo Jiě, saya benar-benar sangat lapar..." Anak kecil itu menangis, dirinya menatap sedih pada punggung nona bangsawan yang kini menghilang ke dalam kerumunan.


Hati Yun Yi terasa sakit saat melihat air mata yang keluar dari sudut mata anak itu. Dirinya menatap seorang nenek-nenek penjual bakpao, dan segera menghampirinya.


"Permis..."


"Nenek, saya ingin memborong semua bakpao milik anda."


Belum sempat Yun Yi berkata, sebuah suara lembut nan indah terdengar dari samping Yun Yi.


...🔸️To Be Continued🔸️...